Ketum PBNU Imbau Santri Perkuat Karakter dan Kemandirian
NU Online · Jumat, 1 November 2019 | 14:30 WIB
Tulangbawang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengajak seluruh santri di Indonesia untuk memperkuat karakter dan kemandirian, termasuk kemandirian ekonomi. Sehingga di masa yang akan datang, santri memiliki karakter kuat dan tidak menggantungkan kebutuhan pada kelompok lain.
Karakter santri kuat yang dimaksudkan Kiai Said, termasuk di antaranya adalah keberaniaannya menghadapi tantangan hidupnya sendiri, bukan mengandalkan nama besar leluhur dan nenek moyangnya.
Mengutip sebuah syair, Kiai Said mengatakan bahwa sejelek-jeleknya orang adalah yang hanya bisa mengandalkan kehebatan leluhurnya. "Sebaik-baik orang adalah yang mempunyai nenek moyang yang besar dan dia juga membangun kebesaran dirinya," kata Kiai Said pada pengajian akbar dalam peringatan Hari Santri Nasional 2019 di Pondok Pesantren Al Iman, Banjaragung, Tulangbawang, Lampung, Kamis (31/10) malam.
Selanjutnya, Kiai Said menegaskan, kemandirian ekonomi merupakan sebuah keniscayaan yang harus dimiliki seorang santri. Sebab, seorang santri yang tidak mandiri secara ekonomi cenderung akan mengandalkan bantuan orang lain.
Kiai Said mengisahkan, bahwa dalam perjalan Isra' Mi'raj, Nabi Muhammad SAW melihat seseorang berbadan tinggi besar bangkit dari kubur, dengan kondisi muka keropos dan tidak memiliki daging serta kulit. Melihat itu Nabi Muhammad bertanya kepada Malaikat Jibril, tentang orang tersebut. "Ia adalah umatmu yang rajin meminta-minta," kata Kiai Said. Oleh karenanya, lanjut Kiai Said, sangat penting bagi para santri untuk memiliki kemandirian sehingga terhindar dari sifat meminta-minta.
Namun demikian, lanjut Kiai Said, karakter yang kuat dan kemandirian, tidak datang begitu saja. Keduanya merupakan buah dari belajar, kerja keras dan perjuangan yang konsisten. "Mari berjuang agar kita meninggalkan anak cucu yang kuat. Kuat agamanya, kuat ilmunya, kuat akhlaknya, kuat hartanya, kuat kepribadiannya. Ini yang namanya manusia berkarakter," ajak Pengasuh Pesantren At Tsaqafah Jakarta ini.
Keduanya, baik karakter dan kemandirian, lanjut Kiai Said, semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi informasi saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi internet memiliki dua sisi yang bertentangan; sisi positif yang bermanfaat bagi manusia dan sisi negatif yang melahirkan mafsadat bagi umat manusia.
Sisi positifnya, berbagai informasi bisa diakses dengan cepat melalui internet. Namun di sisi lain fasilitas internet juga memungkinkan perkembangan hal negatif seperti terorisme dan radikalisme. Seperti contoh, saat ini, internet menyediakan konten yang mengarah pada aksi terorisme seperti cara merakit bom. Oleh karena itu, Kiai Said menegaskan pada para santri untuk memanfaatkan fasilitas internet sebaik mungkin.
Selain dihadiri Kiai Said, acara tersebut juga dimeriahkan oleh kehadiran Wakil Gubernur Lampung Hj Chusnunia, Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Muhsin Abdillah, Ketua PWNU Lampung KH Muhammad Mukri, dan Bupati Tulang Bawang Hj Winarti.
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Ahmad Rozali
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
5
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
6
Rupiah Terus Melemah, Anggota DPR Minta Gubernur BI Mundur dari Jabatan
Terkini
Lihat Semua