Internasional

Penerapan Fiqih Aqalliyat di Luar Negeri, Cukup Usap Sepatu Gantikan Basuh Kaki Saat Wudhu

NU Online  ·  Selasa, 24 Februari 2026 | 13:30 WIB

Penerapan Fiqih Aqalliyat di Luar Negeri, Cukup Usap Sepatu Gantikan Basuh Kaki Saat Wudhu

Direktur World Moslem Studies Center (Womester) Prof M Noor Harisudin dalam acara Pengajian dan Buka Bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa, Ahad (22/2/2026).

Ottawa, NU Online

Direktur World Moslem Studies Center (Womester) Prof M Noor Harisudin menjelaskan tentang penerapan fiqih aqalliyyat di luar negeri, yaitu fiqih bagi umat Islam yang tinggal di wilayah yang minoritas.


“Fiqih Luar Negeri itu yang Fiqih Aqaliyat. Ini fiqih untuk muslim yang hidup di negara dengan minoritas muslim seperti Kanada, Amerika, Australia, Taiwan, Belanda, Jerman, Hong Kong, Rusia, Jepang dan sebagai,” ujarnya dalam acara Pengajian dan Buka Bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Ottawa, Ahad (22/2/2026).


Terkait dengan fiqih luar negeri, Haris memberikan catatan bahwa Muslim luar negeri secara khusus mendapatkan rukhsah dari agama. Sebagaimana dikatahui, rukhsah adalah lawan dari azimah. Jika azimah adalah hukum asal, maka rukhash adalah hukum keringanan yang ditetapkan oleh Allah dalam keadaan tertentu (fi haalatin khassah).


“Karena ada kesulitan tertentu, maka muslim mendapatkan keringanan. Misalnya kesulitan mensucikan najis babi atau sering disebut dengan najis mugholladzoh. Menurut jumhur ulama, cara mensucikannya dengan tujuh kali basuhan dan salah satunya dengan debu. Nah sucikan dengan debu ini sulit di beberapa negara, maka diganti dengan sabun,” ujar Pengasuh PP Darul Hikam Mangli Jember, Jawa Timur itu.


Selain itu, ia juga menyebut mengusap sepatu sebagai rukhsah lain yang diberikan pada muslim di negara minoritas. Sebab, kesulitan mencopot alas kaki karena faktor cuaca atau tempat, maka tidak perlu dicopot. Terlebih, di sejumlah negara itu, tidak ada tempat wudhu, kecuali wastafel. Sementara mengangkat kaki ke wastafel saat berwudhu dianggap kumuh dan tidak sopan. 


"Maka kita boleh mengikuti pendapat ulama yang membolehkan massul khuffain di negara yang tadi saya sebut. Saya sendiri juga praktik massul khuffain di berbagai negara tersebut,” ujar Prof M Noor Harisudin.


Guru Besar Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmas Siddiq Jember itu mengatakan, meski ada kelonggaran dalam fiqih di luar negeri, ia mendorong Muslim Kanada agar terus berdakwah. Demikian ini agar umat Islam tidak menjadi minoritas selamanya, namun suatu saat nanti bisa mayoritas.


“Saya dengar di Montreal dulu hanya ada satu masjid tahun 1956. Kini Montreal sudah memiliki 30 masjid. Demikian juga masjid di Ottawa yang dulu hanya satu masjid, kini punya sepuluh masjid. Demikian kota-kota besar lain di Kanada,” kata Prof Harisudin.


Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Republik Indonesia di Kanada Muhsin Syihab menyampaikan ucapkan terima kasih atas kedatangan Prof M Noor Harisudin di Ottawa Kanada dalam rangka Safari Ramadhan 1447 Hijriah. Prof Haris dijadwalkan berdakwah di Kanada mulai 16 Februari hingga 3 Maret 2026.


“Selaku Dubes RI Kanada, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya di Auditorium KBRI Ottawa ini. Dan juga, kami terima kasih atas kedatangan tamu khusus kita, Prof M Noor Harisudin ke Kanada. Beliau datang dalam rangka Safari Ramadhan,” kata Muhsin Syihab.


Dalam kesempatan itu, Dubes Muhsin mengatakan Prof Haris adalah seorang yang ahli dalam ilmu hukum Islam. “Kemarin beliau ke Montreal, sekarang di Ottawa dan nanti akan ke Toronto,” kata Muhsin Syihab yang menjadi Dubes Kanada sejak Juli 2025.


Muhsin Syihab berharap agar digunakan untuk berkonsultasi tentang agama pada Prof Haris yang juga Guru Besar Ilmu Fikih di UIN Kiai Haji Achmas Siddiq Jember.


“Karena Prof Haris selama lima hari ke depan, Prof Haris akan mengisi di KBRI Ottawa,” ujar Muhsin Syihab, Dubes muda kelahiran 5 Juni 1970.


Buka puasa tersebut dihadiri lebih dari 100 jamaah diaspora Indonesia di Ottawa. Selain Dubes Muhsin Syihab beserta Keluarga Besar KBRI Ottawa, hadir juga Rezal Akbar Nasrun (Minister Counsellor), Ustadz Bani (Ketua Pengajian Masyarakat Muslim Indonesia Ottawa), Ustadaz Amin (Sesepuh PM2IO), Sigit Afrianto (Wakil Rais Syuriyah PCI NU As-Kanada)


Sebelum tausiyah Ramadhan, acara diawali dengan doa khataman Al-Qur’an oleh Ustadz Amin. Usai buka puasa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan shalat maghrib, isya dan tarawih berjamaah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang