Umat Islam Malang Bersatu Lawan Kelompok Garis Keras
NU Online · Jumat, 30 Januari 2015 | 04:03 WIB
Malang, NU Online
Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang ramah bagi para pendatang ternyata tak selalu menciptakan kondisi nyaman. Beberapa waktu lalu ketenangannya terusik oleh aksi kelompok garis keras pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Lawang dan Dau yang tiba-tiba ramai di media. Sebelum rentetan peristiwa teror juga menghantui masyarakat setempat.
<>
Atas dasar itu, Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Kabupaten Malang bersepakat akan memerangi berbagai kelompok ekstrem di wilayah setempat. Tekad ini muncul dalam Seminar Nasional Melawan Gerakan Islam Radikal yang diadakan GIUB Malang bersama Aswaja NU Center Kabupaten Malang, Rabu (28/1), di Islamic Center Kepanjen, Malang.
“Ada beberapa aksi mencemaskan di Malang (antara lain) bom Gereja Sasana Budaya 24 Desember 1984, DR. Azhari ditangkap 2005, dan bom ATM Karangploso 2014,” tutur Kol. Arm. Totok Imam Santoso, Komandan Korem (Danrem) 083 dalam forum seminar yang dihadiri utusan dari berbagai ormas tersebut.
Totok mengimbau berbagai elemen masyarakat, baik Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun organisasi kemahasiswaan seperti PMII, GMNI, IPNU-IPPNU, dan lainnya, mampu bersinergi dengan pemerintah serta masyarakat dalam menangkal gerakan radikal dan bibit-bibitnya.
Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr KH Cholil Nafis (Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat), Prof Dr Nadirsyah Husen (University of Wolonggong Australia), dan KH Romadlon Chotib (Wakil Katib Syuriah PWNU Jatim).
Acara bertema “Mengungkap Fenomena ISIS di Jawa Timur dan Bahayanya bagi Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, Serta Upaya Pencegahannya” itu dibuka langsung oleh Bupati Malang Rendra Kresna.
Dalam sambutannya, Rendra mengatakan Kabupaten Malang terkenal di dunia karena ada deklarasi ISIS. Padahal sebelumnya kelompok ekstrem ini ditolak oleh warga. Kabupaten malang, tambahnya, merupakan kabupaten yang pertama kali menolak keberadaan ISIS berada di Indonesia.
Bupati juga mengimbau masyarakat agar tetap damai dan jauh dari intimidasi terutama dalam proses penyelesaian konflik. Ia mendorong warga untuk memberlakukan izin 1 x 24 jam bagi tamu, dan jangan terprovokasi dengan isu-isu.
Hal ini senada dengan pembicaraan Prof Nadirsyah bahwa, isu dan teror yang terjadi di dunia adalah kegilaan dalam memecah belah orang Islam dan negara. “Sehingga kita tidak perlu ikut-ikutan gila," ujarnya. (Red: Mahbib)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua