Daerah BANJIR SUMATRA

Pemulihan Banjir Pidie Jaya, BNPB Targetkan Huntara Rampung Jelang Puasa

NU Online  ·  Kamis, 22 Januari 2026 | 20:00 WIB

Pemulihan Banjir Pidie Jaya, BNPB Targetkan Huntara Rampung Jelang Puasa

Hunian sementara (huntara) di Pidie Jaya. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Pidie Jaya, NU Online

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Aceh, Azwar A. Gani, menegaskan bahwa proses pemulihan korban banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya harus dilakukan secara bermartabat, adil, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, penanganan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis, sosial, dan spiritual masyarakat terdampak.


“Bencana bukan hanya merusak rumah, tetapi juga mengguncang batin, rasa aman, dan masa depan keluarga. Karena itu, pemulihan harus dilakukan dengan pendekatan kemanusiaan, bukan sekadar administratif,” ujar Azwar saat ditemui di Pidie Jaya, Rabu (21/2/2026).


Ia mengapresiasi langkah pemerintah dalam menyediakan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak. Namun demikian, Azwar mengingatkan agar proses relokasi dilakukan secara transparan, adil, serta tidak menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat.


“Kami di Ansor melihat huntara bukan sekadar bangunan, melainkan simbol kehadiran negara. Huntara harus benar-benar memberi rasa aman dan harapan baru, bukan sekadar memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain,” katanya.


Azwar juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan masyarakat dalam mempercepat proses pemulihan pascabencana.


“Di Aceh, nilai gotong royong dan solidaritas sangat kuat. Jika semua pihak bersatu, pemulihan akan lebih cepat, lebih hangat, dan lebih bermakna,” tambahnya.


Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, meninjau langsung pembangunan hunian sementara di Gampong Manyang Lancok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (21/2/2026).


Dalam kunjungannya, Suharyanto memastikan bahwa pemerintah menargetkan seluruh warga yang masih tinggal di tenda darurat, gedung pertemuan, sekolah, dan tempat ibadah yang tidak diperuntukkan sebagai hunian akan dipindahkan ke huntara sebelum bulan Ramadhan.


“Setiap kabupaten dan kota sudah membangun huntara. Sebelum puasa, seluruh masyarakat yang masih tinggal di tenda darurat dan tempat yang tidak layak huni akan dipindahkan ke huntara,” ujarnya.


Ia menjelaskan, pada tahap pertama, sebanyak 773 kepala keluarga di Pidie Jaya telah dipindahkan dari berbagai titik pengungsian ke huntara. Hunian sementara tersebut dinilai jauh lebih layak dibandingkan tenda darurat.


“Masyarakat bisa bertahan di sini sambil menunggu hunian tetap dibangun. Ini jauh lebih baik dibandingkan tinggal di tenda,” katanya.


Suharyanto juga menyebutkan bahwa sebagian warga terdampak masih tinggal di rumah kerabat atau keluarga besar. Namun, seiring tersedianya huntara, banyak di antaranya mulai memilih pindah ke hunian sementara yang disiapkan pemerintah.


“Mereka yang mengungsi ke rumah keluarga juga mendapatkan bantuan dana tunggu hunian (DTH), dan sebagian besar sudah disalurkan,” ungkapnya.


BNPB, lanjut Suharyanto, meminta pemerintah daerah agar membangun dua unit huntara bagi keluarga yang dihuni oleh dua kepala keluarga atau memiliki anggota lebih dari lima orang, demi menjaga kenyamanan dan kesehatan penghuni.


“Kebijakan ini juga harus diterapkan dalam pembangunan hunian tetap. Jika ada anak yang sudah menikah dan memiliki kartu keluarga sendiri, maka perlu disiapkan dua unit rumah,” tegasnya.


Bagi masyarakat yang tidak memiliki tanah, ia meminta pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota untuk menyiapkan lahan. Pembangunan hunian tetap nantinya akan dilakukan oleh BNPB bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman.


Menanggapi hal tersebut, mantan Ketua Ansor Pidie Jaya, Gus Masrur, menegaskan bahwa pendekatan pemulihan harus tetap berpihak kepada masyarakat kecil.


“Jangan sampai mereka yang paling menderita justru paling lama menunggu. Pemulihan harus cepat, adil, dan menyentuh sisi kemanusiaan,” katanya.


Ia memastikan GP Ansor Aceh siap terlibat aktif dalam pendampingan sosial, penguatan mental, serta pemulihan berbasis komunitas.


“Kami tidak ingin korban hanya dipulihkan secara fisik, tetapi juga bangkit secara mental, sosial, dan spiritual,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang