Pontianak, NU Online
Dalam rangka memperkuat pemahaman dalam pemanfaatan media, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Barat menerima kunjungan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kegiatan berlangsung di Sekertariat PWNU Kalbar, Jalan Veteran Pontianak, Senin (23/7).
Hadir pada kesempatan tersebut, Ubaidillah Sadewa (KPI), Wakil Sekretaris PWNU Kalbar, Zulkifli Abdillah, Ketua LPBINU Kota Pontianak Suryadi, dan pengurus IPNU-IPPNU Kalbar, LTN PWNU Kalbar, serta PMII IAIN Pontianak.
Zulkifli Abdillah menyambut baik kehadiran komisioner KPI untuk bersilaturahim dengan pengurus PWNU Kalbar dan Banom. Apalagi diisi dengan diskusi mengenai media penyiaran, serta peran dan tantangan nahdiyin.
“Dalam konteks Kalbar, kita memang belum punya media penyiaran sendiri baik berupa televisi maupun radio yang concern mensyiarkan dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.
Dalam pandangannya, ke depan memang perlu menghimpun segenap potensi nahdiyin khususnya di Kalbar untuk membuat media penyiaran sendiri milik NU. “Ini agar syiar NU di Kalbar tetap terjaga,” urainya.
Apalagi NU merupakan salah satu ujung tombak penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Tugas NU adalah mengamalkan nilai tawazun atau keseimbangan termasuk dalam hal dakwah di media penyiaran baik televisi maupun radio," ujar pria yang juga Sekretaris MUI Kalbar ini.
Ubaidillah Sadewa menyampaikan bahwa kewenangan KPI sebagai lembaga yang mengawasi media penyiaran diatur dalam UU no 32 tahun 2002 tentang penyiaran. “KPI bertugas mengawasi kepentingan masyarakat terkait lembaga penyiaran baik yang bersifat publik, swasta, komunitas maupun lembaga penyiaran langganan,” jelasnya.
Menurutnya, NU dengan masa yang berjumlah kurang lebih 90 juta jiwa di seluruh Indonesia punya potensi untuk menggarap media penyiaran khususnya media penyiaran komunitas dan media penyiaran berlangganan. “Melalui pesantren-pesantren di daerah, NU bisa menghadirkan media penyiaran komunitas,” ungkapnya. Begitu pula dengan media penyiaran berlangganan seperti tv kabel dan sebagainya. Karena di sana ada konten keagamaan yang bisa digarap NU, lanjutnya.
"Terkait media sosial, kita sebagai warga NU di semua tingkatan juga perlu ikut meramaikannya dengan konten Islam NU,” urainya.
Hal tersebut bisa dimulai dengan mendata dan membuat video dengan durasi singkat yang berisi ceramah singkat para kiai NU yang punya kualitas dan kapabilitas di bidangnya. Kemudian disebarkan melalui media sosial seperti Youtube dan Facebook. Begitu pula dengan quotes dan konten Islam Aswaja lainnya.
“Sudah saatnya nahdiyin memanfaatkan media sosial untuk kepentigan dakwah NU,” pungkasnya. (A Fauzi Muliji/Ibnu Nawawi)