Kiai Adib Rofiuddin Paparkan Langkah-langkah Belajar Efektif
NU Online · Kamis, 11 Maret 2021 | 06:45 WIB
KH Adib Rofiuddin Izza, Sesepuh Pondok Buntet Pesantren dan Mustasyar PBNU, di Masjid Agung Buntet Pesantren, Rabu (10/3). (Foto: Rofiud Darojat/Media Buntet Pesantren)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Cirebon, NU Online
Sesepuh Pondok Buntet Pesantren Cirebon KH Adib Rofiuddin Izza menyampaikan bahwa ilmu diperoleh dengan beberapa langkah. Pertama, ketika mengaji diam (al-shumtu), tidak malah berbincang dengan yang lain.
"Begitu datang, diam. Tidak ngobrol, tidak sikut-sikutan," katanya saat Khataman Pengajian Kitab Qisshatul Mi'raj dalam rangka memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1442 H di Masjid Agung Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat, Rabu (10/3).
Setelah diam, santri juga harus fokus menyimak (istimak) segala hal yang disampaikan guru atau kiainya. "Mendengarkan apa yang disampaikan guru, nasihat, petuah guru dengan khusyuk dan seksama," katanya.
Berikutnya, menjaga (al-hifdhu) apa yang sudah dipelajarinya. Hal itu dilakukan dengan sering mendaras, muthala'ah. Jika ada kata yang belum dimaknai, misalnya, maka harus ditambal, dipenuhi dengan menanyakan ke rekannya.
Kemudian, mengamalkan apa yang sudah diperoleh dari belajar atau ngaji tersebut. "Mengamalkan apa yang kalian peroleh dari ilmu yang kalian dapatkan dari kiai," ujarnya.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu melanjutkan bahwa tugas santri tidak berhenti di situ, melainkan juga harus menyebarkannya (al-nasyru) kepada masyarakat, khususnya keluarga. "Kalau lima ini dilaksanakan maka sempurna. Tuntas. Sukses," kata Kiai Adib.
Sebab, ilmu yang diperoleh tidak memberikan manfaat terhadap diri sendiri saja, melainkan juga kepada orang lain. Karenanya, santri tidak harus menjadi kiai, melainkan perlu juga ada yang menjadi dokter, tentara, pedagang, dan lainnya.
Dengan begitu, persebaran ilmu agama Islam semakin meluas. Sebab, dakwah tidak melulu disampaikan dengan cara lisan, tetapi juga melalui tindakan.
"Kalian semua santri Buntet, berkampanyelah (dakwah) dengan sikap, dengan akhlak," pungkasnya.
Sebagai informasi, pengajian kitab Qisshatul Mi'raj ini dilakukan selama tiga malam, mulai Senin (8/3) malam Selasa hingga Rabu (10/3) malam Kamis. Pengajian ini dibacakan oleh tujuh kiai muda Buntet Pesantren, Kang H Syamil Mumtaz, Kang Kholid Nurul Alam, Kang Muhammad Hamdi Turmudzi, Kang Jamaluddin Husein Al-Akbar, Kang Muhammad Hikam, Kang Aris Abdul Haq, dan K M Zidni Ilman NZ.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
4
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
5
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
6
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar: Tugas Pengurus Merangkul Semua Elemen, Meningkatkan Kualitas Nahdliyin
Terkini
Lihat Semua