BMKG Ungkap El Nino Sudah Kuat, Kesiapsiagaan Hadapi Kekeringan dan Karhutla Tak Bisa Ditunda
NU Online · Kamis, 30 Juli 2026 | 10:30 WIB
Tangkapan layar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Selasa (28/7/2026).
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena El Nino di Indonesia telah memasuki kategori kuat. Kondisi ini mengancam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Nino dinyatakan aktif ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.
“Saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasi terkait dengan kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan bahwa meningkatnya El Nino berpotensi memperpanjang periode tanpa hujan, menurunkan cadangan air, mengganggu produksi pertanian, hingga meningkatkan risiko kebakaran di kawasan gambut yang selama ini menjadi titik rawan karhutla.
Faisal menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tersebut tidak bisa ditunda lagi. Sebagai langkah antisipasi, operasi modifikasi cuaca (OMC) akan dipercepat untuk mengisi waduk-waduk strategis di berbagai daerah.
“BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan juga pihak swasta untuk pengisian waduk,” katanya.
“Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih,” lanjutnya.
Ia menyampaikan bahwa OMC juga telah dilakukan di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk menekan risiko karhutla.
“Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi,” ujarnya.
Faisal mengatakan bahwa operasi dilakukan ketika muka air tanah gambut turun hingga batas tertentu. Menurutnya, menjaga lahan gambut tetap jenuh merupakan upaya mencegah kebakaran.
“Jadi kita menjaga agar muka air di sana tetap pada kondisi normalnya agar kondisinya dalam keadaan jenuh. Kalau dia jenuh maka tidak akan mudah terbakar,” katanya.
Terpopuler
1
PBNU Siapkan Peluncuran Sa'adatuna, Ekosistem Digital Penghubung Warga NU hingga Akar Rumput
2
Innalillahi, Putra Bungsu KH Wahab Chasbullah Wafat
3
Meski Diancam AS, Anwar Ibrahim Tetap Larang Warga Israel Masuk Malaysia
4
Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim
5
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah Mengendalikan Amarah
6
PCINU Hongkong dan Taiwan Desak Muktamar Ke-35 NU Bahas Regulasi Kelembagaan Cabang Istimewa
Terkini
Lihat Semua