Nasional

Apresiasi Festival Muharram di Aceh, Menag Ajak Umat Islam Lestarikan Belajar Mengajar

NU Online  ·  Senin, 29 Juni 2026 | 08:30 WIB

Apresiasi Festival Muharram di Aceh, Menag Ajak Umat Islam Lestarikan Belajar Mengajar

Menag Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi atas pelaksanaa Gema Muharram 1448 Hijriah dan Festival Qira’atul Kutub Al-Aziziyah 2026 (Foto: Kemenag)

Jakarta, NU Online
Menteri Agama H Nasaruddin Umar mengajak para santri dan alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga untuk terus melestarikan tradisi beut seumeubeut, yakni belajar dan mengajar, sebagai bagian dari perjuangan menjaga kesinambungan keilmuan Islam.


Pesan tersebut disampaikan Menag melalui tayangan video pada penutupan Gema Muharram 1448 Hijriah dan Festival Qira’atul Kutub Al-Aziziyah se-Indonesia di kompleks Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, Jumat malam (26/6/2026).


Menag menyampaikan ucapan selamat kepada keluarga besar Dayah MUDI atas terselenggaranya kegiatan tahunan tersebut. “Saya, Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, mengucapkan selamat atas penyelenggaraan Gema Muharram 1448 Hijriah dan Festival Qira’atul Kutub Al-Aziziyah se-Indonesia,” ujar Nasaruddin dalam rekaman video.

 

Ia mengapresiasi tema kegiatan, yakni Santri Meusyuhu, Nanggroe Maju. Menurutnya, tema tersebut mencerminkan visi besar mengenai peran santri dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang maju, bermartabat, dan penuh keberkahan.


“Ketika santri meusyuhu tumbuh sebagai sosok yang luas wawasannya, mulia akhlaknya, dan dalam spiritualitasnya, maka nanggroe akan maju, penuh berkah, dan bermartabat,” tuturnya.


Warisan Abon Aziz Samalanga
Di tengah pelaksanaan festival dan kompetisi literasi klasik tersebut, Nasaruddin mengajak para santri untuk kembali meresapi warisan keilmuan Teungku Haji Abdul Aziz bin Shaleh atau Abon Aziz.Warisan itu diwujudkan melalui tradisi beut seumeubeut ( belajar dan mengajar) yang selama ini menjadi fondasi pendidikan di Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga.


“Di tengah gema festival dan kompetisi literasi klasik ini, saya mengajak kita semua untuk kembali menundukkan kepala, meresapi warisan pesan Teungku Haji Abdul Aziz bin Mahmud Shaleh atau Abon Aziz untuk melestarikan tradisi beut seumeubeut, yang artinya belajar dan mengajar,” katanya.


Menurut Menag, tradisi belajar dan mengajar merupakan amanah perjuangan yang tidak boleh berhenti. Tradisi itu bukan sekadar kegiatan penyampaian ilmu di ruang pengajian, tetapi juga berkaitan dengan kesinambungan sanad dan silsilah keilmuan Islam.

 

“Amanah ini merupakan perjuangan yang tidak boleh padam. Pesan ini bukan hanya tentang aktivitas transfer ilmu di madrasah, tetapi juga berkaitan dengan silsilah keilmuan Islam yang harus terus dijaga,” tegasnya.

 

Menag kemudian berpesan agar para santri dan alumni Dayah MUDI mampu mengamalkan ilmu serta menghadirkan manfaat di tengah masyarakat. “Santri dan alumni Dayah MUDI harus menjadi pelita dan penyejuk bagi umat,” pesannya.

 

Kitab Kuning Tak Pernah Usang
Menag Nasaruddin menegaskan bahwa kitab kuning tetap relevan untuk dikaji di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, khazanah keilmuan ulama terdahulu merupakan sumber pengetahuan yang dapat menjadi pijakan dalam menjawab berbagai persoalan kontemporer.


“Melalui Festival Qira’atul Kutub ini, mari kita buktikan bahwa kitab kuning tidak pernah usang. Ia adalah mata air pengetahuan yang relevan dalam menjawab tantangan zaman global,” ujarnya.


Ia juga mengajak para peserta untuk menjadikan festival tersebut sebagai sarana meningkatkan kemampuan membaca, memahami, dan mengembangkan kandungan kitab-kitab turats.


“Selamat berkompetisi sekaligus turut merayakan Gema Muharram 1448 Hijriah. Teruslah belajar, teruslah mengajar. Jadilah santri yang meusyuhu untuk Indonesia yang maju,” pungkasnya.


Penutupan Gema Muharram dan Festival Qira’atul Kutub Al-Aziziyah berlangsung khidmat. Kegiatan tersebut dihadiri para masyayikh, pimpinan dayah, guru, santri, alumni, wali santri, serta tamu undangan dari berbagai unsur.


Festival tersebut menjadi bagian dari upaya Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dalam melestarikan kajian kitab kuning, memperkuat tradisi keilmuan dayah, dan mempersiapkan kader ulama yang berwawasan luas, berakhlak mulia, serta mampu mengabdi kepada umat.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang