Tanggal Tua Ekonomi Makin Berat, Ibu Rumah Tangga di Rembang Kurangi Lauk demi Bertahan
NU Online · Jumat, 29 Mei 2026 | 16:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Berkenaan dengan kondisi ekonomi yang fluktuatif, kenaikan harga pangan membuat para ibu rumah tangga resah, dan harus pandai mengelola pengeluaran keluarga.
Nur Maliya Farkhanah, ibu rumah tangga sekaligus pendiri Bimbel Myma Edu Sumbergirang, Lasem, Rembang, mengaku, menjelang akhir bulan pengeluaran setiap harinya hampir sama. Hanya saja karena pemasukan yang setiap harinya tidak sama maka perlu kontrol pengeluaran agar tetap stabil.
"Apalagi setelah hari raya qurban, bumbu dapur seperti cabai 50 persen terasa lebih mahal," ungkap Maliya kepada NU Online, Kamis (28/5/2026).
Di saat kondisi seperti itu, ia kadang-kadang mulai mengurangi pembelian lauk tertentu saat memasuki tanggal tua "Saya dan suami lebih sering beli telur untuk stok aman saja dan sering kali saya memilih masakan yang simpel seperti tempe, telur, oseng sayuran sederhana," paparnya.
Menurut Maliya, alternatif membeli kebutuhan dapur secara eceran justru membantu mengatur keuangan saat tanggal "Saya suka sering belanja di dekat rumah dibanding beli di minimarket," terangnya.
Lebih dalam, ia menceriakan bahwa kondisi harga bahan pokok terhadap tabungan atau uang pegangan keluarga berpengaruh pada penghasilan. "Karena sudah tentu ketika harga serba naik, mempengaruhi putaran perekonomian," tandasnya.
Sementara itu, Vina, ibu rumah tangga sekaligus guru salah satu sekolah dasar negeri Lasem, mengaku, untuk soal belanja, ia tidak memperhatikan betul harga barang.
"Memang saya tidak begitu memperhatikan betul harga barang, etapi kemarin saat diapers anak habis agak kaget karena beli sebelumnya harganya tidak semahal itu," ucap Vin, Jumat (29/5/2026).
Ia melihat kenaikannya hampir naik mencapai Rp30 ribu dari bulan lalu. Karena saat di cek ulang, harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak, bawang merah, cabai juga mengalamai kenaikan.
Dia merasa harga kebutuhan pokok belakangan ini masih tinggi, apalagi di saat waktu pertengahan bulan, beberapa bahan pokok seperti telur dan minyak, cabai, beras harganya mulai naik.
"Minyak, bawang, cabai, beras. Minyak sudah hampir Rp 45 ribu, bawang seperempat Rp 15 ribu biasanya Rp 10 ribu, beras juga naik 1000-2000 per kilogram," tambahnya.
Baginya, memilih lauk dan tetap memperhatikan kadar gizi juga sangat diperlukan. Disamping itu, memasak bumbu-bumbu dikurangi meskipun rasanya agak hambar demi menghemat pengeluaran. "Biasanya saya ganti lauk seperti daging sapi atau ayam diganti telur. Kalau ikan-ikan masih bisa dibeli," sahutnya.
Mengganti lauk yang berharga tinggi dengan yang lebih ekonomis contohnya telur tadi, demikian halnya dalam memilih dan mengolah makan supaya tidak bosan.
"Bumbu-bumbu seperti bawang merah atau cabai yang mahal harganya agak dikurangi pemakaiannya," ungkapnya.
Selain itu, ia juga kerap membeli bahan pokok di pasar tradisional karena jarak rumah yang begitu dekat, sebab lebih hemat waktu dan tenaga.
Ia mengaku cenderung lebih selektif dalam membeli barang benar-benar sangat memikirkan kebutuhan utama. "Apalagi sebentar lagi bulan Juli masuk tahun ajaran baru harus mikir persiapan anak sekolah pasti pengeluaran sangat banyak," tandasnya.
Selama menjadi pekerja dan ibu rumah tangga, ia mengelola uang di awal bulan. "Jadi uang belanja untuk makan sehari sudah ada posnya, kalau harga naik dan terpaksa tidak cukup terkadang tetap ambil uang dari dana darurat," pungkas Vina.
Dengan demikian, bagi Vina, dana darurat tetap aman dan bisa digunakan apabila ada keperluan yang tidak terduga.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Tanda Shalat Kita Diterima
2
Khutbah Jumat: Haji dan Pesan Kesetaraan Manusia di Hadapan Allah
3
Khutbah Idul Adha: Momentum Menguatkan Kepedulian Antarwarga
4
Khutbah Jumat: Menjadi Hamba Sejati melalui Rangkaian Ibadah Haji
5
Boleh Bagikan Daging Kurban untuk Non-Muslim dengan Syarat
6
Inilah Lafal Bilal Shalat Idul Adha
Terkini
Lihat Semua