Bencana Banjir dan Longsor Bukan Sekadar Cuaca, Jejak Kerusakan Ulah Manusia Makin Nyata
NU Online Ā· Ahad, 25 Januari 2026 | 09:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ā
Bencana banjir dan tanah longsor yang terus berulang di berbagai wilayah Indonesia kerap dipersepsikan sebagai dampak cuaca ekstrem semata. Namun, pandangan tersebut menyesatkan karena jejak kerusakan alam yang dibuat oleh manusia telah menciptakan kerentanan ekologis yang berujung pada bencana.
Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung Zaky Yamani menegaskan bahwa kerusakan lingkungan merupakan faktor utama yang sering diabaikan dalam membaca bencana ekologis. Menurutnya, hilangnya hutan dan rusaknya bentang alam akibat aktivitas manusia telah memutus sistem penyangga kehidupan.
āKerusakan alam sudah pasti, tapi sering yang kita lupakan itu bagaimana dampak hilangnya hutan, atau besarnya alam,ā ujar ujarnya dalam Acara Ekologi Dalam Krisis bertanjuk Bencana Ekologis dan Tanggung Jawab Manusia di Gramedia Matraman, Jakarta pada Sabtu (24/1/2026).
Ia mengatakan bahwa hanya manusia yang memiliki kemampuan sekaligus kecenderungan untuk merusak ruang hidup makhluk lain. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh satwa liar yang kehilangan habitatnya.
āHanya manusia yang membuat binatang dan manusia lain jadi gelandangan. Karena binatang lain tidak ada yang membuat makhluk lain jadi gelandangan. Hanya manusia yang membuat orang lain sesama manusia dan binatang menjadi gelandangan,ā katanya.
Fenomena munculnya satwa liar ke wilayah permukiman menjadi salah satu bukti nyata kerusakan ekologis. Zaky mencontohkan fenomena kemunculan satwa liar ke permukiman warga sebagai alarm krisis ruang hidup.
āBeberapa bulan lalu di Sumatra, ternyata masih ada harimau di Sumatra,ā ujarnya.
Sementara itu, Ayu Welirang, penulis, menyoroti dampak lanjutan bencana banjir dan longsor yang kerap luput dari perhatian, yakni pencemaran laut akibat sampah yang terbawa aliran air.
Menurutnya, longsor dan hujan deras tidak hanya merusak wilayah daratan, tetapi juga memperparah krisis lingkungan di wilayah pesisir dan laut.
āKetika longsor dan hujan gitu mungkin ada beberapa sampah yang terbawa sampai ke laut. Jadi efeknya akan lebih parah lagi ke laut,ā kata Ayu.
Ia menjelaskan bahwa sampah, terutama plastik, akan terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi manusia.
āTerus nanti bisa dimakan ikan, terus ikannya itu kita makan, jadi mikroplastiknya sampai ke kita,ā ujarnya.
Menurut Ayu, persoalan ini menunjukkan bahwa dampak bencana ekologis bersifat berlapis dan jangka panjang. Ia menilai masyarakat tidak bisa sepenuhnya bergantung pada negara untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin kompleks.
āKita udah tidak bisa nunggu pemerintah untuk membuat suatu gerakan atau mungkin sesuatu yang lebih meng-enforce gitu ya,ā katanya.
Ayu mendorong perubahan dimulai dari kesadaran individu dan komunitas, salah satunya melalui pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
āJadi harus kembali ke kita. Nah, kita sendiri gimana caranya ya, kita memulai dengan hal kecil kayak kita mulai bikin konsumsi lokal,ā ucap Ayu.
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
3
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
4
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
5
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
6
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
Terkini
Lihat Semua