Jakarta, NU OnlineÂ
Setelah tiga tahun wafat, sosok Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid  atau lebih akrab disapa Gus Dur, masih tetap hidup, bersemayam di hati banyak orang, beragam kalangan dan latar belakang.Â
<>
âGus Dur begitu dahsyat ketika hidup. Dan betapa banyak orang yang sulit sekali melupakannya setelah ia wafat,â ungkap KH Husein Muhammad pada pertemuan Gusdurian di kantor Wahid Institute, Jumat (3/8), menggambarkan sosok Presiden RI keempat tersebut.Â
Hal itu bisa ditunjukkan, setidaknya dalam liputan harian Kompas, Sabtu, (4/8). Dalam liputan itu dikatakan, âMeski Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009, tapi sosoknya terus menarik simpati. Setiap hari ribuan dari beragam latar belakang menziarahi makamnya.â
Dalam liputan itu juga, Shalahuddin Wahid, adik Gus Dur menyatakan, pada hari biasa, peziarah bisa mencapai 2.000 orang per hari. Jumlah itu melonjak hingga puluhan ribu orang pada hari libur dan menjelang Ramadhan. Tahun 2011, peziarah diperkirakan mencapai satu juta orang.
Kalangan lain mengagumi Gus Dur dengan cara lain. Mereka menamakan diri Gusdurian. Hingga kini, kelompok tersebut menurut Koordinator Gusdurian Alissa Wahid sudah tumbuh di 30 kota. Mereka menyelenggarakan pertemuan-pertemuan yang cair dan membahas apa saja, sesuai dengan kebutahan daerahnya.
Kemudian, sambung puteri sulung Gus Dur ini, setelah didirikan Pojok Gus Dur di lantai dasar gedung PBNU, Jakarta, kini diikuti beberapa perguruan tinggi. Di antaranya UIN Malang dan Universitas Indonesia. Pojok-pojok itu menyimpan karya-karya Gus Dur dan tulisan orang tentangnya.
Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imdadun Rahmat, setidaknya ada tiga sebab kenapa  Gus Dur tetap hidup di hati banyak orang. Pertama, Gus Dur adalah orang yang memberikan inspirasi, memberikan harapan, memberikan contoh dan teladan. âKedua, ini menunjukkan bahwa visi, gagasan dan pemikiran Gus Dur itu masih relevan hingga saat ini, sehingga ide-idenya terus didiskusikan, diupayakan untuk hidup terus-menerus.
Dan yang ketiga, sambung Imdad, ini juga bisa dimaknai bahwa yang hidup masih belum ada yang bisa menggantikan posisi Gus Dur telah pergi.Â
âJadi, kita perlu juga mengupayakan sosok pemimpin yang seperti Gus Dur sehingga orang tidak hanya rindu kepadanya.âÂ
Sementara menurut Kompas, hal itu disebabkan, cucu Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asyâari dan putra KH Wahid hasyim tersebut, sangat terbuka.Â
Gus Dur adalah sosok yang menghormati kebebasan beragama dan hak asasi manusia. Ia tidak hanya bicara, tetapi juga bertindak. Ia berani âpasang badanâ untuk melindungi kelompok minoritas yang ditindas.
Redaktur : Mukafi Niam
Penulis   : Abdullah Alawi
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua