Semarak Muktamar Ke-35 NU, LTN PCNU dan Pesantren Al-Muhajirin 3 Tambakberas Launching dan Bedah 4 Buku Sekaligus
NU Online · Ahad, 30 Agustus 2026 | 16:10 WIB
Launching dan Bedah Buku di Ribath Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum, Ahad (30/8/2026). (Foto: NU Online/Miftakhul Jannah)
Miftakhul Jannah
Kontributor
Jombang, NU Online
Lembaga Ta'lif wan Nasyr (LTN) PCNU Kabupaten Jombang bekerja sama dengan Ribath Al-Muhajirin 3 Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menyemarakkan Muktamar ke-35 NU dengan menggelar launching dan bedah empat buku sekaligus pada Ahad (30/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ribath Al-Muhajirin 3 ini dihadiri oleh jajaran dzurriyah pesantren, santri, alumni, serta para penulis. Empat karya yang dibedah mencakup literatur syarah tasawuf, rekam jejak tokoh bangsa, hingga dokumentasi sejarah ulama lokal.
Buku pertama yang dibedah adalah syarah kitab tasawuf Al-Gunyah li Tholibi Thoriqil Haq karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang ditulis oleh akademisi Mukti Ali Al-Qusyairi. Penulisan syarah ini didasari atas kesadaran bahwa keilmuan tasawuf memerlukan penafsiran konteks modern untuk menyingkap makna yang tersembunyi.
"Tasawuf itu dikarang sudah beberapa abad yang lalu dengan problematika yang dihadapi di masa itu, nah, problematikanya berbeda dengan yang kita hadapi sekarang, maka dari itu butuh syarah, butuh pengembangan pembahasan," ujar Mukti Ali Qusyairi.
Buku kedua yaitu kompilasi berjudul KH Abdul Wahab Hasbullah Sang Guru Murabbi. Buku ini merangkum perjalanan hidup dan nilai-nilai keteladanan pendiri NU berdasarkan sudut pandang para alumni santrinya.
"Buku ini sebenarnya adalah buku kompilasi hasil persembahan dari para alumni Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 yang ingin memotret Kiai Abdul Wahab Chasbullah dalam rangka untuk takriman, mengenalkan Kiai Wahab kepada Syekh Mu'taz. Sehingga dimensi-dimensi yang disampaikan di dalamnya tentu sangat beragam," jelas KH Abdul Latif Malik, salah satu dzurriyah Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Selanjutnya, forum mengulas buku Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH A Hamid Hasbullah. Karya ini mendokumentasikan rekam jejak, amalan, serta keadilan sosok Mbah Hamid yang dinilai relevan dengan tantangan zaman saat ini.
"Kita itu sering menempatkan sesuatu berdasarkan keinginan, sesuatu yang sebenarnya bukan posisinya. Itu keinginan kita. Tapi Mbah Hamid tidak," ungkap KH Ainur Rafiq, akademisi sekaligus pembedah buku Sendang Winotan.
Agenda bedah buku ditutup dengan peluncuran 21 Masyayikh NU Jombang, sebuah antologi yang merekam jejak para kiai Jombang yang telah wafat. Buku ini merupakan hasil sayembara penulisan generasi muda yang diinisiasi LTN PCNU Jombang sekaligus mewujudkan cita-cita almarhum KH Abdul Nashir Fattah (Rais Syuriah PCNU Jombang 1992–2022).
"Kiai-kiai yang kalau bahasanya tadi mastur-mastur, itu kan belum banyak ditampilkan di publik. Ternyata pada penelitian buku kali ini di tahun 2025, terus kemudian kita launching di tahun 2026, itu akhirnya terbukti juga cita-cita lama tersebut," kata sejarawan Jombang, Ahmad Fathoni.
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
LPJ PBNU 2021–2026 Diterima Aklamasi, Gus Yahya Sampaikan Terima Kasih dan Minta Maaf
3
Dijual Setan Muktamar
4
Gus Yusuf Maju sebagai Caketum PBNU, Klaim Tak Langgar AD-ART NU
5
Khutbah Jumat: Mengambil Teladan dari Model Kepemimpinan Nabi
6
Khutbah Jumat: Ketika Manusia Merusak Alam, Saatnya Meneladani Rasulullah Saw
Terkini
Lihat Semua