Ramadhan, Santri Tebuireng Ngaji Kitab Tiap Usai Shalat Wajib
NU Online · Sabtu, 16 Maret 2024 | 14:30 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadziq alias Gus Fahmi. (Foto: NU Online/Syamsul Arifin)
A. Syamsul Arifin
Penulis
Jombang, NU Online
Santri Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur kian padat dengan aktivitas mengaji kitab-kitab klasik di bulan Ramadhan 1445 hijriah atau 2024 masehi. Baik santri putra atau santri, hampir waktu mereka habis dengan mengaji dan sekolah.
Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng, KH Fahmi Amrullah Hadziq alias Gus Fahmi menyampaikan, jadwal ngaji santri Pesantren Tebuireng pada bulan Ramadhan ini setidaknya lima kali dalam 24 jam, berlangsung setiap selesai shalat lima waktu. Kecuali santri putri yang terhitung empat kali.
"Jadwal ngaji para santri Tebuireng lima kali setiap habis shalat lima waktu. Sementara santri perempuan empat kali, karena waktu maghrib sangat singkat. Jadi kalau habis maghrib kami sarankan ngaji (Al-Qur'an) di masjid," ujar Gus Fahmi, Sabtu (16/3/2024).
Kitab yang dikaji pun cukup beragam. Mulai dari kitab yang terbilang kecil hingga kitab dengan ukuran tebal, seperti kitab Washaya, At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an, Ihya Ulumudin, hingga Shahih Bukhari.
Khusus kitab Shahih Bukhari ini adalah tradisi yang dimulai oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari di masanya dan diteruskan oleh santri-santrinya hingga sekarang dengan metode khataman.
"Kalau saya pribadi ngisi di Pondok Pesantren Putri Tebuireng ini dengan kitab-kitab karangan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, kitab-kitab yang kecil," jelas ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang ini.
Cucu Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari ini mengatakan, Pesantren Tebuireng berupaya mengisi bulan Ramadhan dengan memperkaya khazanah pengetahuan keagamaan untuk santri-santrinya melalui aneka kajian kitab klasik.
Kendati begitu, tidak berarti amalan-amalan sunnah Ramadhan seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, shalat malam, dan amaliah yang lain kemudian ditinggalkan.
"Ngaji kitab kuning memang tradisi khas pesantren. Dan di bulan Ramadhan biasanya banyak pesantren yang menerapkan ngaji kilatan, termasuk di Tebuireng ini dengan kitab yang beragam, hanya dibaca di bulan Ramadhan," ujarnya.
Menurutnya, kajian-kajian kitab di bulan Ramadhan sangat penting untuk para santri. Tidak saja sekadar untuk mengisi bulan Ramadhan, lebih dari itu juga sebagai bekal pengetahuan mereka agar lebih siap berperan dan turut membimbing masyarakat saat kembali ke rumahnya masing-masing.
Pasalnya, Pesantren Tebuireng tentu saja juga akan memberikan jadwal libur kepada santri sebelum di penghujung Ramadhan.
"Di Pondok Tebuireng ini insyaallah 19 Ramadhan atau tanggal 30 Maret sudah libur dan akan kambali lagi setelah lebaran," ungkap Gus Fahmi.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua