Daerah

Salah Ambil Guru Agama Sama Saja Disuntik Oleh Bukan Dokter

Senin, 6 Agustus 2018 | 14:45 WIB

Jakarta, NU Online
Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Taufik Damas menerangkan pentingnya mempelajari agama Islam dari mereka yang ahli tentang agama Islam. Mereka tidak lain adalah ulama, pewaris sah agama Allah dari para nabi. Orang yang belajar agama Islam dari mereka yang tidak ahli bisa mendapat musibah sebagaimana orang berobat kepada bukan dokter.

Demikian disampaikan Kiai Taufik di hadapan peserta Diklatsar Terpadu Dasar Banser Angkatan Pertama PAC GP Ansor Kebayoran Lama di Yayasan Darul Maarif Al-Khalidiyyah, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat-Ahad, (3-5/8).

Ia mengatakan bahwa sekarang ini banyak orang belajar agama bukan dari ahlinya. Ini yang menambah kegaduhan dunia. Tidak sedikit mereka yang merasa benar sendiri dan menyalahkan cara beragama muslim lainnya.

Ia mengajak segenap kader Ansor dan Banser untuk memerhatikan siapa guru yang layak mengajarkan agama Islam bagi mereka.

“Siapa yang mau disuntik oleh orang yang bukan dokter?” kata Kiai Taufik Damas di hadapan 47 peserta DTD Banser PAC GP Ansor Kebayoran Lama.

Menurutnya, warga NU sejak dulu sangat selektif terkait guru yang membimbing agama Islam untuk mereka. Nahdliyin tidak sembarangan mengambil orang-orang tertentu sebagai guru agama Islam mereka.

Selektivitas ini membedakan warga NU dan mereka yang bukan NU. Warga NU memberikan tempat bagi kepakaran dalam pemilihan guru agama Islam.

“Bedanya NU dan bukan NU adalah mereka (nahdliyin) belajar agama dari ahlinya, yaitu lembaga pesantren dan para kiai,” kata Kiai Taufik.

Ia menambahkan bahwa para kiai yang menjadi panutan warga NU adalah mereka yang terdidik secara tertib dan disiplin dalam menguasai perangkat-perangkat yang dibutuhkan dalam memahami Al-Quran dan hadits. (Alhafiz K)