Gus Mus: Mestinya Ada Peringatan Haul Ibu Nyai
NU Online · Jumat, 5 Desember 2014 | 13:05 WIB
Magelang, NU Online
Rais Am PBNU KH A. Mustofa Bisri hadir pada 40 hari wafat Nyai Hj Ma'munatun Cholil dan Haul ke-21 KH Asrori Ahmad di Pondok Pesantren Raudhatut Thullab di Desa Wonosari, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang. Haul tersebut dihadiri ribuan umat Islam.
<>
Dalam ceramahnya pada haul pada Rabu (3/12), kiai yang akarb disapa Gus Mus itu menuturkan, dirinya iri bahwa selama ini hanya kiai yang selalu dihauli. Mestinya ibu nyai pun juga dihauli. Karena peran ibu nyai begitu signifikan dalam membesarkan putra-putrinya.
Bahkan, kata Gus Mus, keberhasilan seorang kiai tidak lepas dari peran istri sebagai ibu nyai. “Jadi saya tidak rela kalau seorang istri disebut dengan konco wingking (teman belakang).”
Dalam kesempatan itu Gus Mus menyebutkan bahwa Nyai Hj. Ma’munatun bin Cholil Harun yang juga bibinya itulah yang dulu momong (membimbing) dirinya di saat dirinya kecil. Sedang yang membimbing KH Asrori Ahmad adalah KH Bisri Mustofa (ayah Gus Mus), khususnya di bidang pengembangan ilmu melalui karya tulis dan terjemahan banyak kitab.
”Ternyata bulek (bibi) saya ini telah berperan aktif dalam membesarkan pesantren yang didirikan sang suami dan telah melahirkan serta mendidik putra-putrinya dengan kasih sayangnya sehingga bisa meneruskan perjuangan ayahnya. Jadi, layak kalau bulek saya Hj. Ma’munatun ini dihauli,” paparnya.
Lebih jauh lagi Gus Mus mencontohkan peran seorang istri, seperti peran Khadijah, istri Nabi Muhammad Saw. Setelah Nabi menerima wahyu yang pertama, beliau gemetar dan cemas, sehingga minta diselimuti oleh istrinya, Khadijah. Istri yang patuh dan setia itu segera menyelimuti dan menghibur Nabi.
Kemudian Gus Mus pun menyitir sebuah hadis Nabi, bahwa yang layak ditaati lebih dulu adalah seorang ibu. “Ibumu, ibumu, ibumu, baru ayahmu,” tandasnya.
Hadir pula dalam acara ini Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA dan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri. Keduanya juga memberikan sambutan seusai sambutan salah seorang Pengansuh Pesantren Raudhatut Thullab sekaligus mewakili keluarga KH Ahmad Said Asrori.
Rangkaian acara telah diawali dengan tahtiman Al-Qur’an bil ghaib oleh para putri dan cucu KH Asrori sendiri, ziarah kubur, dan pengajian umum. (Ma’ruf/Abdullah Alawi)
Foto kenangan: Gus Mus diapit oleh kedua bibinya yang kini sudah wafat. Ibu Ma’munatun (sebelah kanan Gus Mus) dan Ibu Shofwah (kiri Gus Mus).
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua