Kisah Pak Subur, Pelestari Wayang Potehi Tradisi Tiongkok di Mal Ciputra Jakarta
NU Online · Kamis, 12 Februari 2026 | 20:00 WIB
Sugiyo Waluyo (63) (baju hitam) dalang wayang potehi sedang memainkan seruling sesaat sebelum tangannya memainkan wayang, di Mal Ciputra, Grogol Jakarta Barat, Rabu (11/2/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).
Suwitno
Kontributor
Jakarta, NU Online
Suara tabuhan musik khas Tionghoa menggema di sudut Mal Ciputra, Grogol, Jakarta Barat. Di tengah lalu lalang pengunjung yang datang dan pergi, sepasang tangan terampil menghidupkan boneka kain dari balik panggung kecil. Jemari itu lincah menggerakkan tokoh demi tokoh dalam kisah klasik dari negeri Tiongkok, Sie Jin Kwie Ceng Tang (Perjalanan Sie Jin ke Timur).
Tangan-tangan itu milik Sugiyo Waluyo alias Pak Subur (63). Ia adalah dalang wayang potehi yang sejak 2004 setia mengisi perayaan Tahun Baru Imlek di pusat perbelanjaan tersebut tanpa pernah tergantikan.
Perjalanan Pak Subur menekuni wayang potehi dimulai jauh sebelum gemerlap lampu mal. Pada 1974 di Surabaya, saat usianya baru 12 tahun, ia pertama kali terpikat pada pertunjukan wayang yang rutin digelar tak jauh dari rumahnya.
"Awalnya hanya menonton, namun karena sering datang dan bermain di sekitar lokasi pentas, saya akhirnya diizinkan belajar langsung dari pimpinan rombongan wayang. Ketertarikan masa kecil itu tumbuh menjadi jalan hidup saya sampai sekarang," kata Sugiyo, Rabu (11/2/2026).
Tampil rutin dalam perayaan Imlek di Jakarta telah dijalani Pak Subur selama 22 tahun. Awalnya, ia tengah mengisi sebuah acara ketika kru Mal Ciputra menawarinya untuk tampil rutin setiap perayaan Imlek.
"Tawaran itu saya terima tanpa banyak ragu. Sejak saat itu, setiap tahun saya hadir mengisi panggung ini dengan tiga sesi pertunjukan per hari pukul tiga, lima, dan tujuh malam masing-masing berdurasi satu jam," ceritanya.
Secara bentuk, wayang potehi memiliki ciri khas yang membedakannya dari jenis wayang lain seperti wayang kulit. Wayang kulit dimainkan menggunakan batang kayu dan terbuat dari kulit, sedangkan wayang potehi berbentuk boneka kantong dari kain yang digerakkan dengan jari jemari.
"Ceritanya pun tentu berbeda. Wayang kulit identik dengan kisah Mahabharata atau Ramayana, sementara wayang potehi dominan mengangkat sejarah dan legenda Tiongkok, lengkap dengan tokoh serta musik khasnya," ujar Sugiyo.
Dalam setiap pertunjukan, sedikitnya lima orang terlibat. Seorang dalang memimpin jalannya cerita, didampingi seorang asisten dan tiga penabuh musik. Dalam beberapa kesempatan, jumlah personel bisa bertambah menjadi enam atau tujuh orang agar suasana pertunjukan semakin meriah.
"Dalam setiap pertunjukan, sedikitnya lima orang terlibat. Sang dalang memimpin jalannya cerita, didampingi asisten dan tiga penabuh musik. Jumlah personel bisa bertambah hingga enam atau tujuh orang agar suasana semakin meriah," lanjutnya.
Di Jakarta, pertunjukan wayang potehi umumnya hadir saat perayaan Imlek di pusat perbelanjaan. Sementara di Jawa Timur, Sugiyo lebih sering tampil di kelenteng dalam rangka peringatan hari besar atau ulang tahun dewa-dewi seperti Kwan Kong dan Kwan Im.
"Di mana pun panggungnya berada, di ruang sakral kelenteng atau di tengah gemerlap pusat perbelanjaan, wayang potehi tetap menjadi jembatan budaya, merawat tradisi lama di tengah arus modernitas," ujarnya.
Di akhir perbincangan, Sugiyo berharap kesenian ini mendapat dukungan lebih besar dari pemerintah. Meski berakar dari budaya Tiongkok, ia menegaskan bahwa sebagian besar pelaku wayang potehi di Indonesia adalah warga lokal.
"Bagi saya, tak ada yang lebih membanggakan selain melihat generasi Indonesia mampu memainkan dan melestarikan kesenian lintas budaya," pungkasnya.
Menjembatani ingatan dan zaman
Di antara para penonton, Stefanus Suyanto Sanjaya (64) tampak duduk khusyuk menatap panggung kecil wayang potehi. Ia bukan sekadar lewat atau singgah karena penasaran, melainkan datang dengan niat khusus untuk menonton.
Baca Juga
Imlek Sebelum dan Setelah Gus Dur
“Saya memang niat menonton,” ujar Stephanus.
Bagi Stephanus, wayang potehi bukan tontonan asing. Kesenian ini menyimpan jejak kenangan masa kecilnya.
“Waktu kecil, saya sering diajak Papa saya untuk nonton,” kenangnya.
"Meski dulu belum sepenuhnya memahami cerita yang dipentaskan, suasana dan bunyi-bunyian khasnya melekat dalam ingatan. Kini, puluhan tahun kemudian, saya kembali duduk sebagai penonton, namun kali ini dengan pemahaman dan refleksi yang lebih dalam," lanjut Stephanus.
Di atas panggung, lakon yang diangkat berkisah tentang seorang kaisar yang memanah burung hong, burung mitologis yang kerap dimaknai sebagai lambang kebajikan dan kemuliaan. Bagi Stephanus, kisah klasik semacam itu masih relevan dengan kehidupan masa kini.
“Sayang pada hewan itu menunjukkan seseorang punya empati,” katanya.
Namun, sebagai akademisi yang akrab dengan dinamika generasi muda, Stephanus menilai masih ada ruang pembaruan dalam pertunjukan wayang potehi, terutama ketika dipentaskan di ruang publik seperti mal.
"Kan bisa dengan menyapa penonton seperti lenong Betawi, misalnya. Di tengah suasana belanja menjelang Imlek, sapaan langsung kepada pengunjung bisa menjadi jembatan antara panggung dan audiens yang lalu-lalang," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penjelasan mengenai simbol-simbol dalam cerita. Menurutnya, tidak semua penonton memahami makna burung hong atau latar sejarah yang dibawakan.
“Tidak semua orang paham burung hong,” ujarnya. Tadi sempat melihat anak-anak bertanya-tanya tentang tokoh dan simbol yang muncul. Penerjemahan atau pengantar singkat menurut saya akan membantu generasi sekarang lebih terhubung dengan cerita," katanya.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi kehadiran wayang potehi di ruang publik seperti pusat perbelanjaan. Menurutnya, Jakarta Barat dengan populasi Tionghoa yang cukup besar memiliki kedekatan historis dan emosional dengan kesenian ini.
"Pertunjukan di mal membuka ruang bagi siapa pun, bukan hanya komunitas tertentu untuk menyaksikan dan mencocokkan kembali ingatan masa lalu dengan realitas hari ini," tegasnya.
Stephanus sendiri bukan penonton baru. Tahun ini saja, ia telah menyaksikan pertunjukan tersebut tiga kali.
"Ceritanya berbeda-beda, disesuaikan dengan konteks tahun, termasuk tema 'Kuda Api' yang diangkat dalang. Variasi lakon itulah yang membuat saya kembali datang, bukan hanya sekali," pungkasnya.
Terpopuler
1
Kemenag akan Gelar Sidang Isbat Ramadhan pada 17 Februari 2026 dengan Didahului Edukasi Pengamatan Hilal
2
Pemerintah Nonaktifkan 13,5 Juta Peserta PBI JKN, Mensos Gus Ipul: Dialihkan ke Warga Lebih Miskin
3
Menkeu Purbaya Heran Anggaran Kesehatan Naik Malah Berujung Penonaktifan PBI JKN
4
Khutbah Jumat: Jangan Kehilangan Arah di Tengah Derasnya Arus Kehidupan
5
Kasus Bunuh Diri Siswa SD Tunjukkan Ketidakberpihakan Negara terhadap Rakyat Kecil
6
Paripurna DPR Setujui 8 Calon Anggota Baznas Periode 2026-2031
Terkini
Lihat Semua