Nasional

BPS: Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Tingkatkan Risiko Gagal Panen Padi

NU Online  ·  Selasa, 6 Januari 2026 | 13:00 WIB

BPS: Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar Tingkatkan Risiko Gagal Panen Padi

Ilustrasi lahan pertanian gagal panen. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online 

Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti potensi gangguan produksi padi akibat bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Banjir di tiga provinsi tersebut dinilai berisiko meningkatkan kegagalan panen pada musim tanam berjalan.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengungkapkan hasil pemantauan menunjukkan sebagian lahan pertanian padi di wilayah terdampak berada dalam kondisi rawan gagal panen. Dari total lahan padi yang ada, sekitar 11,43 persen tercatat masuk dalam kategori berpotensi tidak menghasilkan panen.


Menurut BPS, tingginya risiko tersebut berkaitan erat dengan curah hujan ekstrem yang terjadi pada November 2025. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banjir di sejumlah sentra produksi padi, sehingga mempengaruhi kondisi tanaman dan lahan pertanian.


"Proporsi potensi gagal panen ini meningkat tajam dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya," ujarnya saat konferensi pers, Senin (5/1/2026) dikutip NU Online melalui Youtube Badan Pusat Statistik.


Selain risiko gagal panen, BPS juga mencatat kondisi lahan padi yang masih berada pada fase pertumbuhan atau standing crop di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pada November 2025, proporsi lahan standing crop di tiga provinsi tersebut tercatat sebesar 34,63 persen.


Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada November 2024, proporsi lahan padi yang berada pada fase standing crop tercatat sebesar 36,70 persen.


BPS menilai perubahan kondisi tersebut berpengaruh terhadap realisasi panen pada November 2025, sekaligus menjadi faktor yang perlu dicermati dalam proyeksi panen beberapa bulan ke depan.


"Kondisi tersebut di atas berdampak pada luas panen November 2025 dan dapat mempengaruhi potensi luas panen 3 bulan ke depan," ucapnya.


Kondisi nasional lahan padi

Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) BPS pada November 2025, secara nasional sebagian besar lahan pertanian berada pada fase standing crop. Proporsinya mencapai 33,25 persen dari total lahan pertanian padi di Indonesia.


Selain itu, BPS mencatat lahan yang ditanami komoditas selain padi mencapai 26,26 persen. Sementara lahan dalam tahap persiapan tanam tercatat sebesar 17,16 persen. 


Adapun lahan yang diberakan atau dibiarkan mencapai 14,87 persen, lahan yang sedang dipanen 7,19 persen, dan lahan dengan potensi gagal panen secara nasional berada pada angka 1,26 persen.


BPS juga mengamati adanya pergeseran fase lahan dibandingkan bulan sebelumnya.


"Pada November 2025 seiring dengan peningkatan proporsi fase standing crop terjadi penurunan lahan yang diberakan atau dibiarkan dan lahan yang ditanami selain padi dibandingkan dengan kondisi Oktober 2025," tuturnya.


BPS menjelaskan bahwa padi yang telah memasuki fase generatif umumnya akan dipanen dalam waktu sekitar satu bulan. Sementara tanaman padi pada fase vegetatif akhir diperkirakan dipanen dalam dua bulan ke depan, dan padi pada fase vegetatif awal baru akan memasuki masa panen sekitar tiga bulan mendatang.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang