Internasional

Pengorganisasian Massa dan Pergeseran Pemilih Jadi Kunci Kemenangan Demokrat di Basis Republik

NU Online  ·  Jumat, 6 November 2026 | 13:00 WIB

Pengorganisasian Massa dan Pergeseran Pemilih Jadi Kunci Kemenangan Demokrat di Basis Republik

Pemilihan paruh waktu Amerika Serikat 2026. (Foto: Dok Council on American-Islamic Relations, CAIR)

Jakarta, NU Online

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat 2026 memperlihatkan perubahan peta dukungan politik yang signifikan. Partai yang selama ini kesulitan menembus wilayah basis Partai Republik berhasil menarik dukungan dari berbagai kelompok pemilih. Pergeseran tersebut menunjukkan pentingnya membangun koalisi politik yang melampaui batas demografi dan afiliasi partai.


Hasil CNN Voter Poll yang dirilis pada Selasa (3/11/2026) menunjukkan sebagian besar pemilih, termasuk kelompok muda dan independen, lebih banyak memberikan suara kepada kandidat Demokrat dibandingkan dalam pemilihan paruh waktu sebelumnya. Perubahan ini turut menjelaskan besarnya kemenangan partai tersebut dalam pemilihan kongres tahun ini.


Salah satu perubahan paling mencolok terlihat dari kelompok pemilih muda. Pemilih berusia di bawah 30 tahun memberikan dukungan kepada Demokrat dengan selisih lebih besar dibandingkan pemilihan sebelumnya. Dukungan terhadap partai tersebut juga menguat di kalangan perempuan.


Sementara itu, keunggulan Partai Republik di kalangan pemilih laki-laki yang sebelumnya mencapai dua digit pada pemilihan paruh waktu 2022 kini menyusut. Pemilih laki-laki pada pemilihan tahun ini bahkan terbagi hampir seimbang antara kedua partai.


Demokrat juga berhasil mempersempit dominasi Republik di kalangan pemilih kulit putih. Partai tersebut memperoleh kembali sebagian dukungan dari pemilih kulit hitam dan Latino yang sempat bergeser ke Republik dalam pemilihan sebelumnya.


Dukungan juga datang dari kelompok berpendidikan tinggi. Pemilih kulit putih maupun kelompok minoritas yang memiliki gelar sarjana memberikan suara kepada Demokrat dengan selisih dua digit. Bahkan, pemilih kulit putih tanpa gelar sarjana yang sebelumnya menjadi basis keunggulan Republik menunjukkan perubahan kecenderungan politik.


Pergeseran tersebut tidak hanya terjadi pada kelompok demografi tertentu. Pemilih independen memberikan dukungan kepada Demokrat dengan selisih dua digit. Bahkan, sebagian pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai Republikan turut berpindah pilihan.


Kelompok pemilih yang memiliki pandangan negatif terhadap kedua partai atau dikenal sebagai double haters juga menjadi faktor penting. Jika pada pemilihan paruh waktu 2022 kelompok ini cenderung memilih Republik, pada 2026 mereka justru memberikan dukungan secara signifikan kepada Demokrat. Kelompok tersebut diperkirakan mencakup sekitar 15 persen dari total pemilih.


Ketidakpuasan terhadap Trump

Pergeseran dukungan politik tersebut tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya ketidakpuasan terhadap Presiden Donald Trump. Hasil jajak pendapat CNN menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump berada di bawah 40 persen di kalangan pemilih secara nasional.


Persoalan ekonomi menjadi salah satu sumber utama ketidakpuasan. Sekitar tiga perempat pemilih menilai kondisi ekonomi Amerika Serikat sedang buruk. Sebagian besar di antaranya menganggap kebijakan pemerintahan Trump turut bertanggung jawab atas kenaikan harga kebutuhan hidup.


Sekitar dua pertiga responden menilai kebijakan Trump memperburuk kondisi perekonomian nasional. Lebih dari 60 persen pemilih juga menganggap kenaikan biaya hidup lebih banyak disebabkan kebijakan pemerintah dibandingkan faktor-faktor di luar kendali presiden.


Kondisi ini menjadi ironi bagi Trump. Dua tahun sebelumnya, persoalan keterjangkauan biaya hidup menjadi salah satu isu yang membantunya kembali menduduki kursi kepresidenan. Namun, dalam pemilihan paruh waktu kali ini, banyak pemilih justru mengarahkan kekecewaan ekonomi mereka kepada pemerintahannya.


Ketidakpuasan tersebut bahkan meluas hingga ke negara-negara bagian yang dimenangkan Trump dengan mudah pada pemilihan presiden 2024. Artinya, penurunan dukungan terhadap presiden tidak hanya terjadi di wilayah yang sejak awal menjadi basis Demokrat.


Demokrat juga memperoleh keuntungan dari perubahan persepsi pemilih terhadap kemampuan kedua partai dalam menangani persoalan ekonomi. Secara nasional, pemilih memberikan keunggulan kepada Demokrat dalam isu tersebut. Bahkan, sebagian pemilih yang tidak mempercayai kedua partai dalam urusan ekonomi akhirnya lebih memilih kandidat Demokrat.


Data tersebut memperlihatkan bahwa kemenangan Demokrat terbentuk dari pertemuan berbagai kepentingan pemilih, yakni generasi muda yang menginginkan perubahan, kelompok independen yang kecewa terhadap pemerintah, hingga pemilih tradisional Republik yang mulai mempertanyakan kebijakan partainya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang