Jatim

Ketum PBNU Serukan Rawat Qanun Asasi sebagai Warisan Muassis

NU Online  ·  Senin, 12 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Ketum PBNU Serukan Rawat Qanun Asasi sebagai Warisan Muassis

​​​​​​​Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) saat Kick Off Hari Santri 2026 PWNU Jatim di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Ahad (11/10/2026). (Foto: NOJ/ dok PWNU Jatim)

Tuban, NU Online Jatim

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menekankan pentingnya merawat warisan muassis NU dalam memasuki abad kedua. Ia mengajak Nahdliyin memahami kembali sejarah perjalanan NU, khususnya peran Qanun Asasi sebagai landasan organisasi.

 

"Khususnya dalam membangun kesamaan pemikiran, karakter, dan gerakan di kalangan warga Nahdlatul Ulama," ujarnya saat acara Kick Off Hari Santri 2026 yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim di Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Ahad (11/10/2026).

 

Menurutnya, sejak awal berdiri, NU memiliki landasan yang menjadi pedoman dalam menjalankan organisasi dan mengarahkan pengabdian kepada umat. Nilai-nilai yang terkandung dalam Qanun Asasi juga menjadi bagian penting dari warisan para pendiri NU atau muassis yang perlu terus dipelajari dan diamalkan oleh generasi penerus.

 

"NU pada masa awal tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kebersamaan dengan berbagai organisasi Islam lainnya. Salah satunya melalui Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), yang didirikan pada 1937 sebagai wadah kerja sama sejumlah organisasi Islam dalam menghadapi kebijakan pemerintah kolonial Belanda," katanya.

 

Gus Kikin juga mengingatkan bahwa sejarah perjuangan NU mencapai momentum penting melalui Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut menjadi bagian dari semangat perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama ketika pasukan Sekutu memasuki Surabaya.

 

"Tanggal 22 Oktober itulah yang disebut sebagai momentum Resolusi Jihad. Jadi, ada Fatwa Jihad pada tanggal 17 September dan ada Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober," terangnya.

 

Peristiwa tersebut kemudian berkaitan erat dengan rangkaian perjuangan yang berpuncak pada pertempuran 10 November 1945. Menurutnya, sejarah ini perlu terus digali dan direnungkan agar generasi sekarang memahami bagaimana para pendahulu mampu membangun persatuan untuk menghadapi penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan.

 

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini menambahkan, memasuki abad kedua NU, semangat perjuangan para pendiri harus menjadi bekal untuk membangun kembali kebersamaan dan memperkuat ukhuwah. Menurutnya, ukhuwah islamiyah perlu berjalan beriringan dengan ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah. 

 

"Ketiganya menjadi landasan penting bagi NU. NU yang sangat inklusif dan terbuka ini mengajak kita bersama-sama membangun persatuan untuk menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat,” ungkapnya.

 

Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang