Jakarta, NU Online
Gerhana Bulan Total (GBT) akan terlihat di Indonesia pada Sabtu (28/7) dini hari mendatang. Peristiwa gerhana bulan rutin terjadi setiap tahun. Setidaknya, empat kali dalam kurun 12 bulan. Paling banyak, peristiwa itu terjadi sampai tujuh kali.
Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hendro Setyanto pada Kamis (26/7) kepada NU Online. Ia menjelaskan, bahwa dalam satu tahun terdapat dua musim gerhana yang berjarak 173 hari di antara musim gerhana tersebut.
Lama gerhana, jelasnya, dipengaruhi oleh tiga hal. Pertama, besar kecilnya piringan bulan yang ditentukan oleh jauh dekatnya jarak bulan terhadap bumi.
Kedua, lintasan gerhana. Jika bulan melewati pusat umbra, lanjut alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut, maka gerhana akan lama. Ketiga, besar kecilnya umbra bumi. Hal ini, katanya, ditentukan oleh jarak matahari terhadap bumi.
Menurut Hendro, lamanya gerhana nanti malam lebih disebabkan karena faktor pertama dan faktor kedua. "Kalau gerhana bulan kali ini lebih dikarenakan lintasan gerhana yang hampir melewati pusat umbra dan diameter bulan yang kecil. Hanya sekitar 29,5 menit busur," ujar pendiri observatorium Imah Noong itu.
Peristiwa rutin ini akan terjadi mulai pukul 01:24:27 WIB. Sementara itu, awal gerhana bulan penumbra berlangsung pada 00:14:49 WIB.
Adapun GBT bermula pada 02:30:15 WIB, sedangkan puncaknya atau fase pertengahannya terjadi pada pukul 03:21:43 WIB. GBT akan berakhir pada 04:13:12 WIB, sedangkan akhir gerhana bulan sebagian pada 05:19:00 WIB. Sementara itu, akhir gerhana bulan penumbra terjadi pada 06:28:37 WIB. (Syakir NF/Ibnu Nawawi)