Intoleransi di Yogyakarta adalah Kemunduran Luar Biasa
NU Online · Rabu, 4 Juni 2014 | 03:01 WIB
Jakarta, NU Online
Kasus kekerasan dan tindakan intoleransi bermotif suku, agama, ras dan antara golongan atau SARA di Yogyakarta adalah sebuah kemunduran yang luar biasa. Bagaimanapun Yogyakarta adalah kawasan yang bisa disebut melting pot yang mewadahi realitas kemajemukan Indonesia.<>
“Karena itu eksklusivisme tidak boleh dibiarkan berkembang di kota kebudayaan dan kota pendidikan seperti Yogyakarta,” kata Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf kepada NU Online di Jakarta Rabu (4/5) menanggapi rentetan tindak kekerasan bermotif agama di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Khusus menanggapi tingkah kelompok berjubah di kawasan tersebut, Ketua MUI Bidang Hubungan Antar Agama itu itu mengingatkan adanya prinsip tasamuh atau toleransi Islam. Islam sama sekali tidak membolehkan gangguan terhadap mereka yang tengah beribadah apapun keyakinan agamanya.
“Pengembangan Islam yang intoleran bertentangan dengan Islam itu sendiri. Karena itu umat Islam sendiri harus menolak merebaknya kelompok yng selalu merasa benar sendiri di tengah umat dan bangsa yang heterogen ini,” tambahnya.
Slamet Effendy mengharapkan agar aparat negara bertindak tegas menindak mereka yg melanggar hukum dalam peristiwa ini. Ia mengharapkan FKUB dapat ikut berperan untuk memperbaiki kondisi ini agar Yogyakarta kembali menjadi miniatur Indonesia yang harmonis dan damai. (A. Khoirul Anam)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
4
Presiden Prabowo dan 1.500 Undangan Hadiri Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan
5
Rais Aam PBNU Apresiasi Hasil Pembahasan Munas-Konbes NU 2026
6
Berikut 5 Rekomendasi Munas-Konbes NU 2026 Terkait Pendidikan
Terkini
Lihat Semua