KH Miftachul Akhyar Jelaskan Keutamaan Memelihara Rasa Lapar
NU Online · Kamis, 25 Januari 2024 | 13:30 WIB
Syarif Abdurrahman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menjelaskan keutamaan mengurangi makan dan minum alias puasa secara rutin bisa membuat hati bersih dan tenangnya pikiran karena karunia Allah swt.
"Jika seseorang mengurangi makannya, termasuk minumnya. Makan dan minum tidak banyak-banyak, secukupnya, maka batinnya, dadanya, hatinya akan dipenuhi Nur oleh Allah swt," jelas Kiai Miftach dikutip dari Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar, Kamis (23/1/2024).
Kiai Miftach menambahkan, dengan adanya Nur yang diberikan Allah di hati manusia maka kemudian Nur tersebut menyebar ke seluruh tubuh. Menyinari semuanya, termasuk anggota dzahir, secara tak langsung membuat pikiran dan hati mudah terkontrol karena ada nur itu.
"Karena rasa lapar itu mendatangkan terangnya hati. Kalau orang sering lapar maka hatinya terang," imbuh Kiai Miftachul.
Kata Kiai Miftach, setelah hati penuh cahaya, terang, bersih maka bashiroh (mata hati)-nya juga bersih dan tajam. Selain itu, hatinya akan lunak, mudah menerima hal baik sehingga bisa merasakan lezatnya munajat kepada Allah.Â
"Bahkan hati yang bersih dan terang bisa mewaspadai nafsu, mengontrol nafsu, merendahkan nafsu, menghilangkan rasa sombong, dan culas," jelas dia.
Namun, Kiai Miftach menegaskan yang dimaksud kondisi lapar yang dia jelaskan ialah bukan lapar karena tidak ada makanan atau kelaparan. Melainkan memilih mengurangi makan dan minum meskipun barang tersebut bisa dinikmati setiap waktu.
"Lapar yang dimaksud di sini bukan kelaparan karena kekurangan makanan atau minuman. Itu beda lagi," kata Kiai Miftach.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini mengatakan, mengurangi makan dan minum merupakan tradisi para ulama sejak dahulu. Sejak dahulu, para kekasih Allah sering mengurangi makan dan minum ketika sedang proses menuju Allah.Â
Sebagian ulama, menjadikan rasa lapar merupakan langkah awal dalam menatap langkah suluk kepada Allah lewat mengurangi makan. Sudah cukup kenyang dengan zikir.
"Rasa lapar adalah dasar bagi ulama tasawuf yang menginginkan dekat kepada Allah. Karena terlalu banyak makan dan minum maka akan banyak tidur dan nafsu syahwatnya naik. Pikiran kotor dan tidak bersih," tandasnya.
Terpopuler
1
Besok Rebo Wekasan, Berikut Amalan dan Doa yang Dianjurkan
2
Alma Esbeye Siap Tampil Meriahkan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas
3
Ngaji Al-Hikam, Perlu Fase Menepi dari Ketenaran dalam Hidup
4
Muktamar ke-35 NU Bahas Hukum DNA, Kripto, hingga Pasang Chip di Otak
5
Muktamar Ke-35 NU Bahas Revisi UU Sisdiknas dan Ketenagakerjaan, hingga Qanun Jinayat Aceh
6
KH Nasaruddin Umar Mengaku Dapat Dorongan Maju Ketua Umum PBNU, Soroti Tantangan Kepemimpinan NU
Terkini
Lihat Semua