Harlah Ke-80, Muslimat NU Tekankan Tiga Peran Strategis untuk Bangun Generasi Emas 2045
NU Online · Jumat, 3 April 2026 | 12:00 WIB
Doa bersama dalam acara Halal Bihalal dan Tasyakur Harlah Ke-80 Muslimat NU yang digelar di Jakarta, pada Kamis (2/4/2026). (Foto: NU Online/Suci)
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU yang digelar pada Kamis (2/4/2026) sore berlangsung khidmat. Kegiatan yang dirangkaikan dengan acara halal bihalal ini diselenggarakan di halaman Kantor PP Muslimat NU, Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.
Dalam momentum tersebut, Muslimat NU menekankan komitmennya menyiapkan tiga peran strategis dalam membangun generasi emas Indonesia 2045.
Mengusung tema Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban, peringatan ini menegaskan peran Muslimat NU dalam menjawab tantangan zaman.
Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa pada usia ke-80, Muslimat NU memiliki peran strategis dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perempuan di Indonesia mencapai 49,85 persen dari total populasi. Sementara itu, jumlah anak mencapai 87 juta jiwa atau sekitar 29,6 persen. Artinya, hampir 70 persen penduduk Indonesia terdiri dari perempuan dan anak-anak, yang menunjukkan peran penting dan strategis keduanya dalam mewujudkan Indonesia 2045.
"Saya ingin mengajak ibu-ibu semua, kita punya peran yang sangat penting khususnya untuk ibu-ibu Muslimat bagaimana kita menyiapkan kader-kader kita generasi penerus di tahun 2045," kata Arifah dalam sambutannya.
Menurutnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana anak-anak dididik saat ini, terutama di era digital.
"Pada hari ini dari data yang kita dapat bahwa anak-anak saat ini menjadi salah satu komponen yang menjadi unsur penting untuk pembangunan Indonesia," ungkapnya.
Ia menambahkan, tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini cukup besar. Meskipun pemerintah telah menghadirkan berbagai regulasi perlindungan, peran orang tua tetap sangat dibutuhkan.
Arifah mencontohkan, pada 28 Maret 2026, Komdigi telah menetapkan Peraturan Nomor 6 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
"Tetapi peraturan ini bisa berjalan dengan baik ketika para ibu para orang tua juga berpartisipasi untuk bersama-sama mengawasi dan memberikan perlindungan kepada anak-anak kita," ungkapnya.
Arifah kemudian menegaskan tiga peran utama Muslimat NU. Pertama, menyiapkan generasi penerus yang berkualitas. Kedua, menjadi garda terdepan dalam perlindungan perempuan dan anak. Ketiga, memperkuat nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
"Jaga anak-anak kita agar tetap berada pada arah yang benar sebagai keluarga besar NU, saya ingin mengutip sedikit dari apa yang disampaikan oleh Mbah Hasyim Asy'ari bahwa barang siapa yang mengurusi NU termasuk Muslimat di dalamnya maka akan saya anggap sebagai santri," ujarnya.
Ia berharap seluruh kader Muslimat NU senantiasa mendapatkan keberkahan dan menjadi bagian dari generasi yang husnul khatimah.
"Mudah-mudahan kita menjadi santri-santrinya Mbah Hasyim dan termasuk golongan yang khusnul khotimah bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk anak, mantu dan cucu," ujarnya.
Dorong kemandirian lewat kolaborasi
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa penguatan kemandirian menjadi fokus utama gerakan Muslimat NU ke depan.
"Kemandirian Muslimat bukan berarti berjalan sendiri, tetapi membangun sinergi, kolaborasi, dan jejaring yang kuat,” kata Khofifah dalam sambutannya.
Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Program ini mencakup berbagai skema pemberdayaan ekonomi anggota, termasuk tabungan emas dengan sistem cicilan ringan.
"Melalui skema tersebut, anggota dapat menabung emas secara bertahap sesuai kemampuan, dengan harga yang telah disepakati di awal," ungkapnya.
Ia menilai program ini sebagai alternatif strategis dalam membangun kemandirian ekonomi perempuan berbasis komunitas.
Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada program pembiayaan ibadah haji dan umrah, yang diharapkan memberikan manfaat langsung bagi anggota Muslimat NU.
Penekanan utama dari seluruh program ini adalah memastikan kehadiran organisasi memberikan dampak nyata bagi anggotanya.
"Yang terpenting, anggota merasakan manfaat terlebih dahulu dari organisasi,” katanya. Hal itu menjadi prinsip yang diusung.
Lebih lanjut, penguatan kemandirian ini juga didukung melalui pengembangan jejaring, termasuk pembentukan asosiasi profesor perempuan Muslimat NU serta kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan dan sektor lainnya.
"Muslimat NU diharapkan mampu menjadi organisasi perempuan yang tidak hanya kuat secara sosial dan keagamaan, tetapi juga mandiri secara ekonomi melalui kolaborasi yang berkelanjutan," tandasnya.
Sebagai informasi, peringatan Harlah Ke-80 Muslimat NU ini ditandai dengan pemotongan nasi tumpeng oleh Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.
Rangkaian acara diawali dengan istighotsah. Kegiatan juga diisi dengan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 3 Jenis Ucapan yang disukai Allah
2
Jadwal Puasa Sunnah Selama April 2026
3
Khutbah Jumat: 8 Hal yang Dijauhi Rasulullah Mulai dari Kecemasan hingga Dililit Utang
4
Temui Dubes AS, Gus Yahya Serukan Dialog AS-Iran Demi Hentikan Perang di Timur Tengah
5
Khutbah Jumat: Evaluasi Keuangan Setelah Hari Raya
6
Di Manakah Jutaan Orang Arab dalam Perang Iran Vs Israel dan AS?
Terkini
Lihat Semua