Nasional

Indonesia Punya 699 Zona Musim, Pengelolaan Air Tak Bisa Disamaratakan

NU Online  ·  Rabu, 29 Juli 2026 | 20:00 WIB

Indonesia Punya 699 Zona Musim, Pengelolaan Air Tak Bisa Disamaratakan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Selasa (28/7/2026). (tangkapan layar kanal Youtube Sekretariat Presiden)

Jakarta, NU Online

 

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki 699 zona musim yang masing-masing mempunyai pola hujan berbeda.

 

Dia mengatakan bahwa keragaman tersebut menjadi faktor yang harus diperhatikan perencanaan pengelolaan air, termasuk dalam pengoperasian waduk dan pelaksanaan modifikasi cuaca.

 

“Kita ketahui Indonesia itu dibagi dalam 699 zona musim. Ini yang perlu dicatat ya, bahwa satu daerah itu tidak sama dengan daerah lain pola hujannya ya. Pola hujannya tidak sama,” ujar Teuku di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta pada Selasa (28/7/2026).

 

Teuku menyampaikan bahwa terdapat sejumlah wilayah yang hanya mengenal satu musim dan tidak mengalami musim kemarau seperti daerah lain di Indonesia. Kondisi tersebut dijumpai di bagian barat Indonesia Pegunungan Bukit Barisan, kawasan utara Kalimantan, dan sebagian besar wilayah Papua.

 

“Jadi, ada daerah yang mengalami hanya satu musim, tidak mengenal musim kemarau. Contohnya di bagian barat dari Pegunungan Bukit Barisan atau Pegunungan Sabuk di bagian utara dari Kalimantan dan sebagian besar dari Papua itu satu musim,” katanya.

 

Dia mengatakan bahwa wilayah-wilayah tersebut tetap menerima curah hujan tinggi meskipun sedang berada pada periode kemarau.

 

“Artinya di musim kemarau pun hujannya masih lebih tinggi daripada syarat terjadinya kemarau yaitu 150 mm per bulan, kurang dari itu kita sebut kemarau,” ujarnya.

 

Teuku menambahkan, Kota Bogor merupakan salah satu contoh wilayah dengan pola satu musim. Selain itu, terdapat pula daerah yang memiliki pola musim berlawanan dengan sebagian besar wilayah Indonesia.

 

“Sehingga ada juga musim yang terbalik. Contohnya yang ada di Maluku, itu di sini (Jakarta) musim kemarau, di sana musim hujan,” ungkapnya.

 

Dia menyampaikan bahwa pengelolaan 240 waduk di Indonesia harus mempertimbangkan kondisi masing-masing zona musim. Menurutnya, langkah modifikasi cuaca juga tidak boleh dilakukan tanpa dasar ilmiah yang kuat.

 

“Jadi, kondisi di Indonesia harus dibedakan. Kita punya 699 zona musim sehingga 240 waduk itu kita lihat bagaimana kondisi ketersediaan airnya. Jadi tidak serta-merta tanpa didasari dengan kajian ilmiah untuk melakukan modifikasi cuaca,” tuturnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang