Kunci Pecegahan Covid-19: Disiplin Melaksanakan Protokol Kesehatan
NU Online · Rabu, 11 November 2020 | 18:00 WIB
Aru Lego Triono
Kontributor
Jakarta, NU Online
Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Riskiyana Sukandhi Putra menyampaikan, Covid-19 bisa disembuhkan. Kuncinya adalah berdisiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan.
"Sifat Covid-19 ini adalah preventable disease (penyakit yang dapat dicegah). Namun, karena kurang disiplin sehingga virus ini dapat dengan mudah menjalar ke mana-mana dan menjadi fenomena yang fatalistik yang cukup berat," katanya pada Diskusi Online Gizi Seimbang untuk Meningkatkan Imunitas di Masa Pandemi Covid-19 bagi Santri, Rabu (11/10).
Ditegaskan bahwa Covid-19 memberikan dampak yang nyata bukan hanya pada aspek kesehatan tetapi juga masalah kemanusiaan dalam hal sosial-ekonomi. Lebih luas lagi, pandemi telah mengubah peradaban kehidupan manusia di dunia.
"Peradaban kita sudah berubah. Cara kita bergaul dan bekerja. Sekarang kita harus bergerak pada pola kerja yang tidak harus hadir di kantor, tapi bisa dikerjakan kapan saja dan di mana saja. Terpenting output-nya terukur," ungkapnya.
New normal atau tatanan kehidupan baru jangan dianggap sebagai kondisi normal yang seperti sebelum Covid-19. Melainkan kondisi normal yang tetap harus menaati protokol kesehatan. Harapannya dengan berdisiplin dengan menjalankan protokol kesehatan, berbagai aktivitas produktif bisa tetap dilakukan.
Sebelumnya Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Ahmad Helmy Faishal Zaini menyampaikan harapan agar para santri di pesantren dapat menjaga keseimbangan gizi agar imunitas tubuhnya kuat.
Selain itu santri juga harus tetap melakukan olahraga yang cukup agar santri dapat menghadapi pandemi Covid-19 ini dengan baik. Menurutnya jika melihat perkembangan dari beberapa pesantren yang santri-santrinya terkena Covid-19, rata-rata setelah dinyatakan selesai mereka baik-baik saja.
"Saya belum mendengar ada santri yang meninggal akibat Covid-19 di pesantren mana pun," tambahnya. Namun justru, kata Helmy, yang wafat karena Covid-19 adalah para pengasuh pesantren seperti kiai dan nyai yang sudah sepuh.
Oleh karena itu, ia menyarankan kepada para santri untuk tidak dulu sowan kepada para kiai dan nyai. "Kalau pun sowan hendaknya tidak cium tangan terlebih dulu untuk menghindari terjadinya penularan," kata Helmy.
Seminar Online tersebut terselenggara atas kerja sama yang dilakukan LKNU bersama VSI dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Promkes Kemenkes RI.
Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Meneladani Hidup Rasulullah di Masa Ekonomi Sulit
2
Khutbah Jumat: Sebelum Memilih dan Memutuskan, Bertanyalah kepada Allah melalui Istikharah
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gus Ipul: Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan Masih Sebatas Usulan
5
Menjaga Marwah Pemilihan Pengurus NU: Catatan dari Sowan kepada KH Afifuddin Muhajir
6
Pendaftaran Seleksi Beasiswa Al-Azhar Mesir Melalui Akun Pesantren, Berikut Panduannya
Terkini
Lihat Semua