Daerah

Rumah Sastra Ahmad Tohari, Ruang Literasi dan Inspirasi Generasi Muda

NU Online  ·  Selasa, 9 Juni 2026 | 10:00 WIB

Rumah Sastra Ahmad Tohari, Ruang Literasi dan Inspirasi Generasi Muda

Rumah Sastra Ahmad Tohari dapat dikunjungi berbagai kalangan termasuk anak-anak (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)

Banyumas, NU Online

Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah terus berkembang menjadi pusat literasi yang menarik minat masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan generasi muda. Berawal dari perpustakaan pribadi milik sastrawan Ahmad Tohari, tempat ini kini hadir dengan fasilitas yang lebih representatif setelah mendapatkan program revitalisasi dari Kementerian Kebudayaan.


Petugas Rumah Sastra Ahmad Tohari, Bahrul Girinata, mengatakan bahwa perpustakaan tersebut mulai aktif beroperasi pada awal tahun 2026. Kehadirannya menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk mengakses berbagai bahan bacaan dari beragam disiplin ilmu.


“Buku yang tersedia cukup lengkap, mulai dari buku anak, politik, hukum, sosial, sastra, kesehatan, hingga koleksi skripsi,” ujar Bahrul saat NU Online mengunjungi perpustakaan pada Jumat (5/6/2026).


Menurut Bahrul, perpustakaan dibuka setiap Jumat, Sabtu, dan Ahad mulai pukul 09.30 hingga 15.00 WIB. Layanan ini terbuka untuk umum tanpa biaya. Namun, pengunjung yang ingin meminjam buku diwajibkan mendaftar sebagai anggota perpustakaan.


Tak hanya menyediakan layanan membaca, Rumah Sastra Ahmad Tohari juga menggelar berbagai kegiatan untuk meningkatkan minat literasi masyarakat, di antaranya pemutaran film bersama bagi anak-anak serta diskusi buku rutin yang melibatkan anggota perpustakaan.


Untuk menjangkau generasi muda, khususnya Generasi Z, pengelola aktif memanfaatkan media sosial. Berbagai kegiatan dan program perpustakaan dipublikasikan melalui konten digital guna menarik perhatian anak-anak muda, baik dari sekitar Banyumas maupun luar daerah.


Respons masyarakat terhadap keberadaan rumah sastra Ahmad Tohari, kata Bahrul, sangat positif. Tingginya antusiasme pengunjung terlihat dari data buku tamu yang mencatat kunjungan rutin masyarakat untuk membaca maupun mengikuti kegiatan yang diselenggarakan.


“Selain membaca, banyak juga pengunjung yang datang karena ingin bertemu Pak Ahmad Tohari untuk meminta tanda tangan atau berfoto bersama,” katanya.


Berawal dari perpustakaan pribadi

Sastrawan Ahmad Tohari menjelaskan bahwa Rumah Sastra Ahmad Tohari merupakan pengembangan dari perpustakaan sederhana yang sebelumnya ia dirikan secara mandiri. Sebelum bertransformasi menjadi rumah sastra, tempat tersebut dikenal sebagai Taman Bacaan Masyarakat.


“Dulu saya membuat rumah sastra sederhana. Setelah mendapat bantuan revitalisasi dari Kementerian Kebudayaan, dibangunlah fasilitas yang lebih memadai selama sekitar tiga bulan,” tutur penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut.


Menurut Ahmad Tohari, keberadaan bangunan baru ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengunjung, tetapi juga berhasil menarik perhatian para pelajar untuk lebih dekat dengan dunia buku dan literasi.


Koleksi perpustakaan juga terus bertambah melalui sumbangan berbagai pihak. Salah satu penyumbang awal adalah penyair Taufiq Ismail yang mengirimkan sejumlah buku karyanya untuk dibaca masyarakat.


Selain itu, Ahmad Tohari membuka kesempatan bagi para penulis muda untuk menitipkan karya mereka di perpustakaan tersebut agar dapat diakses oleh lebih banyak pembaca.


“Saya menganjurkan para penulis muda untuk menitipkan karya di sini supaya dibaca orang lebih banyak. Sudah ada beberapa yang mengikuti anjuran itu,” ujarnya.


Menumbuhkan generasi penulis baru

Ahmad Tohari berharap Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari dapat menjadi ruang yang menyemangati lahirnya penulis-penulis baru dari Banyumas dan daerah sekitarnya.


Meski mengakui perkembangan teknologi telah mengubah cara generasi muda berkarya melalui platform digital, ia tetap mendorong para penulis untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku cetak sebagai bagian dari dokumentasi pengetahuan.


“Walaupun karya disebarkan secara digital, sebaiknya tetap menulis buku agar dapat didokumentasikan dan dibaca lebih panjang oleh generasi berikutnya,” katanya.


Rumah sastra ini juga dilengkapi ruang diskusi dan area kegiatan seni yang kerap dimanfaatkan pelajar, mahasiswa, serta komunitas literasi untuk bertukar gagasan. Ahmad Tohari mengaku bangga melihat anak-anak muda datang untuk mendiskusikan buku-buku yang tersedia di perpustakaan.


“Sering mahasiswa atau pelajar datang berdiskusi tentang buku yang mereka ambil dari koleksi di sini. Itu membuat saya sangat berbangga,” ujarnya.


Saat ini, Rumah Sastra Ahmad Tohari juga telah terhubung dengan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas sehingga berbagai aktivitas dan koleksinya dapat diakses melalui jaringan literasi daerah.


Dengan keberadaan fasilitas tersebut, Rumah Sastra Ahmad Tohari diharapkan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, diskusi, dan pengembangan budaya literasi bagi masyarakat Banyumas.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang