Kiai Dulah, panggilan masyarakat kepada KH Abdullah Abbas, adalah orang yang menolak keras pencalonan Gus Dur sebagai presiden. Sampai putusan akhir musyawarah para kiai meridai pencalonan putra pertama KH Abdul Wahid Hasyim, Kiai Dulah tetap dalam pendiriannya menolak dengan tetap menghargai keputusan forum.
Penolakan Kiai Dulah tentu saja bukan tanpa alasan. Sesepuh Buntet itu, menurut penuturan putranya, enggan melihat Gus Dur menjadi tumbal reformasi. Bahkan, saat pemilihan presiden berlangsung, Kiai Dulah menangis.
“Saya ingat betul, saat pemilihan itu, bapak nangis,” ujar Mohammad Mustahdi, putra Kiai Dulah.
Paket dari Presiden Gus Dur itu hanyalah sebuah pot bertanamkan kaktus. Tidak lebih.
“Hanya kaktus?” tanya Mustahdi pada staf presiden.
Tentu staf presiden itu mengiyakan karena memang tidak ada lagi. Hal tersebut membuat Mustahdi bertanya-tanya. Namun ketika ia menanyakan apa maksud kiriman itu pada ayahnya, ia hanya mendapat senyum ayahnya. Tidak lebih.
“Bapak tuh cuma senyum aja,” ujar wakil ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama itu.
Dia akhirnya berpikir sendiri, mencoba menafsiri maksud kiriman itu. Ia akhirnya beroleh kesimpulan, bahwa Gus Dur ingin mengabarkan pada Kiai Dulah untuk tidak perlu mengkhawatirkannya. Kaktus mampu hidup sendiri di tengah padang pasir yang gersang. (Muhammad Syakir Niamillah Fiza)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 5 Dosa yang Sering Diremehkan, tetapi Berat Pertanggungjawabannya
2
Khutbah Jumat: Bahaya Hoaks dan Dosa Menyebar Informasi Palsu
3
Sejumlah Bakal Calon Ketua Umum PBNU Hadiri Peluncuran Buku Kiai Ma'ruf Amin
4
5,7 Juta Jamaah Haji Tunggu Terima Nilai Manfaat dari BPKH Senilai Rp2,06 Triliun
5
Meneguhkan Khidmah NU untuk Keadilan Ekologis
6
454 Kasus DBD di Tapanuli Tengah, 5 Warga Meninggal Dunia
Terkini
Lihat Semua