Lokasi Muktamar dari Masa ke Masa (Bagian Ketiga-dari Bandung hingga Jombang)
NU Online · Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Ilustrasi Muktamar Ke-29 NU di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 1994. (Foto: Gusdur.net)
Ajie Najmuddin
Kolumnis
Orde Lama di bawah kepemimpinan Sukarno runtuh, berganti rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Masa Orde Baru berjalan hingga 32 tahun. Pada kurun waktu ini, sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan, NU kembali diuji keberadaanya. Hingga pada akhirnya, pada Muktamar tahun 1984, NU kembali ke khittah dan tidak lagi menjadi partai politik.
Pada masa Orde Baru, NU banyak memanfaatkan pondok pesantren sebagai lokasi Muktamar. Hal ini dilakukan, selain untuk memperkuat kembali identitas NU sebagai kaum pesantren, juga menghindarkan dari intimidasi yang dilakukan oleh para oknum pihak di luar NU, termasuk dari para pejabat negara.
Berikut lokasi serta catatan singkat Muktamar dari masa ke masa, yakni Muktamar di Bandung yang dihelat pada masa awal era orde baru hingga terakhir yang terpilih, yang akan diselenggarakan di Tambakberas Jombang pada Agustus 2026 ini:
1. Gedung Dwikora, Bandung (Muktamar ke-24, 1967)
Setelah Muktamar tahun 1962, sedianya forum permusyawaratan tertinggi NU ini akan dihelat pada akhir tahun 1965 ataupun 1966. Namun, seperti yang kita tahu, pada akhir September 1965 terjadi sebuah peristiwa yang kemudian berbuntut pada salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di negeri ini. Muktamar NU pun urung dilaksanakan.
Pada tahun 1967, Presiden Sukarno digantikan Soeharto yang dilantik sebagai Pejabat Presiden dan kemudian menjadi Presiden Indonesia. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 4 hingga 10 Juli 1967, NU menyelenggarakan Muktamar ke-24 di Bandung.
Gedung Dwikora Bandung menjadi saksi perhelatan tersebut. Pada Muktamar tersebut, KH A Wahab Hasbullah dan KH Idham Chalid terpilih kembali sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
2. Gedung Muallimat NU Wonokromo, Surabaya (Muktamar ke-25, 1971)
Muktamar ke-25 diselenggarakan pada penghujung tahun 1971, atau beberapa bulan setelah Pemilihan Umum (Pemilu) 1971. Meski pelaksanaannya setelah Pemilu, acara yang berlokasi di Gedung Muallimat NU Wonokromo, Surabaya tersebut berlangsung cukup dinamis.
KH Bisri Syansuri yang sedianya akan dipilih sebagai Rais Aam, justru menolak secara tegas posisi tersebut. Ia beralasan, selama Kiai Wahab masih hidup, ia tidak akan menjadi Rais ‘Aam. Forum Muktamar kemudian memilih kembali Kiai Wahab sebagai Rais Aam.
Namun, amanat tersebut hanya dipegang Kiai Wahab hanya dalam hitungan hari. Pada tanggal 29 Desember 1971, KH A Wahab Hasbullah wafat.
3. GOR Semarang (Muktamar ke-26, 1979)
Mitsuo Nakamura dalam bukunya berjudul Mengamati Islam di Indonesia 1971-2023 (YOI, 2025, hlm. 83) menuliskan banyak tentang peristiwa Muktamar ke-26 NU yang berlangsung pada tanggal 5-11 Juni 1979 di Gedung Olah Raga (GOR) Semarang. Ia menggambarkan situasi lokasi Muktamar sebagai berikut:
"Di sana, berkumpullah sekitar 4.500 orang delegasi dari 343 cabang NU seluruh Indonesia (kecuali Timor-Timur). Para delegasi diinapkan di hotel sederhana maupun menengah, serta losmen di kota itu. Mereka diangkut ke GOR setiap hari menggunakan sejumlah mikrobus yang disewa oleh panitia Muktamar. Sebuah dapur umum dibuat di bawah tenda raksasa, yang didirikan di dekat GOR, untuk melayani makan para delegasi tiga kali sehari."
Demikianlah, Muktamar tahun 1979 di Semarang berjalan dengan lancar. Pada momen tersebut, KH Bisri Syansuri dan KH Idham Chalid terpilih kembali sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
4. Pondok Pesantren Salafiah Syafiiyah, Sukorejo, Asembagus, Situbondo (Muktamar ke-27, 1984)
Muktamar di Situbondo ini termasuk paling dikenang, sebab salah satu keputusannya adalah NU kembali khittah dan tidak lagi menjadi partai politik. Selain itu, NU juga menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal. Ini menjadi fase penting dalam perkembangan NU di era Orde Baru, dan bahkan hingga kini.
Muktamar kali ini juga menghidupkan kembali tren tradisi pelaksanaan Muktamar di pesantren, dari yang sebelumnya lebih banyak dilaksanakan di hotel ataupun gedung pertemuan di luar pesantren. Secara berturut-turut, setelah Sukorejo, nantinya akan berlanjut ke Krapyak, Cipasung, dan Lirboyo.
Pelaksanaan Muktamar ke-27 NU di Pesantren Salafiah Syafiiyah Sukorejo yang diasuh oleh KH As'ad Syamsul Arifin tersebut, berlangsung mulai dari 8–12 Desember 1984. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk pertama kalinya terpilih menjadi ketum PBNU, bersama rais aam terpilih KH Achmad Siddiq.
5. Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta (Muktamar ke-28, 1989)
Untuk pertama kalinya, Yogyakarta menjadi tuan rumah Muktamar NU. Pada tahun 1989, NU menggelar Muktamar ke-28 di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak yang diasuh oleh KH Ali Maksum. Lokasi-lokasi sidang dan rapat menggunakan ruangan ataupun gedung di kompleks pesantren.
Pesantren Krapyak yang didirikan oleh KHR Munawwir, terletak di Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilihan Krapyak sebagai lokasi muktamar cukup mudah untuk dijangkau dengan berbagai moda transportasi.
Muktamar yang diselenggarakan pada 25-28 November 1989 atau 26-29 Rabiul Akhir 1410 H tersebut, kembali menghasilkan duet kepemimpinan Rais Aam KH Achmad Siddiq dan Ketum PBNU KH Abdurrahman Wahid.
6. Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya (Muktamar ke-29, 1994)
Pada tanggal awal Desember 1994, tepatnya pada tanggal 1-5 Desember 1994 atau bertepatan dengan 27 Jumadil Akhir sampai dengan 2 Rajab 1415 H, diselenggarakan Muktamar ke-29 NU di Pesantren Cipasung, yang diasuh oleh KH Ilyas Ruhiat, Rais Aam PBNU kala itu.
Pondok Pesantren Cipasung terletak di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kondisi daerah yang sejuk, di bawah Gunung Galunggung, sebetulnya membawa pesan semangat dan harapan Muktamar, agar dapat berjalan dengan sejuk dan damai. Meskipun pada kenyataannya, Muktamar di Cipasung ini, berjalan cukup panas.
Muktamar di Cipasung dikenang banyak orang, sebab beberapa oknum hendak merusak NU dengan cara politik uang atau suap serta intimidasi dari sejumlah pihak, termasuk para pejabat negara. Meskipun demikian, Muktamar dapat berjalan dengan lancar, dengan menghasilkan duet KH Ilyas Ruhiat sebagai Rais Aam dan Gus Dur sebagai Ketum PBNU.
7. Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri (Muktamar ke-30, 1999)
Rezim Orde Baru tumbang, berganti menjadi era reformasi. Pada Muktamar ke-30 ini, NU tak lagi dalam bayang-bayang intimidasi dari penguasa. Sebab, kini tokoh NU sendiri yang menjadi Presiden Republik Indonesia, yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Pemilihan Pesantren Lirboyo sebagai lokasi tuan rumah, tentu bukan tanpa alasan. Selain sebagai salah satu pusat keilmuan, pesantren ini juga memiliki kompleks area yang luas dan representatif untuk digunakan sebagai arena muktamar.
Gus Dur yang ikut hadir sebagai Presiden RI, dalam sambutannya di pembukaan Muktamar, mengingatkan bahwa meski di era reformasi ini, NU tak lagi menjadi oposisi pemerintah, tetapi pengurus dan warga NU mesti sadar dan tahu diri, serta tetap kritis kepada penguasa, dan ingat kepada Allah swt.
Dalam Muktamar ini, KH Sahal Mahfudz dan KH Ahmad Hasyim Muzadi terpilih sebagai rais aam dan ketua umum PBNU periode 1999-2004.
8. Asrama Haji Donohudan, Boyolali/Surakarta (Muktamar ke-31, 2004)
Pada tahun 2004, Muktamar NU kembali dihelat di luar pesantren, setelah sebelumnya, dalam waktu empat kali secara berturut-turut, pelaksanaannya diselenggarakan di pondok pesantren. Lokasi yang dipilih yakni Asrama Haji Donohudan yang terletak di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah.
Meski berlokasi di Boyolali, Muktamar ini dikenang banyak orang sebagai Muktamar Solo atau Surakarta, kemungkinan karena alasan faktor popularitas. Asrama Haji Donohudan terletak tak jauh dari Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo, sehingga dapat memudahkan akses transportasi para peserta, khususnya yang berasal dari luar Jawa.
Sayangnya, ada salah satu insiden tragis yang menimpa sebagian peserta Muktamar. Dalam artikel berjudul "Lion Jatuh, Muktamarin Panik" (NU Online, 2004) menggambarkan suasana mencekam saat terjadi peristiwa kecelakaan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan 539 dari Jakarta di sekitar landasan Bandara Udara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah, pada Selasa, 30 November 2004, sekitar pukul 18.15 WIB.
"Pesawat yang mengangkut 140 penumpang ini keluar dari landasan pacu dan nyelonong ke areal persawahan. Kondisi badan pesawat sendiri terbelah dua."
Salah satu tokoh NU yang ikut menjadi korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut yakni KH Yusuf Muhammad (Gus Yus) Jember. Ia termasuk dalam daftar nama 31 korban yang meninggal dunia.
Muktamar Ke-31 NU ini kembali memilih pasangan KH Sahal Mahfudz sebagai rais aam dan KH Ahmad Hasyim Muzadi sebagai ketua umum.
9. Gedung CCC dan Asrama Haji Sudiang, Makassar (Muktamar ke-32, 2010)
Sedianya Muktamar NU akan dijadwalkan diselenggarakan pada tahun 2009. Namun, karena beberapa hal, Muktamar ke-32 diundur dan resmi dihelat pada 23–28 Maret 2010. Makassar, Sulawesi Selatan menjadi tuan rumah Muktamar ini.
Dalam artikel berjudul Muktamar ke-32 NU akan Digelar di Makassar (NU Online, 2009), Beberapa faktor pendukung diputuskannya muktamar di Makassar adalah kemudahan akses. Makassar adalah kota terbesar di Indonesia Timur dan lokasinya menjadi transit dari daerah tersebut sehingga muktamirin dari Papua, Maluku, Ternate dan sekitarnya tak perlu ongkos besar menuju lokasi muktamar.
Pembukaan Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2010 diselenggarakan secara resmi di Gedung Celebes Convention Centre (CCC), Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa, 23 Maret 2010, dan dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan acara forum sidang hingga penutupan dilangsungkan di Asrama Haji Sudiang Makassar.
Selain Asrama Haji, sejumlah lokasi juga digunakan sebagai tempat resmi penginapan peserta, yakni Pondok Madinah dan Wisma Darussalam. Dalam Muktamar ini, KH Sahal Mahfudh dan KH Said Aqiel Siroj terpilih sebagai rais aam dan ketua umum PBNU periode 2010-2015.
10. Alun-alun, GOR Merdeka, dan 4 Pondok Pesantren (Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Rejoso) Jombang (Muktamar ke-33, 2015)
Muktamar NU yang diselenggarakan pada tanggal 1-5 Agustus 2015, dibuka dan ditutup di Alun-alun Jombang, Jawa Timur. Sementara sidang-sidang komisi diselenggarakan di beberapa pondok pesantren, seperti Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, dan Rejoso. Lokasi lain, yakni GOR Merdeka, berdasarkan penuturan dari pewarta NU Jombang, M Faishol, digunakan sebagai tempat untuk melakukan registrasi peserta.
Beberapa hari sebelum pembukaan, alun-alun Jombang bahkan sudah dipadati sekitar 40 ribu jamaah dari Muslimat dan Fatayat NU. Mereka mengikuti acara istighatsah yang dipimpin langsung oleh Ketua PC Muslimat NU Jombang, Hj Mundjidah Wahab yang juga Wakil Bupati Jombang kala itu. (NU Online, 2015)
Momen yang dikenang dalam Muktamar ini, yakni ketika Tim Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang terdiri dari 9 kiai khos mengadakan sidang untuk memilih Rais Aam PBNU, yang kemudian memilih KH A Mustofa Bisri (Gus Mus). Namun, sebelum sidang penentuan Rais Aam, Gus Mus menulis surat resmi yang menyatakan ketidaksediaannya untuk dipilih menjadi Rais Aam PBNU.
Pada akhirnya, KH Ma'ruf Amin terpilih sebagai rais aam, didampingi KH Said Aqiel Siroj yang terpilih kembali sebagai ketua umum PBNU.
11. Pesantren Darussa'adah, UIN Raden Intan, Universitas Malahayati, dan Unila, Lampung (Muktamar ke-34, 2021)
Pandemi Covid-19 memaksa pelaksaan Muktamar ke-34 NU diundur pada tahun 2021, tepatnya pada 21 hingga 24 Desember 2021. Muktamar kali ini menggunakan sejumlah lokasi di Provinsi Lampung. Dirangkum dari sejumlah artikel di NU Online, pada sesi pembukaan berlokasi di Pondok Pesantren Darussa'adah, Kabupaten Lampung Tengah.
Kemudian, sejumlah forum dilaksanakan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan, Universitas Malahayati, dan Universitas Lampung (UNILA). Ketiganya terletak di Kota Bandar Lampung. Selain itu, juga ada Islamic Center Bandar Lampung yang digunakan sebagai fasilitas penginapan.
Dalam Muktamar ini, KH Miftachul Akhyar dan KH Yahya Cholil Staquf terpilih sebagai rais aam dan ketua umum PBNU masa khidmah 2021-2026.
12. Pesantren Tambakberas, Jombang (Muktamar ke-35, 2026)
Pondok Pesantren Tambakberas Jombang terpilih sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU, yang diselenggarakan bertepatan dengan momentum 1 abad NU (1926-2026). Terpilihnya Tambakberas, yang identik dengan nama pendiri NU KH A Wahab Hasbullah tersebut, sekaligus juga mengakhiri polemik tentang lokasi muktamar. Sebelumnya juga diusulkan Lirboyo (Kediri) dengan opsi pembukaan di Tambakberas, Cirebon, Jakarta, Sumatra Barat, dan NTB sebagai tuan rumah. Namun setelah dimusyawarahkan, justru yang terpilih yakni Tambakberas.
Demikianlah, artikel mengenai lokasi serta catatan singkat Muktamar dari masa ke masa serial terakhir, darri masa era Orde Baru hingga yang terkini, yang akan diselenggarakan di Jombang.
Ajie Najmuddin, salah satu penulis dalam buku "Fragmen Muktamar NU dari Era Kolonial hingga Milenial" (NU Online, 2021)
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
3
KH Nasaruddin Umar Mengaku Dapat Dorongan Maju Ketua Umum PBNU, Soroti Tantangan Kepemimpinan NU
4
Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
5
Muktamar ke-35 NU Bahas Hukum DNA, Kripto, hingga Pasang Chip di Otak
6
Muktamar Ke-35 NU Bahas Revisi UU Sisdiknas dan Ketenagakerjaan, hingga Qanun Jinayat Aceh
Terkini
Lihat Semua