Tenda Dibongkar, Bantuan Belum Tiba: Kisah Imum Gampong Bale Panah Bertahan di Tengah Ketidakpastian Pascabanjir
NU Online · Selasa, 31 Maret 2026 | 18:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Tenda itu kini telah tiada. Tempat yang dahulu menjadi satu-satunya perlindungan bagi korban banjir di Gampong Bale Panah, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, kini hanya menyisakan kenangan. Bagi Tgk Muhammad (40), pembongkaran tenda bukan akhir dari penderitaan, melainkan awal dari ketidakpastian yang lebih panjang.
Ia adalah Imum Gampong Bale Panah, sosok yang selama ini memimpin ibadah dan menjadi rujukan masyarakat. Namun kini, ia justru menjadi bagian dari korban yang belum tersentuh bantuan.
“Seminggu sebelum Lebaran, petugas BNPB datang dan meminta semua tenda dibongkar,” ujarnya, Sabtu lalu.
Keputusan tersebut diambil karena sebagian korban telah menerima Dana Tunggu Hunian (DTH) dan diminta mencari tempat tinggal sendiri, termasuk dengan menyewa rumah. Namun, tidak semua korban mendapatkan bantuan yang sama.
“Saya ini korban, tapi sampai sekarang belum menerima bantuan apa pun,” katanya lirih.
Bertahan di Ruang Sempit
Setelah tenda dibongkar, Tgk Muhammad bersama keluarganya tidak memiliki banyak pilihan. Tanpa bantuan dan tanpa rumah, ia akhirnya mengungsi di kantor TK Bale Panah.
Bangunan sederhana itu kini menjadi tempat berlindung. Jauh dari kata layak, tetapi cukup untuk bertahan sementara.
Empat bulan telah berlalu sejak banjir besar pada akhir November 2025 melanda wilayah tersebut. Rumahnya hilang, harta benda tak tersisa, dan kehidupan berubah drastis. Namun hingga kini, bantuan yang dijanjikan belum juga ia terima.
Bantuan yang dimaksud meliputi Dana Tunggu Hunian (DTH), jaminan hidup (jadup), serta bantuan sosial lainnya. Semua itu masih sebatas harapan. “Di kabupaten lain kami dengar sudah cair. Kenapa di Bireuen belum?” ujarnya.
Kondisi ini menimbulkan rasa ketidakadilan di kalangan korban. Di sejumlah daerah lain di Aceh, bantuan mulai disalurkan, sementara di Bale Panah masih banyak warga yang menunggu.
Selain itu, hunian sementara (huntara) juga belum tersedia secara memadai. Dari banyaknya korban, baru tiga unit rumah yang dibangun sebagai percontohan. Selebihnya, warga harus mencari cara sendiri untuk bertahan hidup.
Sebagian menyewa rumah, sebagian menumpang, dan sebagian lainnya bertahan di tempat seadanya, seperti yang dialami Tgk Muhammad.
Situasi ini semakin berat karena kebutuhan hidup terus berjalan, sementara sumber penghasilan belum sepenuhnya pulih.
Imam yang Tetap Berdiri
Di tengah kondisi sulit, Tgk Muhammad tetap menjalankan perannya sebagai imum gampong. Ia terus memimpin salat, membimbing masyarakat, dan menjaga nilai-nilai keagamaan di lingkungannya.
Dalam keterbatasan, ia tidak meninggalkan tanggung jawabnya. Namun di balik itu, tersimpan kelelahan yang tidak selalu terlihat. Ia bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga seorang ayah yang berjuang untuk keluarganya.
“Harapan kami sederhana, pemerintah segera membantu seperti daerah lain,” katanya.
Syawal yang Penuh Harap
Bulan Syawal biasanya identik dengan kebahagiaan. Namun bagi Tgk Muhammad, Syawal tahun ini terasa berbeda. Tidak ada rumah untuk menerima tamu, tidak ada ruang untuk berkumpul dengan nyaman.
Yang ada hanyalah ruang sempit dan harapan yang terus ditunggu. Meski begitu, ia tetap bertahan, bersabar, dan berharap.
Kisah Tgk Muhammad menjadi potret dari banyak korban yang belum tersentuh bantuan secara merata. Di balik angka dan kebijakan, terdapat kehidupan nyata yang menunggu kepastian.
Tenda boleh saja dibongkar, tetapi harapan tidak pernah benar-benar hilang. Di Bale Panah, harapan itu tetap ada, meski dalam keterbatasan. Di sanalah, seorang imum gampong tetap berdiri.
Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A. Gani, menilai kondisi ini harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah. “Korban bencana tidak boleh dibiarkan dalam ketidakpastian. Bantuan harus segera disalurkan secara adil dan merata,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran negara sangat penting dalam memastikan pemulihan korban berjalan dengan baik. “Ini bukan hanya soal bantuan, tetapi soal kemanusiaan. Jangan sampai ada korban yang terabaikan,” tegasnya.
Terpopuler
1
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
2
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
3
Halal Bihalal: Tradisi Otentik Nusantara Sejak Era Wali Songo
4
Gus Dur, Iran, dan Anti-Impersialisme
5
Banjir Berulang di Ketanggungan Brebes, Warga Desak Pemerintah Lakukan Normalisasi Sungai
6
Penyelenggaraan Haji 2026 Sesuai Jadwal, Jamaah Mulai Berangkat 22 April
Terkini
Lihat Semua