Beda Lebaran, Warga NU Senang Tetap Harmonis dengan Muhammadiyah
NU Online · Sabtu, 4 Oktober 2014 | 23:01 WIB
Bandung, NU Online
Pemerintah melalui Kementerian Agama RI menetapkan bahwa Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Ahad (5/10) ini. Namun demikian, perbedaan tak bisa dihindari. Seperti yang terjadi di Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Warga Muhammadiyah setempat melaksanakan shalat Ied, Sabtu pagi (4/10).
<>
Menurut Laido (50) salah satu warga Muhammadiyah, perbedaan hari raya Idul Adha adalah masalah khilafiyah saja. Pemahaman masalah agama, kata dia, tergantung dari masing-masing orang. Menurutnya, sikap seseorang dipengaruhi kedalaman ilmu yang dimilikinya.
Laido beranggapan, perbedaan itu gampang diucapkan, tapi susah dilaksanakan. Meskipum begitu ia tetap selalu berusaha untuk bisa menyikapi perbedaan dengan baik. âHari ini adalah rahmat bagi umat Islam,â ungkap warga Cileunyi itu kepada NU Online sesaat sebelum melaksanakan jamaah shalat ied bersama-sama warga Muhammadiyah, di lapangan ASDP Dishub Jabar.
Tentang warga NU yang saat itu belum merayakan Idul Adha, baginya mesti disikapi dengan toleran. âJangankan dengan umat Islam sendiri, kita dengan agama-agama dunia juga menghormati. Jadi umat Islam tidak boleh antara saling menyalahkan, yang jelas saling mengisi. Itu no problem bagi kita,â tegas pria asal Permata Biru Cileunyi itu.
Senada dengan Laido, Kosran dalam kesempatan yang sama memandang perbedaan adalah rahmatullah. Sehingga ia dapat menyikapi baik kepada tetangganya yang NU dengan cara saling menghormati terhadap keyakinan masing-masing, karena memiliki dalil masing-masing yang kuat.
âHarapan saya, ukhuwah tetap terjaga dan tidak mudah terbecah belah,â tutur pria usianya 42 tahun itu.
Berbeda dengan Herman yang pada saat itu memakai sarung, baju koko dan peci putih, ia tidak berpikir adanya perbedaan dalam momen Idul Adha ini. Herman mengikuti pendapat yang ia anggap pendapat terbaik.
Herman juga menilai toleransi itu harus ada. âKita harus saling memahami, kita harus tahu masing-masing dan tidak saling mengganggu. âKita tetap harus saling menjaga toleransi,â imbuhnya.
Sementara itu, H. Edi tokoh masyarakat di Cibiruhilir Cileunyi yang rumahnya tidak jauh dari tempat shalat ied warga Muhammadiyah mengatakan, âSeng arep lebaran saiki yo silahkan, seng arep lebaran sesok ya rapopo (Yang ingin idul Adha sekarang silahkan, yang ingin besok tidak apa-apa),â kata warga NU ini.
Masalah perpecahan itu dilakukan orang-orang yang tidak memahami Islam yang sebenarnya. âJadi masalah Muhammadiyah, NU dan lainnya yang penting Islam,â ujarnya pria keturunan Banjarnegara itu.
Atas sikap toleransi warga Muhammadiyah di sekitarnya, ia merasa senang. Yang penting baginya tidak ada permusuhan, karena warga Muhammadiyah juga sesama saudara muslim.
H. Edi menambahkan, hubungan warga NU dan Muhammadiyah setempat selama ini tidak ada masalah. Karena pada hari-hari biasa warga shalat jumat jadi satu. âHal-hal begitu yang penting kita bermasyarakat yang baik,â pungkasnya. (Muhammad Zidni Nafiâ/Mahbib)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua