Petani Cabai Rembang: Harga Tinggi Bantu Tutupi Biaya Produksi
NU Online · Kamis, 28 Mei 2026 | 20:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu dan momentum Hari Raya Idul Adha, kenaikan harga cabai setan membuat petani harus pandai mengatur pendapatan di tengah fluktuasi harga pasar.
Nadhief Shidqi, petani cabai asal Rembang, mengaku harga cabai setan tahun ini secara umum tergolong stabil tinggi.
“Di Rembang sempat menyentuh harga Rp80 ribu per kilogram pada akhir Ramadhan,” ungkap Nadhief kepada NU Online, Kamis (28/5/2026).
Ia menyebut, kenaikan harga cabai saat Idul Adha tidak terlalu signifikan memengaruhi fluktuasi harga karena sebelumnya harga sudah relatif tinggi.
“Sebelum Idul Adha harga per kilogram sekitar Rp50 ribu hingga Rp55 ribu. Saat hari raya mencapai Rp60 ribu,” tambahnya.
Menurut Nadhief, faktor cuaca sangat memengaruhi hasil panen cabai. Selain itu, biaya produksi juga meningkat ketika musim hujan berlangsung cukup ekstrem.
“Petani yang hari ini panen, tanamnya pada November-Desember ketika hujan sedang deras-derasnya. Biaya produksi bisa bengkak sampai Rp50 ribu per pohon,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam kondisi cuaca normal biaya produksi cabai hingga masa panen biasanya sekitar Rp20 ribu per pohon.
Karena itu, menurutnya harga cabai setan di kisaran Rp50 ribu ke atas masih tergolong wajar untuk menutup biaya produksi petani.
“Menurut saya selaku petani, bisa menutup biaya produksi saja sudah syukur,” katanya.
Nadhief juga menilai terjadi perubahan pola belanja masyarakat saat harga cabai naik karena daya beli ikut menurun.
“Saya menyiasati kondisi ini dengan menganalisis seberapa tinggi permintaan pasar dan mencari peluang untuk memenuhi kebutuhan pasar,” tandasnya.
Ia pun mengimbau masyarakat tetap membeli cabai secara bijak. “Tetaplah beli cabai. Wong belinya nggak pakai dolar saja kok,” ujarnya sambil bercanda.
Selain itu, ia berharap harga cabai tetap stabil agar petani maupun masyarakat tidak sama-sama dirugikan.
Hal serupa disampaikan Sutriman, petani cabai asal Desa Karasgede, Lasem. Ia mengatakan kenaikan harga cabai dipengaruhi meningkatnya permintaan pasar setelah Iduladha.
“Pasar biasanya minta banyak, sedangkan panenan petani sedikit karena faktor cuaca,” kata Sutriman kepada NU Online, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, harga cabai saat ini sebenarnya belum terlalu tinggi. Namun, kabar kenaikan harga tetap membuat petani merasa senang karena dianggap sepadan dengan jerih payah selama masa tanam hingga panen.
“Kalau lagi harga naik itu sebenarnya saya senang, walaupun bagi pembeli tidak. Karena bagi saya dapat untung sedikit saja sudah bahagia,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Para Kiai Sepuh ‘Turun Gunung’ Jelang Muktamar 1984
2
BEM PTNU Se-Nusantara Desak DPR RI Evaluasi Menyeluruh Tata Kelola Kejaksaan demi Perkuat Kepercayaan Publik
3
LF PBNU Sebut Suara Dentuman Semalam Berasal dari Meteor Jatuh
4
Ketum PBNU Sebut Tambakberas Jalan Tengah Terbaik untuk Muktamar Ke-35 NU
5
Hukum Memberi Amplop Setelah Shalat Jenazah
6
Kajian Hadits: Bolehkah Orang Fasik Melakukan Amar Makruf–Nahi Mungkar?
Terkini
Lihat Semua