Jember, NU Online
Bulan Ramadhan dijadikan momentum oleh Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur untuk memberi pengajian kitab safinatun najah kepada santrinya. Tidak sekadar mengaji, tapi santri diwajibkan paham betul kata perkata dari kitab tersebut.
“Standarnya tinggi. Santri harus bisa membaca, paham makna dan maksudnya, nanti juga ada evaluasi,” tukas pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Gus Raobith Qashidi kepada NU Online di Nuris, Rabu (8/5).
Menurutnya, pemilihan kitab kuning seperti safinatun najah merupakan bagian dari upaya Nuris untuk mengembalikan tradisi pesantren seperi semula, yaitu akrab dengan kitab-kitab kuning yang menjadi rujukan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).Selain itu, juga untuk membentengi santri dari pengaruh radikalisme.
“Itu bekal bagi santri dalam menghadapi tantangan zaman yang dipenuhi dengan paham-paham yang kian menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai keislaman, keaswajaan dan kepesantrenan,” jelasnya.
Khataman mengaji kitab Safinatun Najah itu diikuti oleh 2.000 santri, dimulai sejak awal Ramadhan hingga beberapa hari kedepan. Mereka berasal dari SMP, SMA, MA dan SMK Nuris. Pengajarnya mencapai 35 ustadz pilihan, yang nota bene sudah mendapat binaan langsung dari KH Muhyiddin Abdusshomad (pengasuh utama pesantren).
“Untuk khatam ngaji kitab itu (Safinatun Najah) dibutuhkan dua hingga tiga pekan kedepan. Bagi mereka yang lulus (khatam), bisa mengikuti wisuda kitab kuning di bulan Maulid Nabi,” urainya. (Aryudi AR).
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama
2
Qadha Puasa Ramadhan di Hari Tarwiyah dan Arafah, Tetap Dapat Pahala Puasa Sunnah?
3
Lafal Niat Puasa Tarwiyah Malam Ini dan Keutamaan Melaksanakannya
4
Sumatra Blackout: Dari Aceh hingga Lampung, Aktivitas Warga Lumpuh
5
NU Care LAZISNU Perkuat Program Ekonomi UMKM di Pringsewu Lampung
6
Alih Fungsi Lahan hingga Konflik Agraria Membayangi 10 Tahun Perjanjian Paris di Pulau Jawa
Terkini
Lihat Semua