Rais Aam PBNU dari Masa ke Masa, dari 1926 sampai 2026
NU Online · Senin, 7 September 2026 | 11:20 WIB
Ajie Najmuddin
Kolumnis
Rais Aam merupakan posisi tertinggi dalam struktur kepengurusan di PBNU. Berikut Rais Aam PBNU dari masa ke masa, mulai awal NU berdiri pada tahun 1926 hingga Muktamar di Tambakberas tahun 2026:
1. Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari (1926-1947)
Ketika NU berdiri pada 31 Januari 1926, ulama asal Jombang ini ikut terlibat dan bahkan mendapatkan tugas penting dalam proses kelahiran NU. Ketika didaulat menjadi Rais Akbar PBNU, ia diperkirakan berusia 55 tahun (beberapa sumber menyebutkan ia lahir pada 14 Februari 1871.
Amanah sebagai Rais Akbar tersebut, diemban oleh Kiai Hasyim hingga ia wafat pada Juli 1947. Selama itu, Pendiri Pesantren Tebuireng ini terpilih secara berturut-turut, dalam penyelenggaraan Muktamar NU dari awal (1926) hingga perhelatan ke yang ke-17 (Mei 1947).
Semasa ia menjadi Rais Akbar, NU dibawa menjadi organisasi yang berkembang pesat nan disegani. Pun, beberapa kebijakan dan keputusan NU menjadi hal yang sangat krusial bagi Indonesia, baik sebelum negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya, maupun sebelumnya.
Seperti halnya, seruan Resolusi Jihad pada Oktober 1945, yang menjadi pegangan sekaligus pelecut para pejuang, untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa ini. NU pada masa kepemimpinannya juga melahirkan keputusan penting, yang menjadi fondasi pokok bagi para penerus. Setelah Kiai Hasyim wafat, estafet dilanjutkan oleh KH A Wahab Hasbullah.
2. KH A Wahab Chasbullah (1947-1971)
Sepeninggal KH Hasyim Asy'ari, tokoh yang melanjutkan estafet kepemimpinannya yakni KH Abdul Wahab Chasbullah. Seperti halnya Kiai Hasyim, ia juga merupakan salah satu muassis atau pendiri NU.
Kiai Wahab, dilahirkan di Jombang pada tahun 1888. Pengasuh Pesantren Tambakberas itu, dipandang mampu untuk menggantikan posisi Rais Akbar PBNU. Kemampuan tersebut terlihat ketika Kiai Hasyim dipenjara oleh Bala Tentara Jepang, karena menolak untuk melakukan seikerei, sebuah penghormatan kepada Dewa Matahari yang diterapkan pada masa Jepang menjajah Indonesia.
Kiai Wahab, secara terampil mampu menghidupkan kembali jejaring pengurus NU di masa itu yang sempat vakum. Ia juga melakukan pembelaan terhadap beberapa kiai yang telah divonis mati, karena dianggap melakukan kesalahan oleh penjajah.
Yang menarik, sepeninggal Kiai Hasyim. Alih-alih menyematkan gelar jabatan Rais Akbar, ia justru memilih untuk menggunakan istilah Rais Aam. Sebagai wujud penghormatan kepada Kiai Hasyim.
Meski demikian, istilah Rais Akbar ini masih dapat ditemukan di tahun 1950-an, seperti halnya yang tertulis dalam Harian Duta Masyarakat edisi tahun 1954. Tertulis dalam artikel tersebut: "Chutbah Iftitah jang diutjapkan dalam resepsi Muktamar NU tadi malam oleh Ro'is Akbar Sjurijah NU KH Abdul Wahab Hasbullah, telah diutjapkan dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia,"
Istilah Rais Aam ini kemudian dibakukan dalam Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Pada masa awal, penyebutan di dalam AD/ART NU, bahkan hanya menyebutkan kata Rois atau Rais saja, tanpa ada tambahan Akbar ataupun Aam. (Lihat Statuten HBNO tahun 1930 dan AD/ART NU tahun 1954) .
Pada masa kepemimpinan Kiai Wahab, NU bertransformasi menjadi Partai Politik, sebagai hasil dari keputusan Muktamar NU tahun 1952. Kiai Wahab menjadi Rais Aam hingga ia wafat pada akhir Desember 1971 dan digantikan oleh KH Bisri Syansuri.
3. KH Bisri Syansuri (1971-1980)
Sejatinya KH Bisri Syansuri telah terpilih sebagai Rais Aam PBNU pada Muktamar NU tahun 1967. Dalam artikel berjudul Dokumen Pengangkatan Rais 'Aam PBNU yang Ditolak KH Bisri Syansuri (Agung Purnama, NU Online, 2026) mengutip sebuah dokumen penting:
“KEPUTUSAN MU’TAMAR Ke-XXIV PARTAI NU. 4 s/d 9 Juli 1967 di BANDUNG” yang hingga kini tersimpan rapi di Perpustakaan PBNU. Dari dokumen itu, kita akan memperoleh informasi bahwa sebenarnya KH Bisri Syansuri telah terpilih secara sah muktamirin melalui mekanisme yang legal-formal, bahkan sudah diputuskan secara resmi.
Keputusan pengesahan tersebut tertulis: Kita pandjatkan pudji sjukur kenikmat Allah bahwa Muktamar ke-24 Partai NAHDLATUL 'ULAMA' dapat berlangsung dengan selamat sesuai dengan rentjana jaitu tgl. 5 s/d 9 Djuli 1967 di Bandung. Seladjaknjalah kita sjukuri akan semangat jang tinggi dan didorong oleh keikhlasan berdjuang karena Allah semata menegakkan ke-benaran dan keadilan dibumi Ilahi sesuai dengan tuntunan Islam jang sutji sehingga berdatanganlah ke Kota Bandung utusan2 Tjabang dan Wilajah2 seluruh Indonesia dengan berbagai kwalitatannja, jaitu para 'Ulama, tjendekiawan, pengusaha, guru, petani, pedagang dll. Memang demikianlah anggota keluarga besar Partai NAHDLATUL 'ULAMA'. Ada 338 Tjabang dan 23 utusan Wilajah jang hadir dalam medan Muktamar. Setelah mereka membahas setjara mendalam semua persoalan intern Partai maupun tugas pengabdian kepada Islam, Umat, Negara dan Bangsa, maka achirnja dapat menjimpulkan berbagai keputusan sebagai berikut : SUSUNAN PIMPINAN PENGURUS BESAR PARTAI NAHDLATUL 'ULAMA'.
SYURIAH
Rais Aam : K.H. Bisri Sjamsuri.
Rois I : K.H. A. Wahab Hasbullah.
Rois II : K.H. Anwar Musaddad.
Rois III : K.H. Masjkur.
Meski Kiai Bisri terpilih sebagai Rais Aam, ia kemudian menolaknya, dengan alasan selama Kiai Wahab masih ada, maka ia tidak akan mengemban amanah tersebut. Komitmen tersebut betul-betul dijaganya. Ketika Kiai Wahab wafat pada Desember 1971, barulah ia mau menggantikan posisi tersebut.
Kiai kelahiran Pati tahun 1887 itu, kembali terpilih sebagai Rais Aam pada Muktamar NU tahun 1979. Namun, belum genap satu tahun menjabat, ia wafat pada 25 April 1980.
Pascawafatnya KH Bisri Syansuri, dinamika di kalangan kiai-kiai NU itu mewujud dalam pengosongan jabatan Rais Aam PBNU. Pengosongan posisi tersebut akhirnya memperoleh jalan keluar setelah disetujui dan diselenggarakannya Munas Alim Ulama NU, yang kemudian diselenggarakan di Kaliurang, Yogyakarta pada 30 Agustus 1981, di mana memilih KH Ali Maksum sebagai Rais Aam PBNU.
4. KH Ali Maksum (1981-1984)
Bila dilihat dari tahun kelahiran dan masa generasi, Kiai Ali Maksum dapat dikatakan termasuk generasi kedua di NU. Kiai kelahiran di Lasem pada Maret 1915 tersebut, merupakan putra dari salah satu tokoh generasi awal NU, KH Maksum Ahmad.
Ssbagai Rais Aam, meski tergolong singkat masanya, namun KH Ali Maksum mampu membawa NU selamat dari masa-masa genting. Pertama, ketika ia harus dihadapkan pada perpecahan yang terjadi dalam intern PBNU, di mana kemudian dikenal istilah kubu Cipete dan Situbondo. Kedua, soal keputusan untuk kembali khittah 1926 dan tak lagi menjadi Partai Politik.
Pada Muktamar tahun 1984, akhirnya diputuskan penegasan terkait NU yang kembali menjadi organisasi sosial keagamaan, dan tak lagi menjadi parpol. Setelah berbagai fase dan keputusan penting yang telah dilalui, ia berhasil mewariskan berbagai fondasi penting kepada penerusnya, KH Achmad Siddiq, yang dipilih sebagai Rais Aam PBNU masa periode 1984-1989.
5. KH Achmad Siddiq (1984-1991)
KH Achmad Siddiq terpilih sebagai Rais Aam PBNU, sebanyak dua kali. Pertama, ia terpilih pada Muktamar NU tahun 1984. Kedua, ia kembali dipilih dalam perhelatan Muktamar ke-28 NU yang diselenggarakan di Pesantren Krapyak, Yogyakarta pada tahun 1989.
Ia pernah nyantri di Pesantren Tebuireng Jombang (mulai tahun 1937) di bawah asuhan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Sebagai santri Tebuireng, Kiai Achmad Siddiq juga mendapatkan gemblengan dari KH Wahid Hasyim.
Kiai Achmad Siddiq juga dikenal sebagai seorang pemikir. Salah satu buah pemikirannya dimuat dalam buku Pedoman Berpikir NU Al Fikrah An Nahdliyah yang diterbitkan PC PMII Jember tahun 1969, kemudian diterbitkan kembali oleh Forum Silaturrahim Sarjana NU (FOSSNU) Jatim pada tahun 1992.
Dalam buku tersebut, KH Achmad Siddiq di antaranya menerangkan kekuatan-kekuatan pendukung NU. Ia membaginya menjadi dua, yakni pendukung spirituil dan materiil. Secara spirituil atau ideologi, harus memiliki ajaran yang benar serta keyakinan atas ajaran tersebut. Sedangkan untuk pendukung secara materiil, NU memiliki setidaknya membutuhkan dukungan dari empat kelompok, yakni ulama, umat, angkatan muda, dan karyawan. Keempat kelompok ini mesti berjalan dengan sinergis.
Kiai Achmad Siddiq wafat pada 23 Januari 1991 dan posisi Rais Aam kemudian dilanjutkan oleh KH Ali Yafie.
6. KH M Ali Yafie (1991-1992)
Kiai Ali Yafie yang lahir di Donggala, Sulawesi Tengah pada 1 September 1926, sudah aktif di NU sejak masa muda. Ia terpilih sebagai perwakilan rakyat di DPRD mewakili Fraksi NU pada Pemilu tahun 1955. Ia juga pernah menjadi Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Parepare. Keaktifannya di tingkat provinsi membuat sosoknya kemudian diangkat menjadi Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan.
Kiai Ali Yafie didaulat menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meneruskan KH Achmad Siddiq yang wafat pada 23 Januari 1991. Sebelumnya, ia terpilih sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi Kiai Achmad Siddiq pada Muktamar Ke-28 NU di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta pada akhir tahun 1989.
7. KH M Ilyas Ruhiat
KH Ilyas Ruhiat dilahirkan hari Ahad, 12 Rabiul Awwal 1352 H atau 31 Januari 1934. Kiai Ilyas memulai karirnya di organisasi NU sejak 1954, ketika terpilih sebagai ketua NU Cabang Tasikmalaya. Saat itu ia merangkap ketua Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Barat.
Tahun 1985-1989, ia menjadi Wakil Rais Syuriah NU Jawa Barat. Tahun 1989, setelah Muktamar NU di Krapyak, Ilyas terpilih menjadi salah satu rais Syuriyah PBNU.
Ketika KH Ali Yafie mengundurkan diri sebagai Rais Aam PBNU, Kiai Ilyas Ruhiat kemudian didaulat untuk menggantikannya. Penetapannya sebagai Rais Aam, dilaksanakan pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Lampung pada Januari 1992.
Pada Muktamar NU tahun 1994, ia kembali terpilih menjadi Rais Aam PBNU mendampingi KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU hingga masa periode tahun 1999. Periode kepengurusan ini menjadi saksi berakhirnya masa orde baru.
8. KH M A Sahal Mahfudh (1999-2014)
Sosok Kiai Sahal, yang menjadi Rais Aam sejak tahun 1999, memiliki karakter khas pada pengembangan fikih sosial dan fikih kontekstual. Sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, Mbah Sahal memiliki sumbangan tersendiri bagi perkembangan organisasi. Ia meneruskan sumbangan-sumbangan pemikiran dan misi yang telah dibawa oleh para pendahulunya. Hal ini pernah disampaikan sendiri oleh Mbah Sahal usai menerima gelar Doktor (HC):
"Pilihan-pilihan tersebut saya dasarkan pada kenyataan yang menunjukkan, betapa banyak masyarakat yang belum mampu menyentuh gagasan-gagasan yang njlimet dari pakar. Karena itu saya concern , inilah yang membuat saya menetapkan fiqih sebagai pilihan untuk dijadikan jembatan menuju pengembangan masyarakat." (Sahal, Nuansa Fiqih Sosial, LKiS Yogyakarta, 2003)
Ia tiga kali terpilih menjadi Rais Aam. Pertama pada Muktamar tahun 1999, kedua tahun 2004, dan terakhir tahun 2010. Ketika ia wafat pada tahun 2014, posisi Rais Aam kemudian dilanjutkan oleh KH A Mustofa Bisri.
9. KH A Mustofa Bisri (2014-2015)
Beberapa bulan setelah Kiai Sahal wafat, posisi sebagai Rais Aam PBNU digantikan oleh KH A Mustofa Bisri. Ia hanya mengemban amanah tersebut dalam waktu yang cukup singkat.
Tahun 2015, ketika diselenggarakan Muktamar NU di Jombang, sejatinya ia dipilih kembali Rais Aam. Dalam artikel berjudul KH Mustofa Bisri Ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU (NU Online, 2015) KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menuliskan pemberitaan penetapan sebagai Rais Aam PBNU periode 2015-2020 pada rapat yang berlangsung di ruang sidang Alun-alun Jombang.
Penetapan tersebut merupakan hasil musyawarah 9 kiai Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dan ditandatangani anggota Ahwa yaitu KH Ma’ruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, TGH Turmudzi Badruddin, KH Khalilurahman, KH Dimyati Rais, KH Ali Akbar Marbun, KH Makhtum Hannan, KH Maimoen Zubair, dan KH Mas Subadar.
Namun, pada akhirnya Gus Mus menolak posisi tersebut, yang kemudian dilimpahkan kepada KH Ma'ruf Amin.
10. KH Ma'ruf Amin (2015-2018)
KH Ma'ruf Amin menjadi Rais Aam PBNU mulai tahun 2015 hingga 2018. Sejatinya, ia bersama KH A Said Aqil Siroj sebagai Ketua Umum PBNU, mendapat mandat sebagai Rais Aam hingga tahun 2020.
Namun, keputusan besar yang diambil, ketika ia ikut mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden RI, berkonsekuensi pada jabatannya sebagai Rais Aam. Pada tahun 2018, ia mengundurkan diri, dan digantikan KH Miftachul Akhyar sebagai Pejabat (Pj) Rais Aam.
Keputusannya untuk maju sebagai calon wapres berbuah hasil. Bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi), ia terpilih sebagai Wapres RI masa periode 2019-2024.
11. KH Miftachul Akhyar (2018-2026)
Sebelum menjadi Rais Aam PBNU, Kiai Miftachul Achyar pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya 2000-2005, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur 2007-2013, 2013-2018 dan Wakil Rais Aam PBNU 2015-2020 yang selanjutnya didaulat sebagai Pj. Rais Aam PBNU 2018-2020.
Setelah menjadi Pj. Rais Aam, ia dipilih sebagai Rais Aam sebanyak dua kali. Pertama, pada Muktamar yang dihelat di Lampung pada tahun 2021 dan kedua, pada Muktamar tahun 2026 ini, ia kembali terpilih sebagai Rais Aam.
Ajie Najmuddin, Pemerhati sejarah NU dan pesantren
Terpopuler
1
Ngantor Perdana, Gus Kikin Mulai Siapkan Susunan Kepengurusan PBNU 2026-2031
2
Gus Kikin Kunjungi Pojok Gus Dur pada Momen Perdana Ngantor di PBNU
3
Anggota Banser Wafat Selepas Tugas di Muktamar, Ketum GP Ansor Takziah dan Beri Santunan
4
Gus Kikin Sebut NU Dukung Program Pemerintah, Fokus pada Pembangunan Manusia
5
Menakar Kapasitas Al-Albani dalam Ilmu Hadits: Benarkah Layak Disebut Muhaddits?
6
PCNU Jombang Harapkan PBNU Masa Khidmah 2026-2031 Prioritaskan Program Keumatan
Terkini
Lihat Semua