Badung, NU Online
Ahlussunah wal Jama'ah adalah faham keislaman murni yang dicontohkan Nabi, para sahabat, dan para pengikutnya. Di Nusantara ada banyak organisasi keislaman yang berpaham Aswaja, dan yang terbesar pada kenyataannya adalah Nahdlatul Ulama.
Untuk menguatkan paham paham Islam keindonesiaan, PC Pergunu Badung menggelar Bedah Buku Khazanah Aswaja karya Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Acara digelar di MI Raudlatul Mustarsyidin, Ahad (4/3).
Narasumber kegiatan dari tim penulis yaitu Ustadz Yusuf Suharto mengatakan diantaranya shalat tarawih dengan diimami satu imam, dan dengan dua puluh rakaat itu adalah gagasan Umar ibn Khatab. Tradisi itu tidak ditentang oleh para sahabat, dan berlanjut hingga kini di Mekah.
"Kita ini, NU tarawihnya itu dua puluh rakaat dan itu adalah tradisi para sahabat. Berarti kita ikut anjuran Nabi agar mengikuti Khulafaur Rasyidin," papar Yusuf.
Jadi, yang tidak 20 rakaat, lanjutnya, tidak bisa menyalahkan yang mengerjakan dua puluh rakaat. Demikian juga yang 20 rakaat tidak perlu menyalahkan yang 8 rakaat.
"Karena Nabi tidak menentukan jumlah shalat Qiyam Ramadhan. Namun, memang yang ditradisikan sahabat Nabi kemudian adalah 20 rakaat," ujarnya.
Selain itu, Aswaja dengan mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy'ari kemudian oleh para pengikutnya menetapkan sifat wajib Allah yang 20 sifat. Antara lain bahwa Allah itu tidak sama dengan makhluk itu dirumuskan dengan sifat mukhalafatu lil hawaditsi.Hal ini kembali kepada ayat muhkamat (ayat yang jelas artinya), laisa kamitslihi sya'un.
Ketua PC Pergunu Badung, Ispandi dalam sambutannya menyatakan bahwa dalam ber-Aswaja itu tidak cukup dengan semangat, tapi juga harus dengan bekal keilmuan.
Beraswaja tidak cukup dengan semangat dan militansi, tapi kita harus membekali dengan keilmuan Aswaja agar bisa menjawab dan mempertahankan tradisi amaliyah.
"Karena kami merasa perlu mengadakan bedah buku Khazanah Aswaja dengan mengundang tim narasumber Aswaja NU Center PWNU Jatim," katanya.
Acara dibuka oleh Ketua PW Pergunu Bali, Marjulin, dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Badung, Sekretaris PCNU Badung, utusan PC Pergunu, guru-guru dan masyarakat. (Muhlis/Kendi Setiawan)