Nasional

Alissa Wahid: Layani Jamaah Haji Lansia Butuh Pendekatan dan Pemahaman Karakter, Bukan Sekadar Fisik

NU Online  ·  Rabu, 21 Januari 2026 | 11:30 WIB

Alissa Wahid: Layani Jamaah Haji Lansia Butuh Pendekatan dan Pemahaman Karakter, Bukan Sekadar Fisik

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Alissa Wahid di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa (20/1/2026). (Foto: Kemenhaj)

Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Alissa Wahid mengatakan tantangan terbesar dalam melayani jamaah haji lansia bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga soal pendekatan dan pemahaman karakter.


Hal ini disampaikan Alissa saat pembekalan kepada peserta Pendidikan dan Pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (Diklat PPIH) Arab Saudi Tahun 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026).


Petugas haji, tambahnya, harus mampu memosisikan diri sebagai pelayan yang sabar, memahami keterbatasan lansia, sekaligus cakap dalam memanfaatkan teknologi informasi.


"Ibadah haji adalah puncak dari kehidupan setiap muslim, terutama bagi jamaah lansia. Bisa jadi ini adalah perjalanan terakhir mereka. Karena itu, mari kita berikan pelayanan yang terbaik," ujar Alissa dilansir laman Kemenhaj.


Alissa menyebut teknologi informasi itu penting, tapi jangan dipaksakan kepada jamaah lansia sebab daya tangkap mereka berbeda.
"Justru petugaslah yang harus menguasai teknologi itu untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi para lansia," jelasnya.


Ia menekankan, aplikasi dan sistem digital seharusnya menjadi alat bantu bagi petugas, bukan beban tambahan bagi jamaah lanjut usia.


Selain lansia, Alissa juga menyoroti pentingnya pelayanan yang sensitif terhadap kebutuhan jamaah haji perempuan. Ia mengapresiasi peningkatan jumlah petugas haji perempuan yang kini mencapai 30 persen.


"Saya senang sekali tahun ini petugas perempuan bertambah. Pada tahun 2022, jumlah pembimbing dan petugas perempuan masih sangat sedikit, padahal kebutuhan jemaah perempuan itu berbeda dengan laki-laki," ungkapnya.


Ia menegaskan, pemerintah perlu memastikan fasilitas bagi jamaah perempuan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka, mulai dari akomodasi hingga fasilitas sanitasi.


Alissa pun berbagi pengalaman saat bertugas pada haji 2022, ketika di lapangan harus dilakukan improvisasi kebijakan, seperti pembagian waktu dan penggunaan kamar mandi laki-laki untuk perempuan karena keterbatasan fasilitas.


"Kebijakan-kebijakan spontan di lapangan itu seharusnya direspons secara sistematis, agar ke depan tidak lagi improvisasi, tetapi sudah menjadi bagian dari sistem,” jelasnya.


Alissa menegaskan bahwa menjadi petugas haji adalah amanah besar, terlebih ketika melayani jemaah lansia dan perempuan.


"Petugas haji harus menyiapkan diri, meluruskan niat, dan hadir sepenuh hati untuk melayani. Petugas adalah sumber rasa aman dan rasa nyaman bagi jamaah,” katanya.


Ia berharap, dengan pelayanan yang penuh empati dan sistem yang semakin ramah, ibadah haji para jemaah terutama lansia dan perempuan dapat berlangsung lebih lancar, khusyuk, dan bermakna.


"Ketika jamaah merasa aman dan nyaman, di situlah pelayanan haji benar-benar bernilai ibadah,”tandasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang