Nasional

Data BNPB: 623 Hektare Lahan Terbakar di 11 Provinsi, Papua Selatan Terancam Asap Lintas Batas

NU Online  ·  Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Data BNPB: 623 Hektare Lahan Terbakar di 11 Provinsi, Papua Selatan Terancam Asap Lintas Batas

Tim Satkorwil Banser Kalimantan Tengah memadamkan api kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya pada Senin (26/10/2026). (Dok Ansor Kalimantan Tengah)

Jakarta, NU Online

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 623 hektare di 11 provinsi hingga Rabu (28/10/2026). Meski upaya pemadaman terus dilakukan, ancaman karhutla masih membayangi Papua Selatan, terutama akibat fenomena El Nino yang sangat kuat dan potensi asap lintas batas dari Papua Nugini.

 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan, dari 10 provinsi di luar Papua Selatan, luas lahan yang terbakar mencapai 462 hektare. Kalimantan Timur menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 169 hektare.

 

“Dari 10 provinsi ini ada 462 hektare. Kalimantan Timur ada 169 hektare, Sulawesi Tengah ada 85 hektare, Sulawesi Tenggara ada 56 hektare, Sulawesi Selatan ada 50 hektare, Maluku 31 hektare, Maluku Utara 23 hektare, Nusa Tenggara Timur 10 hektare, Gorontalo 4 hektare, Kalimantan Selatan 4 hektare, dan Jawa Timur 2 hektare,” ujarnya dalam pemaparan Info Bencana Terkini, Kamis (29/10/2026) malam.

 

Sementara itu, karhutla di Papua Selatan masih terjadi di Kabupaten Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. BNPB mencatat luas lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai 161 hektare. Pemerintah juga mengerahkan operasi modifikasi cuaca untuk mendukung upaya pemadaman.

 

Berton mengatakan, jumlah titik api di Papua Selatan telah menurun signifikan hingga 78 persen, dari sebelumnya 295 titik menjadi 65 titik.

 

“Dari hari-hari sebelumnya turun signifikan titik api sebesar 78 persen. Tadinya titik api sebesar 295, saat ini kita dapati ada 65 titik. Tentu upaya-upaya tetap kami laksanakan untuk memadamkan api ini, sehingga nantinya Papua Selatan ini juga bebas dari api,” ujarnya.

 

Meski jumlah titik api berkurang, ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir. Berton mengingatkan bahwa fenomena El Nino yang sangat kuat meningkatkan kerawanan kebakaran di Papua Selatan. Selain itu, wilayah tersebut juga berpotensi terdampak asap lintas batas dari Papua Nugini.

 

“El Nino saat ini sangat kuat dan Papua Selatan sangat rawan terhadap terbakar serta asap lintas batas dari Papua Nugini juga datang ke Papua Selatan,” katanya.

 

Di tengah upaya pemadaman, BNPB juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla. Berton menyebut sejumlah relawan mengalami gangguan kesehatan selama menjalankan tugas. Karena itu, keterlibatan relawan harus mengikuti rencana operasi yang ditetapkan pos komando.

 

“Keterlibatan relawan harus berdasarkan rencana operasi pos komando, jadi tidak lepas dari apa yang sudah direncanakan oleh komandan kita di dalam posko, sehingga rencana tersebut bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.

 

BNPB juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengawasi keselamatan relawan dengan menempatkan petugas khusus atau safety officer di lokasi pemadaman. Petugas tersebut bertugas memantau paparan asap dan tingkat kelelahan relawan, sekaligus mengarahkan mereka untuk beristirahat atau mendapatkan pelayanan kesehatan jika diperlukan.

 

Berton menegaskan, setiap operasi pemadaman harus diawali dengan pembekalan (briefing) dan diakhiri dengan evaluasi (debriefing). Relawan juga perlu memahami konsep fire triangle, tipe kebakaran, teknik pemadaman, serta prosedur keselamatan diri dan tim.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang