Idul Adha Aman dan Sehat, Ini Tips Konsumsi Daging agar Terhindar dari Stroke
NU Online · Selasa, 26 Mei 2026 | 19:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ingar-bingar kemeriahan Idul Adha 1447 H telah tiba. Hari raya ini identik dengan tradisi makan bersama keluarga dan berbagi daging kurban. Namun, konsumsi daging secara berlebihan perlu diwaspadai, terutama bagi penderita hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, maupun mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi.
Dokter spesialis neurologi Heri Munajib menyampaikan bahwa perayaan Idul Adha perlu dijalani dengan kehati-hatian, terutama terkait konsumsi daging merah seperti kambing, sapi, atau domba.
“Penderita dengan faktor risiko tersebut sebenarnya boleh mengonsumsi daging saat Iduladha, asalkan porsinya tidak berlebihan dan cara pengolahannya tepat,” ungkap Heri kepada NU Online, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, beberapa studi menunjukkan kasus stroke dapat meningkat setelah Iduladha akibat konsumsi daging secara berlebihan.
Konsumsi lemak jenuh, garam tinggi pada olahan daging seperti gulai atau rendang, serta jeroan berisiko menyumbat pembuluh darah, memicu kolesterol, dan menaikkan tekanan darah secara cepat.
Berikut sejumlah tips menjaga kesehatan saat Iduladha untuk mencegah stroke.
Batasi Porsi Daging
Angka aman konsumsi daging yang direkomendasikan ialah 1-3 kali makan per pekan dengan porsi sekitar 56-85 gram sekali makan.
“Sebagai gambaran, 50 gram daging kira-kira seukuran satu potong kecil atau setengah telapak tangan. Sementara bagi orang sehat, batas aman konsumsi daging merah sekitar 50-100 gram per hari,” jelasnya.
Namun, batas konsumsi tersebut tidak sama untuk semua orang. Penderita hipertensi, kolesterol tinggi, dan stroke sebaiknya lebih membatasi konsumsi daging merah maupun makanan olahan berbahan daging.
Pilih Bagian Rendah Lemak
Penderita disarankan memilih bagian daging yang rendah lemak, misalnya bagian sirloin, paha belakang (round), atau pinggang (loin) pada daging sapi.
“Bagian ini mengandung lemak lebih sedikit dibandingkan bagian lainnya. Selain itu, batasi konsumsi jeroan seperti hati atau usus,” ujar Heri yang juga Ketua Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Hindari Santan dan Garam Berlebih
Cara memasak yang sehat seperti merebus, memanggang, atau mengukus dinilai lebih baik untuk menjaga kesehatan. Ia juga mengingatkan agar tidak menggunakan garam dan bumbu secara berlebihan karena dapat meningkatkan tekanan darah.
“Mengontrol konsumsi garam sangat penting bagi penderita hipertensi, stroke, dan penyakit jantung. Kementerian Kesehatan menyarankan batas konsumsi natrium tidak lebih dari 2.000 miligram atau sekitar 5 gram per hari agar tekanan darah tetap stabil,” katanya.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat menghindari makanan olahan dan makanan cepat saji yang umumnya mengandung kadar garam tinggi.
Konsumsi Sayur dan Buah
Heri juga menekankan pentingnya menyeimbangkan konsumsi daging dengan serat dari sayur dan buah untuk membantu mengontrol kolesterol.
Buah dan sayur kaya akan serat, vitamin, mineral, serta antioksidan yang dapat membantu menurunkan risiko stroke dan memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.
Selain itu, sumber protein rendah lemak seperti tempe, tahu, putih telur, kacang-kacangan, dan yogurt juga baik dikonsumsi. Adapun makanan kaya asam lemak omega-3 seperti ikan salmon, makarel, dan sarden dianjurkan karena dapat membantu mengurangi peradangan dan menekan risiko stroke.
Cegah Dehidrasi dan Tetap Aktif
Ia juga mengimbau masyarakat untuk mencukupi kebutuhan air putih dan rutin melakukan olahraga ringan setidaknya 30 menit per hari agar metabolisme tubuh tetap optimal.
Menurut Heri, masyarakat juga perlu mengenali gejala stroke sejak dini melalui metode BEFAST, yakni Balance, Eyes, Face, Arms, Speech, dan Time.
Gejala tersebut meliputi kehilangan keseimbangan secara mendadak, pusing seperti terombang-ambing, atau pandangan terasa berputar.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami pandangan kabur, buram, hingga penglihatan ganda (diplopia) secara tiba-tiba.
Gejala lain yang perlu diwaspadai ialah wajah tampak tidak simetris, kesemutan pada separuh wajah, lemas pada anggota gerak, sulit menggerakkan tubuh sebelah sisi, hingga gangguan bicara seperti pelo atau bicara tidak jelas.
“Jika mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis. Bagi dokter spesialis neurologi, waktu adalah otak,” tegasnya.
Karena itu, apabila menemukan seseorang dengan gejala BEFAST, masyarakat diminta segera membawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat agar memperoleh penanganan cepat dan tepat sehingga dapat memperkecil risiko kecacatan maupun kematian.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Adha 1447 H: Kurban dan Indahnya Berbagi untuk Sesama
2
Qadha Puasa Ramadhan di Hari Tarwiyah dan Arafah, Tetap Dapat Pahala Puasa Sunnah?
3
Lafal Niat Puasa Tarwiyah Malam Ini dan Keutamaan Melaksanakannya
4
Sumatra Blackout: Dari Aceh hingga Lampung, Aktivitas Warga Lumpuh
5
NU Care LAZISNU Perkuat Program Ekonomi UMKM di Pringsewu Lampung
6
Alih Fungsi Lahan hingga Konflik Agraria Membayangi 10 Tahun Perjanjian Paris di Pulau Jawa
Terkini
Lihat Semua