Jember, NU Online
Salah satu ciri khas sekaligus keunggulan NU adalah penekanan sikap wasthiyah (moderat) yang merupakan bagian dari ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Tidak hanya dalam menyikapi persoalan kebangsaan sebagaimana selama ini kerap diperbicangkan. Namun dalam masalah tauhid, sikap moderat juga digunakan.
“Dalam masalah apapun, NU selalu mengambil peran wasathiyah, termasuk dalam terori kasab (usaha),” ucap Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat mengisi pengajian Aswaja di aula kantor PCNU Jember, Selasa (9/7).malam.
Menurutnya, dalam teori kasab, terdapat dua kelompok besar yang pemikirannya ‘saling’ berhadapan satu sama lain. Yaitu kelompok Qodariyah dan Jabariyah. Menurut Jabariyah, manusia tidak punya kekuatan. Manusia tak ubanya bagai wayang yang bisa bergerak jika digerakkan oleh dalangnya, sehingga tak punya kreasi, karena kekutannya berada di tangan sang dalang (Allah).
Ironisnya, dengan pemahaman yang demikian itu, kelompok Jabariyah pernah mengambil legitimasi terhadap perbuatan sewenang-wenang penguasa yang disebutnya semua adalah atas kehendak Allah.
“Jadi meskipun penguasa berbuat lalim masih ditoleransi dengan menyandarkan pada pemahaman bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah,” terangnya.
Sedangkan kelompok Qodariyah memandang manusia sebagai pelaksana tunggal dalam memanfaatkan kekuatannya yang diberikan oleh Allah. Jadi apapun yang dilakukan oleh manusia tidak ada hubungannya dengan kehendak Allah, karena perbuatan manusia adalah urusan manusia sendiri.
“Nah, NU dengan Aswajanya berada di antara dua kelompok ini,” tukasnya.
Gus Aab, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa manusia memang diberi kebebasan untuk melakukan apapun, namun kekuatannya tetap di bawah bayang-bayang kekuasaan Allah. Sehingga usaha apapun yang dilakukan, dan apapun yang terjadi bukan semata-mata karena usaha manusia tapi juga ada campur tangan kehendak Allah.
Dikatakannya, ada rumusan yang sangat elok dari Abul Hasan Al-Asy’ari terkait dengan teori kasab. Al-Asy’ari mengimbau agar manusia selalu percaya kepada kekuatan dirinya tanpa mengabaikan kemahakuasaan Allah, dengan kalimat yang bijak: Jangan pikirkan sejauh mana pengaruh takdir terhadap usaha yang akan anda lakukan, dan jangan pula anda berpikir sejauh mana pengaruh usaha yang anda lakukan terhadap hasil yang akan dicapai.
“Jika usaha menggunakan format pemikiran Al-Asy’ari, maka manusia tak akan stres jika usahanya gagal, dan tak akan sombong jika usahanya berhasil,” pungkasnya. (Aryudi AR)
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
4
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
Terkini
Lihat Semua