Ahmad Tohari: Guru Menulis Saya Itu Gus Dur
NU Online · Rabu, 17 September 2014 | 00:16 WIB
Yogyakarta, NU Online
Sastrawan Ahmad Tohari bercerita, pada tahun 1981 saat pertama kali tulisannya dimuat di sebuah media massa, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memanggilnya. Ia yang saat itu mengira akan menerima pujian dari Gus Dur justru malah mendapatkan kritikan tajam. <>
âTapi setelah mendapat kritikan tajam itu menjadi motivasi saya, dan setelah itu saya menulis Ronggeng Dukuh Paruk,â ujarnya di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (16/9). Sejujurnya ia katakan, guru menulisnya adalah Gus Dur.
Ahmad Tohari menjadi pembicara dalam Bedah Buku âMaha Cintaâ. Ia menyampaikan kritik tentang novel Aguk Irawan MN. Menurutnya ketika Marwa masih hadir di dalam hati Imron, maka itu akan menjadi hijab atau penghalang bagi Sang Maha Cinta. Karena ketika Imron ditawari untuk menikahi Laila yang lebih cantik dari Marwa, Imron menolaknya.
âJadi seharusnya Imron tidak menolak ketika diminta untuk menikahi Laila. Seperti ketika Rasulullah diminta untuk menikahi Aisyah, Rasulullah tunduk pada Sang Maha Cinta. Meski Rasulullah masih mencintai Khadijah,â ungkapnya.
Ia meminta penulisnya untuk menulis buku kedua sebagai lanjutan kisah Imron itu. âTulislah buku yang kedua supaya tuntas betul kebenaran Sang Maha Cintanya,â tandas Ahmad Tohari.
Sastrawan asal Banyumas itu menambahkan, cinta adalah hal yang paling ditakutinya karena dianggap sakral. Oleh karena itu ia menulis novel cinta tapi tanpa satu kata cinta pun di dalamnya, yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.
Selain dihadiri oleh Ahmad Tohari dan Aguk Irawan MN sebagai pembicara, bedah buku itu juga dihadiri oleh Kiai Kuswaidi Syafiâi atau Cak Kus, kritikus sastra sekaligus pengasuh Pesantren Maulana Rumi Bantul. (Dwi Khoirotun Nisaâ/Anam)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua