Fragmen MUKTAMAR KE-35 NU

Muktamar NU dan Pidato Presiden RI

NU Online  ·  Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:10 WIB

Muktamar NU dan Pidato Presiden RI

Presiden RI Sukarno saat menyampaikan pidato di hadapan muktamirin pada Muktamar ke-22 NU di Jakarta (Foto: Repro Kenang-kenangan Mutamar ke-XXII Partai Nahdlatul Ulama di Jakarta pada 1960).

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan untuk hadir pada acara pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Kamis (27/8/2026). Dalam setiap penyelenggaraan Muktamar NU, kehadiran presiden dalam acara pembukaan ataupun penutupan, sebetulnya bukanlah hal yang baru, melainkan telah dimulai sejak Presiden Sukarno.


Meski demikian, penulis mencatat tidak semua Presiden RI, pernah berkesempatan untuk menyampaikan pidato sambutan di gelaran Muktamar NU. Dari 7 presiden sebelum Prabowo, ada dua nama presiden yang belum pernah menyampaikan pidato sambutan sebagai seorang presiden, yakni BJ Habibie dan Megawati Soekarnoputri karena sudah tidak lagi menjabat saat muktamar NU digelar. Berikut para Presiden RI yang pernah berpidato pada forum Muktamar NU, berikut kutipan singkat pidatonya:


1. Sukarno

Sejak didaulat menjadi Presiden RI, Sukarno kerap hadir dalam acara Muktamar NU, baik dalam resepsi pembukaan maupun penutupan. Kehadiran Sukarno, pada masa itu, tentu menjadi magnet tersendiri bagi perhelatan Muktamar. Sebab, ia dikenal sebagai seorang yang ahli berpidato. Salah satu pidatonya yang paling dikenang saat Muktamar NU tahun 1962, yang diselenggarakan di Kota Surakarta.


Bung Karno saat itu, sedianya dijadwalkan untuk menyampaikan sambutan pada acara respesi pembukaan di Gedung Balaikota Surakarta, di hari pertama penyelenggaraan Muktamar, Selasa 25 Desember 1962 pukul 19.30 – 22.30. Namun, Presiden Sukarno ternyata baru bisa hadir selang tiga hari berikutnya. 


Pada saat menyampaikan pidato di depan para peserta Muktamar, 28 Desember 1962, ia menegaskan kecintaannya akan Nahdlatul Ulama:

“... Saudara-saudara sesudah bersenda gurau demikianm saya Insya Allah hendak memberi amanat pada Mu’tamar Nahdlatul Ulama. Sekarang hari Jumat, sehingga amanat saya itu tidak dan tidak boleh melewati jam 12... Saya sangat cinta sekali kepada NU. saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke mukamar ini, agar orang idak meragukan kecintaan saya kepada NU!”

(Dalam negeri R.I. jang kuat agama dapat berkembang subur : amanat Presiden Soekarno pada penutupan Mu'tamar Nadhatul Ulama di Sala pada tgl 28 Desember 1962)


Ia juga menyampaikan apresiasi atas saran yang telah diberikan Kiai Wahab yang dikenal dengan “Diplomasi Cancut Tali Wondo” dalam upaya perjuangan merebut Irian Barat dari Belanda:


"Baik ditinjau dari sudut agama, nasionalisme, maupun sosialisme. NU memberi bantuan yang sebesar-besarnya. Malahan, ya memang benar, ini lho pak Wahab ini bilang sama saya waktu di DPA dibicarakan berunding apa tidak dengan Belanda mengenai Irian Barat, beliau mengatakan: jangan politik keling. Atas advis anggota DPA yang bernama Kiai Wahab Hasbullah itu, maka kita menjalankan Trikora dan berhasil saudara-saudara!” (KH Idham Chalid, Mendayung Dalam Taufan, 1966. Jakarta)


Sayangnya, Muktamar tahun 1962 tersebut ternyata menjadi yang terakhir untuknya. Muktamar berikutnya pada tahun 1967, ia sudah tak lagi menjadi Presiden RI. Sebab zaman sudah berganti, dari Orde Lama ke Orde Baru.


2. Soeharto

Pada tahun 1967, Presiden Sukarno digantikan Soeharto yang dilantik sebagai Pejabat Presiden dan kemudian menjadi Presiden Indonesia. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 4 hingga 10 Juli 1967, NU menyelenggarakan Muktamar ke-24 di Bandung. Gedung Dwikora Bandung menjadi saksi perhelatan tersebut.


Pada masa awal Orde Baru tersebut, Soeharto menekankan soal peran penting partai politik dalam negara Indonesia. Ia menegaskan bahwa partai politik tidak dapat dipisahkan dan tidak boleh memisahkan diri dari kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia. Sebab, partai politik adalah salah satu alat Demo­krasi Pancasila yang penting.


Namun demikian, ia meng­ingatkan bahwa dalam pengertian dan perangkat Demokrasi Pancasila, partai politik bukanlah satu-satunya alat demokrasi. Menurutnya, Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang mencerminkan dan yang mewakili kepentingan seluruh rakyat, sehingga tidak mengenal kemutlakan mayoritas yang sekadar didasarkan pada kelebihan suara atau kekuatan.


Khusus tentang muktamar, Soeharto menilai bahwa muktamar ini amat penting. Sebab dengan hasil muktamar itu nanti rakyat akan dapat melihat peranan NU dalam perjuangan konsolidasi dan pengisian Orde Baru (Jejak Langkah Pak Harto 01 Oktober 1965 – 27 Maret 1968, Team Dokumentasi Presiden RI, 2003, hal 193)


Rupanya, hal ini menjadi sinyalemen akan kehidupan politik di masa Orde Baru. Demokrasi kemudian disulap sedemikian rupa. Berbagai aturan dan tata cara dimanipulasi untuk memenangkan Golkar sebagai mesin politik rezim Orde Baru. Inilah pseudo-democracy atau demokrasi semu yang mengelabui rakyat. (Anhar Gonggong, Pemilu 1971, Demokrasi Semu, diunggah di Kompas.com pada 11 Januari 2014)


Namun, ajaibnya NU dapat selamat dari rezim yang bertahan selama 32 tahun tersebut. Meski hidup dalam intimidasi dan represi dari penguasa, warga NU dapat menyaksikan jatuhnya rezim Orde Baru, yang kemudian dikenal dengan istilah masa reformasi. Tahun 1998, Soeharto mundur sebagai presiden dan digantikan oleh BJ Habibie.


3. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Seperti yang telah penulis kemukakan di awal, tidak semua Presiden RI berkesempatan menyampaikan pidato pada gelaran Muktamar NU, termasuk salah satunya, yakni Presiden BJ Habibie. Ia menjadi Presiden RI sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Kebetulan dalam rentang waktu tersebut, tidak ada penyelenggaraan Muktamar NU.


Baru, ketika ia digantikan presiden berikutnya, yakni KH Abdurrahman Wahid, Muktamar NU kembali diselenggarakan. Muktamar ke-30 NU diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, pada tanggal 21 hingga 27 November 1999.


Tentu ini menjadi momen yang spesial bagi warga NU. Sebab sang presiden, sebelumnya merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sejak tahun 1984 hingga 1999. Gus Dur dalam momen Muktamar di Lirboyo tersebut memberikan pesan, yang menariknya tentu pidato tersebut disampaikan, dalam konteks justru ketika ia tengah menjadi penguasa.


Dalam pidato yang disampaikan pada 21 Desember 1999 tersebut, Gus Dur mengaku prihatin karena mulai melihat perubahan cara pandang sebagian warga NU ketika lebih membanggakan hubungan dengan pejabat dibanding mengingat keberkahan perjuangan.


"Orang NU ini sudah lupa faktor barokah. Saya paling sedih waktu menjadi mubaligh. Kalau dijemput di stasiun atau lapangan pesawat, ketua panitia atau ketua cabang sering mengatakan: Alhamdulillah Gus, hubungan kita dengan Pak Bupati bagus. Mulai kapan NU ingat bupati dan lupa kepada Allah," ujar Gus Dur dalam potongan pidato yang kini kembali viral.


Sebagai Ketua Umum PBNU saat itu, Gus Dur mengaku memilih menyimpan kegelisahannya. Di hadapan warga NU ia tetap tersenyum, tetapi di dalam hati merasa sedih melihat mulai bergesernya orientasi sebagian kader dari nilai-nilai perjuangan menuju kedekatan dengan kekuasaan. Ia kemudian menyerukan agar NU terus membangun bangsa dari bawah dengan tetap memegang karakter dasar yang selama ini menjadi kekuatannya.


"Lupakan itu semua. Silakan membangun kembali bangsa ini dari bawah dengan keluguan, kelugasan, dan kesederhanaan Nahdlatul Ulama. Hanya dengan demikian kita bisa menyelamatkan bangsa kita yang terancam dalam segenap segi kehidupan sekarang ini," kata Gus Dur.


4. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Setelah Gus Dur, semestinya ada nama Megawati Soekarnoputri, sebagai Presiden RI. Namun, sama dengan BJ Habibie, pada masa kepemimpinannya NU tidak menggelar Muktamar. Baru, ketika terpilih presiden baru, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), NU menggelar Muktamar di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah pada akhir tahun 2004.


Dalam sambutannya, SBY mengatakan, peran dan jasa para tokoh NU turut andil dalam menempatkan inti dasar kehidupan bernegara. "Peran NU dalam membangun bangsa harus terus berlanjut. Saya percaya peran itu akan akan terus sampai ke masa yang akan datang," katanya.


SBY percaya sepenuhnya, pimpinan ulama NU setapak demi setapak tapi pasti akan membangun negara dengan tidak kenal lelah. "Saya berharap muktamar ini dapat berjalan lancar dan sesuai agenda organisasi," kata SBY. Setelah memberikan sambutan, SBY langsung memukul gong sebagai tanda dimulainya acara muktamar. (Lihat artikel Buka Muktamar NU, SBY Tak Sempat Bertemu Gus Dur, Detiknews, 28 November 2004)


Pada perhelatan Muktamar berikutnya, di Makassar, tahun 2010, SBY yang menjabat Presiden RI selama 2 periode, kembali hadir dan menyampaikan sambutannya. Presiden SBY menyampaikan harapan agar organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) secara konsisten melanjutkan sikap dan posisinya dalam peran kebangsaan, keislaman, dan keindonesiaan.


“Dalam perjalanan sejarahnya, NU dapat membuktikan bahwa Islam, demokrasi, dan modernitas dapat berjalan seiring dan sejalan, bahkan saling melengkapi,” ujar Presiden SBY, saat memberikan sambutan pembukaan Muktamar ke-32 NU di Celebes Convention Center (CCC) Makassar, Selasa (23/3/2010) (SBY Berharap NU Konsisten dalam Peran Kebangsaan, NU Online, 2010)


5. Joko Widodo (Jokowi)

Penerus SBY, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pria asal Solo ini, dalam sambutan pertamanya di perhelatan Muktamar NU, seperti halnya SBY menitipkan harapannya pada NU:


"Karena itulah saya menaruh harapan kepada NU sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk mampu menjadi jembatan peradaban. Bukan hanya jembatan bagi perbedaan paham keagamaan, tetapi juga menjadi peradaban antar bangsa dalan wujud nyata Islam sebagai rahmatan lil alamin." (Pidato Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Muktamar XXXIII Nahdlatul Ulama di GOR Merdeka Alun-Alun Jombang Jatim 1 Agustus 2015, dipublikasikan oleh Setkab RI)


Jokowi menambahkan, NU memiliki kekuatan besar untuk banyak terlibat di dalam membangun tatanan dunia yang berkeadilan, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan, keterbelakangan, serta ketimpangan yang merupakan akar dari bentuk-bentuk terorisme dan radikalisme.


"Dengan sikap NU yang mengutamakan solidaritas kemanusiaan, ukhuwah basyariah, maka warga Nahdliyin berperan besar dalam membangun peradaban antar bangsa yang semakin terbuka, demokratis dan berkeadilan. Dengan cara itu, Indonesia sebagai negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia, akan selalu dikenang menjadi rujukan dunia." (Pidato Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Muktamar XXXIII Nahdlatul Ulama di GOR Merdeka Alun-Alun Jombang Jatim 1 Agustus 2015, dipublikasikan oleh Setkab RI)


Sementara pada perhelatan Muktamar Ke-34 NU di Lampung, pada tahun 2021, Jokowi dalam suasana mulai berangsurnya pandemi Covid-19 menyampaikan rasa terima kasih kepada NU:


"Menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada NU yang terus mengawal kebangsaan, mengawal toleransi, mengawal kemajemukan, mengawal Pancasila, mengawal Undang-Undang Dasar 1945, mengawal kebinekaan kita, mengawal NKRI, dan kita harapkan dengan itu kita terus bisa menjaga dan merawat bangsa dan negara kita yang kita cintai," (Pembukaan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama Tahun 2021 di Kabupaten Lampung Tengah Provinsi Lampung 22 Desember 2021, dipublikasikan oleh Setkab RI)


Demikianlah Muktamar NU dan pidato sambutan dari para Presiden RI dari masa ke masa. Dari era Presiden Sukarno hingga Joko Widodo.


Ajie Najmuddin, Pegiat Komunitas Ulik Arsip

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang