Semangat Kebersamaan Warnai Penyembelihan Hewan Kurban di Batang
NU Online · Kamis, 28 Mei 2026 | 19:30 WIB
uasana warga Dukuh Paten, Desa Rowosari, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah saat mengelola daging kurban pada Rabu (27/5/2026). (Foto: NU Online/ M Asrofi)
Muhammad Asrofi
Kontributor
Batang, NU Online
Beberapa sapi tampak berdiri tenang di lahan milik warga yang berada tepat di sebelah Masjid Baitul Mahmud, Dukuh Paten, Desa Rowosari, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Di dekatnya, beberapa ekor kambing dituntun warga menuju area penyembelihan.
Pagi itu langit tampak cerah. Sinar matahari yang menembus celah pepohonan dan rumpun pisang menghadirkan bayangan panjang di halaman kampung.
Suasana desa terasa hidup. Mulai dari anak kecil, bayi yang digendong ibunya, para ibu rumah tangga, pemuda, hingga orang dewasa berkumpul di pinggir jalan sambil menyaksikan persiapan penyembelihan hewan kurban.
Beberapa warga tampak sibuk mengikat tali pada kaki sapi, sementara yang lain menyiapkan bambu, terpal, dan mengasah pisau. Di sudut area, sejumlah pemuda menggali lubang untuk tempat mengalirkan darah hewan kurban.
Suara obrolan warga saling bersahutan, berpadu dengan embikan kambing dan sesekali lenguhan sapi yang terdengar keras. Beberapa bapak memberikan arahan sambil bercanda, menghadirkan suasana hangat khas kehidupan desa. Ada pula warga yang membantu menenangkan sapi sebelum disembelih agar proses berjalan lancar.
Tak berselang lama, seekor sapi mulai direbahkan. Suara takbir terdengar di antara kerumunan warga. Sejumlah warga memegang tali dengan erat, sementara yang lain membantu menjegal tubuh sapi agar tetap tenang.
“Tarek sitik maning! (Tarik sedikit lagi).”
“Yo… siji, loro, telu! (Ya, satu, dua, tiga).”
“Wes, wes kuat! (Sudah, sudah kuat).”
Peluh mulai membasahi wajah para warga yang sejak pagi sibuk bekerja. Namun, tak satu pun terlihat mengeluh.
Setelah proses penyembelihan selesai, aktivitas semakin ramai. Sejumlah orang dewasa dan pemuda dengan cekatan mulai menguliti sapi, sementara warga lain membantu memotong bagian-bagian daging agar lebih mudah dipisahkan.
Di sisi lain, beberapa warga membawa jeroan menuju sungai untuk dibersihkan. Sementara itu, di atas terpal oranye yang membentang di halaman berukuran sekitar 12 x 5 meter, tumpukan daging kurban mulai tersusun rapi.
Sejumlah warga tampak sibuk menimbang dan membungkus daging ke dalam kantong plastik putih. Tangan mereka bergerak cepat membagi bagian demi bagian agar seluruh warga mendapatkan jatah secara merata.
Di salah satu sudut pelataran, seorang pria berbaju merah abu-abu tampak serius mencatat jumlah pembagian daging di atas lembaran kertas putih. Di sampingnya, beberapa kupon pembagian tersusun rapi bersama sebuah teko perak dan sebungkus rokok di atas meja kayu panjang yang juga dijadikan bangku.
Di belakangnya, deretan pria duduk beralaskan lantai sambil sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ada yang melipat kantong plastik, menghitung jumlah paket daging, hingga bercakap santai sambil menikmati teh hangat dan es teh.
Suara ketukan ritmis pemotongan tulang terdengar dari kejauhan, berpadu dengan obrolan warga yang saling bersahutan. Sesekali gelak tawa pecah ketika salah seorang melempar candaan ringan.
Baca Juga
Kapan Batas Penyembelihan Hewan Kurban?
Riyan, salah satu warga RT 04 Dukuh Paten, mengatakan kegiatan kurban seperti ini menjadi cara warga menjaga hubungan sosial di tengah kesibukan sehari-hari.
Menurutnya, momen Iduladha membuat warga yang sehari-hari jarang bertemu bisa kembali berkumpul dan bekerja bersama.
Hal senada disampaikan Samuri, warga lain yang sejak pagi ikut membantu pemotongan daging. Tangannya masih memegang pisau kecil ketika bercerita bahwa kegiatan seperti ini menjadi kesempatan langka untuk saling bertemu antartetangga.
“Kalau nggak ada kegiatan seperti ini, sesama tetangga kadang belum tentu ketemu. Kalau nggak ada tahlilan juga belum tentu kumpul. Jadi momen seperti inilah warga bisa ketemu,” katanya.
Bagi warga Dukuh Paten, gotong royong saat Iduladha bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga perekat hubungan sosial di tengah perubahan zaman yang semakin individualistis.
Ketua panitia kurban Dukuh Paten, Sunarto, mengatakan bahwa tahun ini terdapat tiga ekor sapi dan enam kambing yang disembelih. Menurutnya, seluruh proses penyembelihan hingga distribusi daging tidak akan cepat selesai tanpa gotong royong warga.
“Kalau dikerjakan panitia saja ya tidak cepat selesainya. Alhamdulillah warga mulai dari RT 01 sampai 04 ikut membantu,” katanya.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha: Momentum Menguatkan Kepedulian Antarwarga
2
Inilah Lafal Bilal Shalat Idul Adha
3
Petunjuk Pelaksanaan Shalat Idul Adha
4
Tips Mengolah Daging Kurban agar Empuk dan Tidak Alot
5
BGN Bukan Kementerian, Penggunaan Anggaran Pendidikan untuk MBG Dinilai Janggal
6
Boleh Bagikan Daging Kurban untuk Non-Muslim dengan Syarat
Terkini
Lihat Semua