Humor

Jualan Kalender, Salah Sambung ke Ibu Nyai

NU Online  ·  Jumat, 18 September 2026 | 11:20 WIB

Jualan Kalender, Salah Sambung ke Ibu Nyai

Ilustrasi penjual sedang menawarkan kalender melalui telepon (Foto: AI)

Si penjual kalender ini sebenarnya punya modal penting: banyak kenalan tokoh. Jadi, selain modal kalender, modal relasi juga jalan.


Suatu hari, ia tahu ada seorang tokoh, sebut saja Kiai B, yang cukup dekat dengan Kiai A. Kebetulan, menurut cerita lama, Kiai A ini dulu pernah hendak dijodohkan dengan putrinya Kiai B. Namun, namanya juga jodoh, akhirnya tidak jadi.


Kiai A sendiri sekarang menjadi tokoh publik di Jakarta. Karena setiap akhir pekan biasanya pulang ke kampung halaman, si penjual kalender melihat ini sebagai peluang.


Ia pun menelepon Kiai B.


Penjual: “Halo, Kiai. Saya ini santrinya Kiai A. Kebetulan saya sedang jualan kalender. Barangkali Kiai berkenan pesan?”


Kiai B: “Baik. Saya pesan, asal Kiai A langsung yang menelepon saya.”


Penjual: “Siap, Kiai. Saya sampaikan kepada Kiai A.”


Si penjual kemudian menelepon Kiai A dan menjelaskan bahwa Kiai B mau memesan kalender, tetapi syaratnya harus Kiai A sendiri yang menelepon.


Karena merasa sudah dekat dan menganggap Kiai A orangnya humoris, si penjual mulai bercanda.


Penjual: “Kiai, saya sedang jualan kalender. Kebetulan yang saya tawarkan ke Kiai B itu yang dulu hampir jadi calon mertua Kiai, tapi nggak jadi. Nah, beliau minta Kiai langsung yang menelepon.”


Kiai A: “Oh, baik.”


Tutup telepon.


Si penjual langsung bengong.


“Lho, kok dingin banget? Biasanya kan beliau humoris…”


Baru beberapa detik kemudian ia sadar.


Hari itu akhir pekan.


“Jangan-jangan Kiai A sudah di rumah…”


Karena penasaran sekaligus mulai deg-degan, ia menelepon lagi.


Penjual: “Kiai, maaf tadi sinyalnya kurang bagus.”


Padahal sebenarnya sinyalnya baik-baik saja. Yang kurang baik cuma keberanian dia.


Lalu ia bertanya dengan nada penasaran:


Penjual: “Btw, Yai sekarang lagi di mana?”


Kiai A: “Ini lagi nyetir. HP-nya dipegang istri. Lagi loudspeaker juga.”


Jantung si penjual langsung pindah posisi.


Baru ia ingat, beberapa detik sebelumnya ia dengan santainya membahas soal “calon mertua”.


Panik. Gemetar. Keringat dingin.


Dengan suara terbata-bata, ia langsung mencoba menyelamatkan keadaan:


Penjual: “Maaf, Bu Nyai… tadi saya bercanda. Serius, bercanda, Bu Nyai…”


Dari seberang telepon terdengar jawaban santai:


Istri Kiai A: “Nggak apa-apa, Mas. Sudah biasa itu…”


Si penjual pun menarik napas lega.


Kalender belum laku, tapi nyaris dapat pengalaman hidup. 


Pelajaran hari itu: kalau mau jualan, jangan cuma tahu calon pembelinya. Pastikan juga tahu siapa yang sedang memegang HP-nya
 

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang