Cara Pandang Kemanusiaan dan Kesederhanaan Gus Dur Jadi Nilai Penting Jawab Krisis Ekologi
NU Online · Sabtu, 14 Februari 2026 | 17:00 WIB
Haul Gus Dur bertanjuk Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat di Masjid Ekologis Al-Munawwaroh, Bekasi, Sabtu (14/2/2026). (NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Bekasi, NU Online
Cara pandang kemanusiaan dan kesederhanaan yang diwariskan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur relevan untuk menjawab berbagai persoalan ekologis yang kian mengemuka.
Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Bekasi, KH Nurul Huda Haem menyampaikan bahwa di tengah-tengah krisis lingkungan yang terus berulang, nilai tauhid, kebebasan, dan akhlak menjadi fondasi penting dalam merumuskan ulang relasi manusia dengan alam.
Baca Juga
Haul Gus Dur: Sebuah Habitus Baru
Ayah Enha, sapaan akrabnya menambahkan, tauhid sejatinya membebaskan manusia dari rasa takut yang mengekang. Hal tersebut ia sampaikan dalam Acara Spesial Performance Haul Gus Dur Ke-16 bertajuk Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat di Masjid Ekologis Al-Munawwaroh, Bekasi, Jawa Barat pada Sabtu (14/2/2026).
“Orang tidak boleh terkekang, terpenjara karena ketakutan. Tauhid mengajarkan tentang freedom kebebasan,” ujarnya.
Menurutnya, Gus Dur bukan sekadar sosok dengan gagasan, melainkan juga teladan dalam tindakan nyata.
“Cara Gus Dur melaksanakan tauhid bukan cuman kata tapi juga dengan tindakan,” tegasnya.
Pertama adalah cara pandangan kemanusiaan. Gus Dur pernah melontarkan gagasan tentang ekosufisme sebagai cara memandang persoalan ekologis dunia dengan basis akhlak. Tanpa akhlak, kata dia, manusia kehilangan nilai kemanusiaannya.
“Gus Dur pernah melontarkan tentang ekosufisme bagaimana memandang ekologis di dunia, basisnya adalah ahlak, tanpa ahlak orang tidak kemanusiaan,” ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas bumi. Sebaliknya, bumi dipahami sebagai amanat yang harus dikelola dengan tanggung jawab moral.
“Pola kemanusiaan adalah manusia itu bukan tuan segala-galanya, bumi adalah amanat yang harus diolah, dan manusia itu subjeknya. Etika berpusat pada manusia dan ekosistem,” jelas Ayah Enha.
Menurutnya, sikap pluralis Gus Dur juga berakar dari pandangan tauhidnya yang luas dan inklusif. Pandangan dunia yang dibangun di atas tauhid itulah yang melahirkan komitmen pada kemanusiaan lintas batas.
Kedua, ia menekankan pentingnya kesederhanaan sebagai kekuatan moral. Di tengah budaya konsumtif dan eksploitasi sumber daya alam, kesederhanaan menjadi kearifan tertinggi yang relevan untuk direfleksikan kembali.
“Kesederhanaan adalah kekuatan. Kesederhanaan adalah kearifan tertinggi, pada momentum haul mari kita refleksikan kehidupan kita. Mandat kekhalifahan itu merawat tempat kita,” tuturnya.
Ayah Enha menegaskan bahwa refleksi atas nilai-nilai kemanusiaan dan kesederhanaan Gus Dur menjadi penting, terutama ketika krisis ekologis kerap dipicu oleh kerakusan dan hilangnya dimensi akhlak dalam pengelolaan alam.
“Pemikiran Gus Dur tidak berhenti pada nostalgia, melainkan untuk menjawab permasalahan ekologis yang berkeadaban dan berkeadilan,” pungkasnya.
Acara tersebut dimeriahkan dengan penampilan lagu Tak Gendong dan Alhamdulillah (Aku Bisa Ngaji) oleh Mas Varid Putra Mbah Surip, Marawis Majelis Talim Al-Mu’minat, serta Deklamator Puisi Aru Elgete dengan puisinya berjudul “Surat Cinta Untuk Gus Dur”.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua