Kesehatan

Banjir Informasi Picu Logical Fallacy, Gen Z Perlu Waspada, Ini Saran Psikolog

NU Online  ·  Kamis, 23 April 2026 | 20:00 WIB

Banjir Informasi Picu Logical Fallacy, Gen Z Perlu Waspada, Ini Saran Psikolog

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Di era digital, generasi Z (Gen Z) dihadapkan pada banjir informasi yang dapat memicu kesalahan berpikir atau logical fallacy. Kondisi ini berpotensi memengaruhi cara individu dalam memahami informasi dan mengambil keputusan.


Psikolog klinis Jihan Salsabila Ramadhanyanti, yang bekerja di biro Kayanagrowth Lasem, Rembang, Jawa Tengah, menjelaskan bahwa dalam psikologi, logical fallacy tidak dibahas sebagai konsep utama, melainkan bagian dari cognitive biases atau distorsi kognitif.


Logical fallacy merupakan kesalahan dalam cara berpikir yang membuat seseorang menarik kesimpulan tidak akurat. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai bagian dari cognitive biases,” ungkap Jihan, lulusan magister profesi psikologi Universitas Islam Indonesia, Kamis (23/4/2026).


Ia menjelaskan, kecenderungan cognitive bias ditandai dengan kebiasaan mengambil jalan pintas dalam berpikir. Akibatnya, keputusan sering diambil secara cepat karena dipengaruhi emosi, pengalaman, dan persepsi individu.


Dari sisi perkembangan, Gen Z berada pada fase remaja hingga dewasa awal, di mana kemampuan berpikir logis sebenarnya sudah berkembang, tetapi belum selalu konsisten.


“Di tengah banyaknya informasi di media sosial, Gen Z cukup rentan karena arus informasi yang cepat, singkat, dan berulang,” jelasnya.


Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi individu untuk mampu mengontrol diri, tidak terburu-buru merespons, serta melakukan verifikasi informasi sebelum mempercayainya.


Ia menyebut setidaknya terdapat beberapa pola umum logical fallacy. Pertama, overgeneralization, yakni kecenderungan menarik kesimpulan luas dari satu pengalaman.


“Misalnya, ketika seseorang gagal sekali, ia menganggap akan selalu gagal, atau membaca satu isu di media sosial lalu menilai semuanya sebagai red flag,” ujarnya.


Kedua, black and white thinking, yaitu pola pikir yang melihat segala sesuatu hanya dalam dua kategori ekstrem. “Individu merasa jika tidak berhasil, berarti sepenuhnya gagal,” imbuhnya.


Ketiga, emotional reasoning, yaitu kondisi ketika individu menjadikan emosi sebagai dasar berpikir dan menganggap apa yang dirasakan sebagai fakta.


Selain faktor perkembangan, lingkungan juga turut memengaruhi munculnya distorsi kognitif. Paparan informasi yang sangat cepat membuat individu terbiasa mengambil kesimpulan secara instan.


Ia menambahkan, media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat logical fallacy, antara lain melalui confirmation bias (mencari informasi yang sesuai keyakinan), echo chamber effect (algoritma memperkuat sudut pandang tertentu), serta availability heuristic (informasi yang sering muncul dianggap benar).


Kondisi ini diperparah oleh budaya validasi di media sosial yang mendorong konformitas dan penggunaan pola pikir cepat serta emosional.


“Dampaknya, individu terus memperkuat confirmation bias. Informasi dipercaya bukan karena fakta, tetapi karena sesuai keyakinan, sementara informasi berbeda cenderung diabaikan,” jelasnya.


Dampak logical fallacy terhadap kesehatan mental dinilai cukup signifikan. Pola pikir yang tidak akurat dapat memengaruhi emosi dan perilaku, seperti memicu overthinking, kecemasan, penurunan kepercayaan diri, hingga konflik interpersonal.


Sebagai upaya penanganan, Jihan menyebut pendekatan cognitive behavior therapy (CBT) dapat membantu individu menyadari pola pikirnya, terutama pikiran otomatis yang sering muncul tanpa disadari.


Melalui cognitive restructuring, individu dilatih untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan serta mampu mengevaluasi pola pikir secara lebih rasional.


Ia juga menekankan bahwa logical fallacy erat kaitannya dengan kondisi emosi, seperti marah, takut, dan cemas, yang dapat memengaruhi cara berpikir menjadi lebih cepat dan kurang rasional.


Untuk menghindari hal tersebut, individu disarankan mengenali pola pikir otomatis, memeriksa kembali fakta, serta tidak langsung mempercayai informasi viral tanpa verifikasi.


“Meningkatkan kesadaran dalam berpikir juga penting. Kita bisa bertanya pada diri sendiri, menenangkan emosi terlebih dahulu, lalu mengambil keputusan secara lebih jernih,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang