Anak Muda Didorong Jadi Pelopor Kesadaran Bencana
NU Online · Ahad, 27 Desember 2020 | 10:30 WIB
Abdul Rahman Ahdori
Kontributor
Jakarta, NU Online
Bencana alam di hampir seluruh wilayah di Indonesia kerapkali terjadi. Peristiwa nahas itu telah mengakibatkan korban jiwa dan diprediksi telah merugikan materi masyarakat yang mencapai miliaran rupiah. Sampai detik ini, tidak ada yang dapat mengendalikan secara optimal terhadap bencana yang rutin melanda Indonesia tersebut.
Berdasarkan data pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2020 ada 2.256 kejadian bencana alam. Dari jumlah tersebut, hampir 50 persennya terjadi di Pulau Jawa, yakni sebanyak 1.208 kejadian.
Data ini kemungkinan bertambah mengingat data tersebut perhitungan Januari hingga Oktober 2020. Sebab untuk Nopember dan Desember 2020 tahun ini masih dalam tahapan penyelesaian. Bencana alam juga telah menyebabkan 307 orang meninggal dunia dan 25 orang lainnya masih hilang atau belum ditemukan hingga saat ini.
Kemudian, jumlah orang luka-luka akibat bencana alam yaitu, 469 orang. Tak hanya itu, ada 34.100 rumah warga yang rusak. Sementara jenis bencana alam yang menimpa masyarakat tersebut antara lain banjir, gempa bumi, tsunami, longsor dan gunung meletus.
Pada Diskusi Daring Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Sabtu (26/12) malam, bertajuk Yang Muda yang Sadar Bencana, Founder Yayasan Gerakan Indonesia Sadar Bencana (Graisena) Ranggie Ragatha, mendorong keterlibatan anak muda untuk mengendalikan bencana yang kerapkali menimpa Indonesia.
Menurutnya, anak muda dapat memulai hal itu dari lingkungan terkecil yakni keluarga dan masyarakat sekitar. Peranan anak muda tersebut dapat dilalui dengan cara edukasi dan sosialisasi secara informal kepada masyarakat.
Misalnya, menyadarkan pentingnya menjaga ekosistem alam, menjaga kebersihan dan menjaga lingkungan dari segala macam ancamannya. Anak muda harus menjadi pelopor kesadaran terhadap bencana yang akan terjadi.
Ia menjelaskan, mengajak masyarakat untuk berbuat baik memanglah tidak muda. Terkadang, ketika ada individu masyarakat yang cepat emosi ketika diingatkan. Maka kita harus menahan diri ketika menghadapi masyarakat tersebut.
"Semua harus pihak menahan diri," ujar Ranggie.
Dihubungi terpisah, Ketua Lembaga Penanggulanagan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Ali Yusuf mengatakan, masyarakat harus mengambil pelajaran dari kejadian bencana yang terjadi sebelumnya.
Kata dia, jika lingkungannya sering terjadi banjir seharusnya dapat mengambil pelajaran dan sudah mengetahui bagaimana cara menanggulanginya.
"Seharusnya memang sudah tahu cara menanggulanginya, aneh kalau lingkungannya sering kena bencana tetapi kita masih tidak tahu bagaimana cara menyikapinya," tuturnya.
Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
3
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
4
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua