Sumenep, NU Online
Gedung PCNU Sumenep tiba-tiba banjir manusia. Bukan hanya ratusan, tetapi ribuan. Mereka tak lain adalah kaum sarungan atau santri. Mereka berkumpul di gedung NU untuk menyambut gembira penetapan Hari Santri Nasional. Selain itu, mereka juga ingin mengenang dan menghormati pejuang atau syuhada kemerdekaan Indonesia.<>
Bagi para santri, puluhan tahun silam lalu adalah sejarah yang terus meng-abadi di hati dan sanubari para santri. "Bagaimana dulu, para santri yang dikomandani oleh KH Hasyim Asy'ari hingga melahirkan Resolusi Jihad adalah fakta sejarah. Bagi kami, Hari Santri adalah surga para kaum sarungan," kata Royhan, salah satu santri dari pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Rabu (21/10) malam saat kirab santri.
Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu alumnus santri Al Amin, Rasyidi. Dia ikut kirab karena ingin mengenang perjuangan para kaum sarungan. "Maka sangat tepat langkah Jokowi menetapkan tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri Nasional. Sebab perjuangan para santri tak boleh dilupakan," ungkapnya.
Tak ayal, jika ribuan santri dari berbagai daerah dan pesantren memadati gedung PCNU Sumenep. Bahkan sepanjang jalan Trunojoyo hingga memanjang 3 kilometer.
Ribuan santri itu berasal dari seluruh pondok pesantren. Pula dari seluruh banom NU. Mereka berjalan dari Gedung PCNU ke depan Masjid Jami'. Tampak hadir Kiai Imam Hasyim, Habib Muhammad bil Faqih, Ketua PCNU, dan jajaran Syuriah seperti KH Zuhri Abdul Mughni, KH Sofyan dan Bupati Sumenep, KH. A Busyro Karim yang secara istimewa menerima bendera kirab santri.
Ketua PC NU Sumenep, A Panji Taufiq dalam sambutannya mengatakan bahwa selama ini perjuangan santri seolah terlupakan. Bahkan hanya karena sarungan, kita selalu terpinggirkan.
"Maka saatnya perjuangan santri dikenang. Mari setiap tanggal 22 Oktober kita kenang dan hormati para pejuang atau syuhada yang dikomandani oleh KH Hasyim Asyari dengan ditandai lahirnya fatwa resolusi jihad NU dan hari pahlawan," katanya. (M Kamil Akhyari/Mukafi Niam)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
5
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua