Islam Agama Realistis, Tak Selalu Idealistis
NU Online · Jumat, 25 November 2022 | 18:00 WIB
Katib Syuriyah PBNU H Sarmidi Husna saat berbicara pada gelaran PMKNU di Lampung. (Foto: NU Online/Faizin)
Muhammad Faizin
Penulis
Metro, NU Online
Islam adalah agama yang moderat. Di antara definisi moderat adalah mampu menempatkan posisi dengan baik antara idealisme dan realitas. Dengan posisi ini Islam mampu memberikan solusi yang solutif dalam berbagai hal kehidupan umat Islam.
“Islam adalah agama yang realistis. Tidak selalui idealistis,” kata Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Sarmidi Husna saat kegiatan Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) yang digelar di Kampus Institut Agama Islam Ma’arif NU Kota Metro, Lampung, Jumat (25/11/2022).
Kiai Sarmidi memberikan contoh moderat dan realistisnya Islam dengan kemudahan (ruhshah) dalam ibadah shalat. Kondisi ideal, shalat harus dilakukan sesuai dengan waktu dan jumlah rakaat yang telah ditentukan.
Namun, kata dia, dalam kondisi tertentu Islam juga realistis dengan diperbolehkannya umat Islam melakukan jama’ (mengumpulkan) atau qashar (memendekkan) jumlah rakat shalat.
Ia memberi contoh lain, tentang sistem pemerintahan sebuah negara. Dalam kondisi ideal, sistem pemerintahan negara adalah menggunakan syariat Islam. Namun realitasnya, hal itu tidak bisa dilakukan di seluruh dunia khususnya di Indonesia yang memiliki keragaman agama.
“Ini namanya tanazul (turun) dari idealis ke realistis,” kata pria yang juga Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat ini.
Sikap moderat ini juga bisa terlihat dari prinsip dan pandangan para kiai Nahdlatul Ulama dalam menyikapi perbedaan. Menurut dia, penegakan amar ma’ruf nahi munkar juga harus melihat kondisi realistis yang ada.
Jika dalam sebuah perbedaan masih memiliki dasar hukum maka tidak akan dilakukan nahi munkar. Namun sebaliknya, hal kemaksiatan yang sudah jelas tak memiliki dasar diperbolehkan, maka nahi munkar harus dilakukan.
“Karakter Aswaja tak gampang mengafir-ngafirkan,” tegasnya.
Sebelumnya, Kiai Sarmidi dalam sebuah tulisan di NU Online menjelaskan bahwa sikap moderat yang dimiliki NU karena mengikuti perpaduan antara syariat dan tasawuf.
“Tahu menerapkan syariat pada situasi dan kondisi yang ada,” tegasnya.
Selain itu, NU selalu mengedepankan untuk menjaga tiga ukhuwah yaitu Islamiyah, Basyariyah, dan Wathaniah. Ketiga ukhuwah ini sejalan dengan paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) Annahdliyah, yang mengantarkan NU menjadi moderat.
“NU menyadari bahwa dalam beragama ada pihak-pihak yang moderat. Namun, ada juga yang tidak. Ketika ada yang tidak moderat, maka perlu dibina melalui pendidikan,” pungkasnya.
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua