Arya Wedakarna Tunjukkan Politik Identitas, Akademisi: Muncul karena Ketiadaan Ide
NU Online · Kamis, 4 Januari 2024 | 21:00 WIB
Anggota DPD RI Arya Wedakarna saat ini sedang menuai kecaman karena pernyataannya yang menuai polemik lantaran menyinggung politik identitas. Ia menyebut tak perlu ada petugas di front line Bandara Ngurah Rai Bali, dan mengatakan Bali bukan Timur Tengah. (Foto: instagram Arya Wedakarna)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Jakarta, NU Online
Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Arya Wedakarna menuai kecaman berbagai pihak karena pernyataannya yang menyinggung politik identitas. Ia menyebut tidak perlu ada petugas berjilbab di front line Bandara Ngurah Rai Bali.
Arya justru menginginkan agar petugas di tempat tersebut rambutnya terlihat. Karena ia beralasan bahwa Bali bukanlah Timur Tengah. Hal tersebut disampaikannya saat rapat Komite I DPD RI bersama jajaran Bandara Ngurah Rai pada Jumat (29/12/2023) lalu.
Melihat fakta demikian, Akademisi Universitas Nasional Andi Achdian menyampaikan bahwa politik identitas menjadi sesuatu yang tidak dapat terhindarkan karena tidak ada hal yang ditawarkan dari politisi. Hal ini juga diakibatkan dari ketiadaan wacana politik struktural yang muncul pada era Reformasi ini.
"Pembelahan masyarakat berdasarkan identitas menjadi fenomena yang saya kira menjadi tidak terhindar," katanya kepada NU Online pada Kamis (4/1/2023).
Politik yang mendasarkan pada identitas keagamaan, kesukuan, ras atau semacamnya itu muncul karena ketiadaan ide dari sang politisi. Hal tersebut menjadi barang mudah nan murah yang dipilih politisi guna mendapatkan dukungan.
"Tidak punya ide yang struktural yang urgensinya kuat di kalangan generasi sekarang. Mereka mencari cara mudah untuk mengangkat isu agama, ras. Isu murah," ujar Ketua Program Studi Sosiologi Universitas Nasional itu.
Sebab menurut Andi, isu agama dan ras tidak memerlukan riset untuk menggali dan mendalaminya sehingga disebut sebagai isu murah. Apalagi hal tersebut tidak memberikan implikasi apa-apa terhadap pengembangan program.
"Sentimen primordial yang tidak memberikan pekerjaan apa pun juga selain cuma mengangkat isu itu, tidak punya implikasi program," katanya.
Baca Juga
Geliat Nahdliyyin Pulau Bali
Hal itu juga disebabkan oleh melenyapnya transformasi struktural seperti isu keadilan sosial ataupun isu kontemporer seperti lingkungan dan HAM.
"Saya kira memang sampai hari ini di Indonesia sebuah wacana politik struktural tidak muncul di permukaan. Yang ada adalah yang identitas itu," ujar Andi.
Atas kasusnya tersebut, Arya dilaporkan oleh sejumlah pihak ke polisi. Sebab, ucapannya dinilai mengandung unsur kebencian terhadap suku, agama, atau ras (SARA) tertentu.
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
3
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
4
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua