Bagaimanapun ucapan salam secara elektronik di lift PBNU itu akhirnya menjadi berdebatan serius para kiai, bagaiamana status hukumnya menjawab salam elektonik tersebut.
Salah satu pendapat mengatakan, tidak harus dijawab, sebab itu sebuah bunyi yang tanpa arti, karena keluar dari mesin. Sementara yang lain mengatakan itu wajib dijawab, sebab disamping merupakan rekaman suara manusia, juga mewakili Rais 'Aam dan Ketua Umum PB NU, jadi fardlu ain menjawabnya dan dosa bila tidak menjawab. Sebab alat itu dipasang sengaja untuk menghormati para tamu, maka yang dihormati harus hormat juga.
Perdebatan itu akhirnva dibawa ke forum bahsul masail. Bahkan sudah lima kali bahsul masail diselenggarakan, tetapi mengalami mauquf (deadlock). Akhirnya mereka sepakat menghadirkan Syeikh Al Azhar, kalau perlu para pimpinan perguruan tinggi Islam sedunia untuk membahas persoalan ini.
"Lho, gimana ini, hukum kok digantung, sampai kapan harus menunggu datangnya Ulama Al Azhar segala, "kata seorang Kiai.
"Walah begitu saja ribut, kita kan punya hukum sendiri "
"Apa-apa" tanyanya serius.
"Sluman, slumun selamet" jawab kiai yang lain.
Terpopuler
1
Pelantikan PBNU, Rais Aam: Singkirkan Kepentingan Pribadi dan Rangkul Masyarakat
2
Innalillahi, Anggota BPK RI Fathan Subchi Meninggal Dunia
3
Ini Doa Kiai Said Aqil saat Pelantikan PBNU 2026-2031
4
PBNU Siapkan Munas hingga Rakernas sebagai Program Awal Kepengurusan
5
Gus Ipul Sebut PCNU yang Dikabarkan Kembalikan Uang ke KPK Belum Lapor PBNU
6
Gus Rozin: NU Perlu Perkuat Ketahanan Bencana dan Kemandirian Ekonomi Warga
Terkini
Lihat Semua