STIT Jembrana, Berangkat dari Keprihatinan Tokoh NU
NU Online · Ahad, 30 Juni 2019 | 00:00 WIB
Jembrana, NU Online
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Jembrana, namanya. Perguruan tinggi yang biasa disebut STIT Jembrana ini merupakan buah dari keprihatinan sejumlah tokoh masyarakat dan pengurus NU di Kabupaten Jembrana, Bali.
Betapa tidak, sudah cukup lama umat Islam di Jembrana yang mayoritas Nahdliyin merasa tidak punya saluran yang linier setelah lulus sekolah menegah atas (SMA). Memang di Jembrana dan sekitanya ada sejumlah perguruan tinggi, namun dari sisi akidah tidak linier. Karena itu, selama sekian tahun, warga yang lulus SMA atau yang sederajat, harus menyeberang laut jika ingin kuliah di perguruan tinggi Islam, misalnya di Malang, Yogyakarta, Jember dan sebagainya. Namun itu tidak ideal, karena butuh rogohan kocek yang cukup dalam.
Mereka sesungguhnya menginginkan perguruan tinggi yang selaras dengan visi keagamaannya, khususnya ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Jembrana.
Keinginan tersebut dibaca oleh para tokoh masyarakat dan pengurus NU Cabang Jembrana. Maka akhirnya mereka sepakat mendirikan perguruan tinggi Islam.
“Prosesnya panjang tapi akhirnya STIT Jembrana bisa berdiri,” ujar Ketua STIT Jembrana, H Tafsil Saifuddin Ahmad di Jembrana, Sabtu (29/6).
Menurutnya, November 2006 PCNU Kabupaten Jembrana mulai membicarakan pendirian sebuah perguruan tinggi. Gagasan awalnya mereka sepakat untuk untuk mendirikan STAIS (Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta).
“Namun setelah para penggagas melakukan studi komperatif di sejumlah perguruan tinggi Islam swasta di pulau Jawa, disepakati namanaya STIT Jembrana,” lanjut Tafsil.
Penggagas itu berasal dari tokoh masyarakat dan tokoh Nahdliyin, antara lain adalah Imam Turmudzi, Tafsil Saifuddin Ahmad, Asroruddin, H. Zahruddin, Fathul Bari, Azizuddin, Masduki, Kiai Ahmad Damanhuri, H. Mustain, dan Eko Priyanto.
Selanjutnya mereka memberi mandat kepada LP. Ma’arif Cabang Jembrana untuk mengurus segala sesuatunya, perijinan hingga rencana lokasi.
“Jadi STIT Jembrana sepenuhnya milik NU, dalam hal ini PC LP Maarif NU Jembrana,” jelas Tafsil.
Semula, STIT Jembrana akan membuka tiga program studi, yaitu Pendidikan Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam dan Tadris Bahasa Inggris. Namun setelah dilakukan visitasi oleh petugas Departemen Agama RI (12 Mei 2007), maka hanya dua program studi yang disetujui. Yaitu Studi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab.
“Kalau dilihat dari SK Departemen Agama RI, kampus STIT Jembrana berdiri tahun 2007,” lanjutnya.
Sebagai kampus NU, Aswaja menjadi mata kuliah wajib untuk seluruh mahasiswa STIT Jembrana, khususnya bagi mereka yang telah duduk di semester VI.
“Di samping mata kuliah berbasis NU, ada mata kuliah Aswaja juga wajib,” kata Tafsil.
Dengan segala keterbatasan, STIT Jembrana dikelola secara sungguh-sungguh demi melahirkan intelektual NU yang andal dan kader-kader NU yang mumpuni.
Dan tanpa dinyana STIT Jembrana memperoleh penghargaan berupa Kopertais Award 2019 untuk tingkat Sekolah Tinggi pada kategori Pengelolaan Sumber Daya Manusia.
“Penghargaan itu telah kami terima sebulan yang lalu,” pungkas Tafsil. (Red: Aryudi AR)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
5
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
6
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
Terkini
Lihat Semua